Pergantian pelatih timnas Indonesia dari Patrick Kluivert ke John Herdman menandai awal fase baru yang sarat ambisi. CV yang mentereng hingga rekam jejak di level internasional, terutama keberhasilannya membangun timnas Kanada dari negara pelengkap hingga menjadi peserta Piala Dunia 2022, membuat ekspektasi publik meninggi.
Beban tersebut semakin terasa karena Herdman datang tidak sendirian, melainkan bersama staf kepelatihan dengan latar belakang akademik dan profesional yang kuat, termasuk sosok bergelar doktor di bidang kepelatihan fisik. Secara simbolik, ini menunjukkan keseriusan PSSI membangun Timnas dengan pendekatan yang lebih ilmiah dan terstruktur.
Namun, pertanyaan mendasar tetap mengemuka: apakah "tangan dingin" Herdman akan benar-benar bekerja efektif dalam konteks sepak bola Indonesia yang unik, dari kultur kompetisi, tekanan publik, hingga dinamika pemain diaspora dan lokal? Jawaban atas pertanyaan ini tentu tidak instan. Dalam waktu dekat, Timnas Indonesia racikan Herdman akan menjalani dua agenda penting: FIFA Series dan Piala AFF, yang akan menjadi bab pembuka dari proses panjang yang sedang dimulai.
Dua Agenda Timnas Terdekat
FIFA Series tidak semestinya diposisikan sebagai panggung pembuktian hasil. Ajang ini lebih tepat dibaca sebagai ruang observasi bagi Herdman untuk memetakan kapasitas timnya. Lawan-lawan dari luar zona Asia seperti Bulgaria (UEFA), Kepulauan Solomon (OFC), dan Saint Kitts & Nevis (CONCACAF), menghadirkan karakter permainan yang berbeda. Variasi ini memberi Herdman kesempatan mengevaluasi fleksibilitas taktik, membaca respons pemain terhadap tekanan, serta menguji opsi-opsi rotasi tanpa beban target jangka pendek.
Sebaliknya, Piala AFF pada Juli 2026 justru berpotensi menjadi turning point. Meski sering dipandang sebelah mata dari sisi prestise, turnamen ini menyediakan konteks regional yang akrab sekaligus menuntut. Di sinilah kohesi tim, kedalaman skuad, dan efektivitas pendekatan Herdman akan diuji secara lebih konkret. Lebih dari itu, Piala AFF juga menjadi ruang simbolik: ajang untuk mematahkan “kutukan” timnas Indonesia yang kerap gagal di titik akhir. Bagi Herdman, keberhasilan atau kegagalan di Piala AFF akan membentuk persepsi publik terhadap proyek yang sedang ia bangun.
Taktik dan Pendekatan John Herdman
Secara taktikal, Herdman dikenal mengandalkan skema tiga bek yang adaptif dan fleksibel, sebuah pendekatan yang memungkinkannya mengubah struktur permainan sesuai situasi. Pola ini tidak sepenuhnya asing bagi Timnas Indonesia, mengingat Shin Tae-yong juga kerap menerapkannya. Namun, perbedaan utama terletak pada intensi: Herdman cenderung lebih direct, mengandalkan progresi bola cepat, eksploitasi sayap, dan transisi agresif.
Dalam fase build-up, penggunaan umpan panjang dan transisi cepat yang ia terapkan di Timnas Kanada mengingatkan pada pendekatan Shin Tae-yong, khususnya saat Indonesia menghadapi Arab Saudi pada ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Dengan atribut pemain yang dimiliki saat ini, terutama pada sektor penyerang sayap pendekatan Herdman berpotensi menemukan relevansinya
Di luar aspek teknis, kekuatan terbesar Herdman terletak pada kemampuannya membangun mentalitas. Ia dikenal sebagai motivator ulung yang piawai mengelola ruang ganti. Keberhasilannya bersama Timnas Kanada, baik putra maupun putri, menunjukkan bagaimana ia mampu mengikis rasa inferior dan menanamkan keberanian bersaing. Prinsip "be good, day by day" yang kerap ia gaungkan bukan sekadar slogan, melainkan fondasi psikologis yang mendorong pemain untuk melampaui batas mereka sendiri.
Risiko Herdman Gagal
Namun, optimisme tersebut perlu diimbangi dengan sikap realistis. Herdman bukan tanpa catatan. Pengalamannya bersama Toronto FC di MLS menunjukkan bahwa pendekatan motivasional tidak selalu berjalan mulus di level klub, terutama ketika ekspektasi tinggi tidak diiringi hasil cepat.
