Kompetisi Super League 2025/2026 musim ini berjalan dengan sangat ketat dan sengit, khususnya di posisi empat besar. Ada Persib Bandung, Persija Jakarta, Borneo FC, dan Malut United, yang terus saling sikut memperebutkan posisi teratas di klasemen akhir.
Putaran pertama ditutup oleh Persib sebagai juara separuh musim dengan keunggulan empat poin dari Malut United yang menduduki posisi keempat. Sejak akhir putaran pertama itu, sepertinya kejar-kejaran di posisi empat besar akan jadi pemandangan lazim pada paruh kedua. Terlebih jarak antara keempat tim sangatlah rapat.
Meski bertekad mencatatkan hat-trick juara, langkah Persib untuk meraih gelar ketiga secara beruntun akan sangat berat. Terutama jika melihat performa ketiga pesaing terdekatnya. Secara statistik Maung Bandung unggul dalam hal pertahanan. Namun, tim besutan Bojan Hodak tertinggal dari tiga pesaingnya jika dilihat dari catatan produktivitas.
Tentunya itu bakal jadi catatan tersendiri untuk tim pelatih Persib, agar bisa terus menjaga persaingan di papan atas klasemen. Selain itu, Persib pun terlihat cukup pasif dalam belanja pemain di bursa transfer paruh musim ini jika dibandingkan dengan tiga pesaing terdekatnya.
Klub kecintaan para Bobotoh itu hanya mendatangkan tiga pemain yakni Lavyin Kurzawa, Dion Markx, dan Sergio Castel. Dua pemain bertahan dan satu penyerang. Pertanyaannya, kenapa Persib masih menambah amunisi di belakang? Padahal, pertahanan mereka sudah sangat kokoh musim ini dengan hanya kebobolan 11 gol hingga pekan ke-19.
Sementara itu, para pesaing Persib terbilang cukup aktif di jendela transfer paruh musim ini. Persija, klub berjuluk Macan Kemayoran tersebut cukup aktif usai mendatangkan pemain pemain seperti Jean Mota, Fajar Faturrahman, Shayne Pattynama, Mauro Ziljstra, Cyrus Margono, Paolo Ricardo, hingga Alaeddine Ajaraie.
Sementara itu pesaing terdekat Persib, Borneo FC, pun menambah amunisi untuk menghadapi putaran kedua. Mereka mendatangkan pemain-pemain seperti Marcos Astina, Kaio Nunes, Koldo Obieta, Mohammad Anez, Cleyton, Mohammad Khanafi, dan Ardi Idrus.
Lalu ada Malut United, yang meski hanya mendatangkan satu pemain asing baru, Lucas Cardoso, secara kedalaman skuad sudah cukup untuk bersaing di Super League. Jelas berbeda dengan Persib yang sempat masih harus bertarung di AFC Champions League 2 (ACL Two).
Kembali Hanya Fokus di Kompetisi Domestik
Sebelum gugur di tangan Ratchaburi FC, Marc Klok dan kawan-kawan memang harus menghadapi jadwal pertandingan yang padat. Alasan jadwal padat pula yang membuat mereka sudah tiga kali menelan kekalahan, salah satunya saat bertamu ke Malut United. Masalah kebugaran jadi alasan utama skuad Maung Bandung tampil melempem di laga tersebut. Sebab, beberapa hari sebelumnya mereka bertanding melawan Bangkok United dalam penentuan fase grup ACL 2.
Setelah mengunci tiket ke babak 16 besar ACL Two, Persib pun harus memutar otak untuk mengatur jadwal padat memasuki putaran kedua. Situasi itu sempat dianggap sebagai batu sandungan bagi misi Persib kembali menjadi juara Apalagi, tiga pesaingnya hanya fokus di kompetisi domestik. Jarak tempuh pun jadi cobaan yang harus dilalui oleh Persib.
Sial bagi Persib, asa untuk terus melaju di dua kompetisi harus kandas Mereka takluk dari Ratchaburi FC dengan kekalahan agregat 1-3. Mirisnya, Persib padahal sudah menyesuaikan jadwal di Super League. Pertandingan tandang melawan Borneo, yang sedianya 16 Februari, diundur menjadi 15 Maret, demi memberi waktu rehat di antara dua laga di ACL Two.
Namun, pada akhirnya Persib hanya menyiaskan fokus di Super League. Kondisi itu dianggap menguntungkan dalam misi mereka meraih hat-trick juara. Namun, perjuangan pada sisa musim ini dipastikan akan terasa berat. Sebab seluruh peserta Super League, khususnya di persaingan empat besar, tentu juga akan mati-matian untuk menghentikan determinasi Maung Bandung.
Karenanya, menarik menunggu apakah Persib bisa mencatatkan hat-trick juara atau justru harus merelakan trofi jatuh ke pelukan tim lain.
Penulis: Filza Fitriadhi (@filzafitriadhi)
