Piala Dunia itu bukan cuma panggung buat pemain, tapi juga ajang unjuk gigi buat merek-merek apparel olahraga. Di antara semua nama besar, adidas termasuk yang paling lama dan paling konsisten menempel di turnamen ini, sampai akhirnya identitas Piala Dunia terasa sulit dipisahkan dari bola adidas itu sendiri.
Persaingan apparel olahraga di Piala Dunia berakar dari hubungan darah antara dua bersaudara asal Jerman: Adolf (Adi) dan Rudolf Dassler. Setelah pecah kongsi karena konflik pribadi, Adi mendirikan adidas, sementara Rudolf mendirikan PUMA. Sejak saat itu, Piala Dunia bukan cuma soal adu taktik antarnegara, tapi juga ajang pembuktian siapa yang paling inovatif di antara kedua "saudara" yang bermusuhan ini.
Titik balik adidas terjadi di Piala Dunia 1954. Jerman Barat yang tidak diunggulkan berhasil menjuarai turnamen dengan mengalahkan tim favorit, Hungaria. Rahasianya? Adi Dassler membawa terobosan sepatu dengan screw-in studs (pul bisa dilepas-pasang) yang memungkinkan pemain mencengkeram lapangan basah dengan sempurna.
Kemenangan bertajuk "Miracle of Bern" itu membuktikan bahwa sepatu bukan sekadar alas kaki, tapi senjata rahasia. Sejak itu, adidas mengunci dominasi mereka sebagai apparel pilihan banyak pemain dan pelatih, mengukuhkan posisi mereka sebagai pemain utama di panggung sepak bola dunia.
Jika sepatu adalah fondasi, bola adalah pusat perhatian. Pada Piala Dunia 1970, adidas mencetak sejarah besar dengan meluncurkan Telstar, bola resmi pertama FIFA yang ikonik dengan pola panel hitam-putih. Kenapa hitam-putih? Supaya terlihat jelas di siaran televisi yang saat itu masih hitam-putih!
Keputusan ini membuat adidas semakin tak tergoyahkan. Mereka bukan lagi sekadar penyedia sepatu, tapi mitra strategis FIFA. Hingga hari ini, setiap bola Piala Dunia pasti membawa teknologi dan estetika dari adidas.
Rivalitas adidas vs PUMA memuncak di Piala Dunia 1970. Keduanya sempat membuat "Pacto de Pelé" (janji untuk tidak mengontrak Pelé karena dianggap terlalu mahal). Namun, Puma melanggar janji itu secara diam-diam. Momen paling ikonik terjadi tepat sebelum kick-off pertandingan perempat final: Pelé meminta wasit berhenti sejenak agar ia bisa mengikat tali sepatu Puma King-nya. Kamera televisi menangkap momen dengan sempurna, dan penjualan PUMA melonjak drastis.
Inilah taktik "perang sepatu" PUMA dan adidas yang sangat rahasia. Pelé dibayar mahal hanya untuk momen 10 detik tersebut. Sebuah strategi pemasaran yang kemudian menjadi cetak biru bagi iklan ambush marketing di ajang olahraga. Di Piala Dunia 1974, Johan Cruyff juga tampil dengan kit PUMA khusus. Cerita duel dua bersaudara Adi dan Rudolf Dassler ini akhirnya jadi salah satu rivalitas paling legendaris di olahraga.
Setelah sekian lama didominasi perusahaan Jerman, di sela itu Nike datang sebagai "pengganggu" pada 1990-an. Berbeda dengan adidas yang mengandalkan tradisi, Nike masuk dengan strategi pop culture dan pemasaran agresif. Mereka tidak takut mendobrak pakem. Nike datang dari jalur yang berbeda: bukan sebagai pemegang bola resmi, melainkan sebagai mesin cerita dan budaya pop.
Dengan kampanye legendaris "Joga Bonito" dan fokus pada pemain bintang individu (seperti Ronaldo Luis Nazário da Lima), Nike mengubah cara kita memandang sepak bola. Mereka tidak cuma menjual produk, mereka menjual lifestyle dan emosi yang membuat anak muda di seluruh dunia ingin jadi bagian dari "swoosh".
Persaingan ini memicu inovasi gila-gilaan. Dari adidas yang terus menyempurnakan bola dengan teknologi sensor untuk VAR, hingga Nike yang menciptakan jersey berbahan plastik daur ulang yang super ringan. Kompetisi ini memaksa mereka untuk selalu menjadi yang terdepan.
Bukan cuma soal produk, mereka juga bertarung lewat iklan. Adidas sering mengedepankan nilai "Impossible is Nothing" dan sejarah, sementara Nike jago menciptakan narasi yang emosional dan penuh aksi. Bagi kita sebagai penonton, persaingan ini adalah berkah karena kita selalu disuguhi teknologi terbaik!
Di era modern, Nike makin agresif menggabungkan performa dan kultur. Mereka membangun kampanye ikonik seperti Secret Tournament yang kemudian bahkan disebut sebagai inspirasi untuk proyek Nike berikutnya, lalu Footballverse pada 2022 dan What The Football pada 2023 yang menyorot momentum sepak bola wanita. Intinya, Nike menjual rasa, energi, dan imajinasi, bukan cuma produk.
Phantom Luna dirancang khusus untuk kebutuhan pemain perempuan, Mercurial Vapor 17 dibangun untuk kecepatan eksplosif, dan Toma el Juego membawa sepak bola jalanan, komunitas lokal, serta streetwear ke panggung yang lebih luas. Menjelang Piala Dunia 2026, Nike juga mengangkat Rip the Script sebagai seruan untuk bermain lebih berani, lebih kreatif, dan lebih instingtif.

Adidas, selaku partner resmi penyedia bola Piala Dunia, pun tak melulu terfokus pada persangan jersey dan sepatu. Adidas juga menang di ranah teknologi bola. Al Rihla dan Al Hilm di 2022 membawa Connected Ball technology yang membantu wasit membuat keputusan lebih cepat dan akurat. Untuk 2026, adidas kembali memimpin lewat TRIONDA, bola resmi yang menegaskan bahwa di Piala Dunia, mereka masih sangat jauh dari selesai.
Pada akhirnya, Piala Dunia terus berwarna dengan menghadirkan dinamika persaingan tiga apparel ternama itu. Adidas membangun otoritas lewat bola resmi, PUMA membangun kebanggaan lewat identitas dan tim, lalu Nike membangun panggung lewat narasi, emosi, dan budaya pop. Jadi, di Piala Dunia kali ini, kamu ada di tim mana: Tiga Garis, Kucing Lompat, atau Centang?