Risiko terbesar Herdman di Indonesia adalah kegagalan beradaptasi dengan kompleksitas ekosistem sepak bola nasional dari tekanan suporter, tuntutan instan publik, hingga keterbatasan kompetisi domestik dalam menjaga kontinuitas performa pemain. Jika proses ini tidak dikelola dengan komunikasi yang tepat, Herdman berpotensi terjebak dalam labirin yang sama: pelatih dengan visi besar yang kehabisan waktu sebelum visinya matang.
Investasi Berkelanjutan dan Modal Sepak Bola Indonesia
Menariknya, Herdman juga terlibat langsung dalam menangani timnas U-23 Indonesia. Keterlibatan ini membuka peluang kesinambungan filosofi bermain dan pembinaan, sebuah pendekatan yang sebelumnya juga dijalankan pada era Shin Tae-yong. Jika dimaksimalkan, kesinambungan ini dapat memperkuat fondasi grassroot sepak bola Indonesia, baik dari sisi identitas bermain maupun mental bertanding.
Optimisme tersebut turut ditopang oleh perkembangan liga domestik. Dalam dua musim terakhir, kualitas kompetisi Indonesia mulai mendapat pengakuan dari pemain asing, terutama dari sisi atmosfer, intensitas, dan potensi pemain lokal. Meski demikian, persoalan minimnya menit bermain pemain lokal di klub-klub besar tetap menjadi pekerjaan rumah. Kehadiran Herdman yang aktif memantau liga domestik diharapkan mampu menghadirkan proses seleksi yang lebih objektif dan berbasis performa.
Menebak Dampak terhadap Timnas Indonesia
Melihat rekam jejak dan pendekatannya, dampak Herdman kemungkinan terasa relatif cepat, terutama dalam aspek mental dan struktur permainan. Keputusan untuk memoles sistem yang telah ada alih-alih membongkarnya secara total menjadi pilihan realistis di fase awal. Sistem tiga bek yang sebelumnya membawa Indonesia hingga ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 dapat menjadi fondasi yang dilanjutkan, bukan diulang dari nol.
Tuturan motivasional Herdman berpotensi memberi pengaruh signifikan terhadap mentalitas pemain tmnas Indonesia. Dalam sepak bola modern, keunggulan taktikal tidak selalu berbanding lurus dengan hasil. Memenangkan ruang ganti kerap menjadi faktor penentu. Banyak pelatih kaya taktik gagal karena kehilangan kepercayaan pemain. Sementara, pelatih dengan pendekatan sederhana justru sukses berkat kepemimpinan dan kemampuan membangun keyakinan kolektif. Herdman tentunya memahami betul dimensi ini.
Keterlibatannya dalam menangani timnas U-23 semakin memperkuat pendekatan tersebut. Kehadiran Herdman di level usia muda membuka ruang pembentukan mentalitas sejak dini, terutama membenahi mentalitas para pemain lokal bukan semata mengejar hasil instan. Keyakinan bahwa Indonesia mampu bersaing dan mengalahkan siapa pun menjadi fondasi psikologis yang dapat dibangun secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, keberhasilan Herdman mungkin tidak sepenuhnya diukur dari hasil instan, melainkan dari arah yang ia bangun. Dalam sepak bola modern, memenangkan ruang ganti sering kali sama pentingnya dengan menyusun taktik. Jika Herdman mampu menanamkan keyakinan bahwa Indonesia bukan lagi tim penggembira, maka AFF bisa menjadi titik balik, bukan sekadar turnamen tahunan.
Meskipun John Herdman didatangkan dengan pengalaman segudang. Ia bukanlah pesulap. Kegagalan di masa lalu mengajarkan kita untuk menjaga ekspektasi. Namun, jika motivasi dan taktiknya benar-benar bekerja secara simultan di atas lapangan, maka slogan konferensi pers perdananya akan menjadi nyata: “It’s time for Indonesia”. Bagi Indonesia, sudah seharusnya piala AFF kali ini menjadi peluang emas mematahkan trauma kolektif yang selama ini membayangi Garuda, lalu dapat lantang berbicara di Piala Asia dan Kualifikasi Piala Dunia 2030.
Penulis: Riro Adnan Saputro (@Riroadnans)
