Terhitung sejak diperkenalkan ke publik pada 13 Januari 2026, John Herdman sah menduduki posisi sebagai pelatih timnas Indonesia. Pria berkebangsaan Inggris itu ditunjuk Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) setelah Patrick Kluivert dkk gagal membawa Skuad Garuda lolos ke Piala Dunia 2026.
Layaknya Ikarus yang jatuh ke laut setelah terbang mendekati matahari, moral dukungan untuk timnas Indonesia mengalami penurunan drastis pascakekalahan melawan Arab Saudi dan Irak pada akhir 2025 lalu. Alhasil, ekspektasi dan tekanan besar mesti dipikul oleh Herdman dalam menjalankan petualangan barunya di negeri zamrud khatulistiwa.
Jika melihat pada jumlah tim yang dilatih sebelum timnas Indonesia, CV Herdman yang hanya pernah menukangi empat tim (tiga tim nasional dan satu klub) tidak jauh berbeda dengan Kluivert. Nama kedua pun hanya pernah menjadi kepala pelatih untuk timnas Curacao dan klub Adana Demirspor (Turki) sebelum datang ke Indonesia.
Namun, apabila kita membaca rekam jejaknya secara lengkap, Herdman bukanlah pelatih yang biasa-biasa saja. Ia menciptakan sejarah dengan meloloskan timnas putri Selandia Baru dan timnas putra Kanada ke Piala Dunia, masing-masing pada 2011 dan 2022. Selain itu, ia juga mempersembahkan medali perunggu untuk timnas putri Kanada dalam dua edisi berturut-turut, yaitu pada Olimpiade London 2012 serta Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Oleh sebab itu, reputasi Herdman sebagai pelatih tidak bisa dipandang remeh.
Ibarat permainan Tic-Tac-Toe, arah langkah kesuksesan timnas Indonesia di bawah Herdman tidak bisa dibangun dari hasil pertandingan. Dengan membaca latar belakang perjalanan kariernya di Kanada, kunci kesuksesan Herdman terletak pada tahap-tahap yang berkelanjutan dan berkesinambungan serta bermuara pada tujuan terbentuknya ekosistem persepakbolaan yang baik, sehingga menghasilkan timnas yang kuat.
Tic: Kekuatan John Herdman
Seperti yang disebutkan sebelumnya, Herdman bukan pelatih biasa; Ia adalah satu-satunya yang mampu meloloskan timnas pria dan wanita ke Piala Dunia. Rekam jejak tersebut memberi bukti bahwa Herdman adalah seorang komunikator yang baik. Perbedaan pendekatan dalam melatih tim pria dan tim wanita mampu diatasi oleh Herdman tanpa kesulitan berarti. Gaya komunikasi Herdman yang langsung, terbuka dan penuh semangat menjadi kekuatan terbesarnya dalam mengubah kebiasaan dan pola pikir para pemain timnas putra Kanada dari yang sebelumnya terpecah belah menjadi sebuah persaudaraan utuh.
Selama kepemimpinan Herdman, Kanada berhasil meraih pencapaian terbaiknya dengan menjalani 17 laga tanpa kekalahan (unbeaten), kenaikan ranking FIFA dari 72 ke 40, mencapai semifinal CONCACAF Gold Cup 2021, finalis CONCACAF Nations League 2023, serta memuncaki grup kualifikasi Piala Dunia 2022 untuk wilayah Amerika Utara, Tengah dan Karibia sekaligus membuat Kanada lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1986.
Selain kecerdasan emosional, Herdman adalah seorang pelatih yang kaya taktik. Menurut pemain bintang Kanada Alphonso Davies, Herdman mempunyai banyak taktik untuk setiap pertandingan. Hal ini tidak berlebihan mengingat formasi yang digunakan Herdman di Kanada berubah-ubah dari 4-3-3, 3-4-3, sampai 4-4-2.
Karakter permainan Herdman lebih menekankan intensitas serangan (ofensif) serta penguasaan bola, walau saat melawan tim kuat seperti Meksiko dan Amerika Serikat ia menggunakan taktik bertahan (defensif) dan mengandalkan serangan balik (counter attack). Di luar lapangan, sisi kompetitif yang menjadi ciri khas Herdman membuatnya sempat dikaitkan dengan kasus mata-mata menggunakan drone yang dilakukan timnas Kanada pada Copa America dan Olimpiade Paris 2024, meskipun tuduhan tersebut tidak terbukti.
Tac: Kesiapan Sistem Persepakbolaan Indonesia
Sudah menjadi rahasia umum bahwa sistem persepakbolaan Indonesia mempunyai struktur yang kacau dan reputasi yang buruk. Kondisi ini masih menjadi tugas berat bagi PSSI dan masyarakat sepak bola Indonesia secara umum. Ketiadaan sistem persepakbolaan yang baik membuat timnas hanya menjadi samsak kekecewaan suporter sekaligus menjadi kelinci percobaan orang-orang penting yang ingin menaikkan namanya di muka publik lewat sepak bola.
Akibatnya, konsentrasi masyarakat pada pembangunan sistem persepakbolaan Indonesia menjadi kabur, bahkan sampai dikatakan tidak ada harapan (hopeless). Padahal, sistem persepakbolaan yang baik dan teratur merupakan fondasi bagi timnas yang kuat.
Untuk menutupi buruknya pembinaan dan pembangunan sistem persepakbolaan Indonesia, pemilihan pemain yang berkembang dari sistem persepakbolaan luar negeri, baik dengan jalur kewarganegaraan ganda maupun naturalisasi, seringkali digunakan sebagai solusi sementara.
Tanpa mengurangi rasa hormat kepada mereka yang telah bersedia membela Merah Putih di kancah sepak bola internasional, jurus ini tidak dapat digunakan sebagai penambal secara terus menerus. Apalagi, mayoritas pemain yang direkrut saat ini merupakan diaspora generasi ketiga, tepat pada batas yang diizinkan FIFA. Oleh karena itu, sudah seharusnya negara sebesar Indonesia menyiapkan talenta-talenta mudanya dengan lebih baik sejak usia dini untuk menjadi penggerak Timnas di masa depan.
Toe: Kombinasi Strategis, Sistematis, dan Sinergis
Menilik rekam jejaknya di Kanada, John Herdman tidak hanya berusaha memajukan timnasnya, pun membangun iklim sepak bola baru yang segar dan modern. Komite Sepak bola Kanada serta beberapa pandit dan media internasional menyebut Herdman sebagai sosok yang mengubah lanskap sepak bola di negara tersebut pada 2010-an. Selain kesuksesannya bersama The Canucks, salah satu kontribusi Herdman yang paling nyata adalah mendorong adanya liga wanita profesional Kanada lewat anak didiknya, Diana Matheson, yang merealisasikan melalui Northern Super League.
Hal ini menunjukkan bahwa Herdman dapat menjadi katalisator untuk perubahan sepak bola Indonesia seperti yang pernah dilakukan oleh Luis Milla dan Shin Tae Yong. Asalkan, PSSI secara khusus dan masyarakat Indonesia secara umum mau memanfaatkannya dengan baik untuk sama-sama belajar dan bahu-membahu meningkatkan kualitas dan ketajaman pembangunan sistem persepakbolaan Indonesia.
Tidak seperti beberapa tahun sebelumnya, saat ini PSSI telah memiliki Direktur Teknik (Dirtek) sendiri, yakni Alexander Zwiers yang telah malang-melintang di dunia pengembangan sepak bola. Diharapkan, kombinasi Zwiers dan Herdman ditambah sinergi PSSI dapat menghasilkan cetak biru pengembangan sepak bola Indonesia di masa depan, baik dari akar rumput, pembinaan usia dini, serta profesionalitas secara sistematis dan berkesinambungan yang bermuara pada kesuksesan timnas.
Penulis: Gilang Herswanda @m.gumilng (Instagram)
