Rahasia AS Roma Tampil Begitu Mengerikan

Rahasia AS Roma Tampil Begitu Mengerikan
Font size:

Ada yang berbeda dari AS Roma pada awal musim 2026/27. Lima pertandingan Serie A menghasilkan empat kemenangan dan satu seri, 14 gol, hanya tiga kebobolan, serta posisi puncak klasemen dengan 13 poin, unggul selisih gol dari Inter Milan dan Lazio. Setelah menang 4-0 atas Fiorentina, 4-0 atas Lecce, 2-1 atas Atalanta, dan 2-0 di markas Torino, Roma baru kehilangan poin ketika keunggulan 2-0 bisa di-comeback Inter menjadi 2-2 di Stadio Olimpico.

Menariknya, performa itu bukan muncul dari ruang hampa. Musim lalu, pertama kali Gian Piero Gasperini tiba sebagai juru taktik Roma, mereka finis ketiga dengan 73 poin setelah sebelumnya finis kelima dengan 69 poin pada 2024/25. Sekarang, Roma memasuki musim kedua Gasperini dengan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar hasil: sistem yang mulai menjadi kebiasaan.

Dampak Gasperini bukan cuma mengganti formasi dan gaya bermain. Ia membawa standar kerja yang lebih keras, tuntutan fisik yang lebih tinggi, sekaligus budaya bahwa pemain harus siap memainkan banyak fungsi. Mario Hermoso mengatakan, sejak awal Gasperini menanamkan mentalitas untuk menjadi tim yang berani mendikte permainan dan percaya bahwa Roma mampu bermain selevel dengan siapa pun.

Di ruang ganti pun ia mencoba menghilangkan sekat pemain inti dan cadangan. Gasperini berulang kali mengatakan tidak ingin membangun hierarki kaku. Pemain yang lebih siap secara fisik akan bermain, sementara pemain muda seperti Nicolo Pisilli, Emanuele Lulli, Daniele Ghilardi, hingga Rodrigo Mora terus dikembangkan. Bahkan pergantian pemain digunakan sebagai bagian dari manajemen energi, bukan sekadar respons taktis.

Secara teknis, Roma kini sangat jelas. Dasarnya 3-4-2-1, tiga bek memberi fondasi, wing-back membuka lapangan, dua gelandang menjadi mesin keseimbangan sekaligus penetrasi, sementara dua pemain di belakang striker bergerak mencari celah di antara lini. Dalam struktur ini, posisi bukan tempat berdiri, tetapi titik awal untuk bergerak.

Pola paling menarik muncul di sisi sayap. Bek tengah, wing-back, dan gelandang serang membentuk segitiga, salah satunya bisa melebar, menusuk, atau menarik lawan keluar. Di tengah, Hermoso dan Bryan Cristante kerap mencari Paulo Dybala di antara lini. Llalu Dybala memutar badan dan mengirim Donyell Malen berlari ke ruang belakang. Di saat bersamaan, Manu Koné, Cristante, atau bek sisi berlawanan ikut masuk kotak penalti.

Secara statistik, penurunan Dybala dalam dua musim sebelumnya sangat terlihat. Ia mencetak 13 gol Serie A pada 2023/24, turun menjadi enam pada 2024/25, lalu hanya dua pada 2025/26. Dua musim terakhir memang jadi mimpi buruk bagi Dybala. Cedera hamstring parah pada Maret 2025, lalu operasi meniskus setahu kemudian, yang membuatnya gagal masuk skuad Piala Dunia 2026 bersama Argentina. Namun, Roma tetap meanruh kepercayaan degan kontrak hingga 2027.

Seiring kondisinya yang semakin bugar, musim ini ia kembali menjadi pusat kreativitas. Empat assist dalam lima laga Serie A. Ini mungkin perubahan paling penting. Gasperini menempatkan Dybala sebagai playmaker kanan yang bebas masuk ke half-space, menerima bola antarlini, lalu menentukan ke mana serangan berikutnya bergerak. Saat melawan Fiorentina, tiga assist Dybala semuanya diberikan kepada Malen. Efektivitasnya sekarang bisa diukur dari bagaimana ia membuat pemain lain menjadi lebih berbahaya.

Malen menjadi penerima manfaat paling langsung. Lima laga Serie A menghasilkan enam gol, semuanya dari dalam kotak penalti, dan ia menjadi top skor sementara Serie A. Kecepatannya menyerang ruang di belakang garis pertahanan memberi Roma dimensi vertikal yang sebelumnya tidak selalu konsisten. Chemistry-nya dengan Dybala membuat pertahanan lawan sulit menentukan siapa yang harus diikuti.

Namun Roma tidak hanya hidup dari duet itu. Koné mencetak dua gol dalam satu babak ketika melawan Inter, Matias Soulé sudah mencatat dua gol dan satu assist di Serie A, Pisilli terus menjadi alternatif penting, sementara Mile Svilar menjaga tiga clean sheet dalam lima pertandingan. Artinya, struktur Gasperini mulai membuat kontribusi datang dari berbagai jalur: striker, gelandang, pemain muda, sampai kiper.

Di atas kertas, kualitas inti Roma memang meningkat. Deretan pemain baru masuk. Nahuel Molina memberi pengalaman internasional, Leonardo Balerdi menambah agresivitas dan kedalaman di lini belakang, Kosntantinos Koulierakis memberi opsi bek muda dengan profil berbeda, Maarten De Roon menambahkan pengalaman dan kekuatan fisik di tengah, sementara Santiago Castro memberi alternatif di lini depan. Malen bahkan dipermanenkan sampai 2030 setelah mencetak 15 gol dalam 20 penampilan pada paruh kedua musim lalu.

Tetapi untuk perebutan Scudetto, ukuran skuad bukan sekadar jumlah pemain. Masalah sebenarnya adalah apakah kualitas pengganti mampu menjaga mekanisme yang sama ketika jadwal mulai padat. Gasperini sendiri menyebut kebutuhan untuk terus mengembangkan seluruh pemain karena Roma menghadapi musim yang jauh lebih berat. Sementara, sisi kiri serangan sempat ia identifikasi sebagai area yang masih membutuhkan tambahan.

Empat kemenangan pertama bisa membuat Roma terlihat nyaris tanpa cela. Lalu datang Inter. Roma memimpin 2-0 lewat dua gol Koné setelah tampil sangat agresif pada babak pertama, tetapi Inter membalas dua gol melalui Lautaro Martínez pada babak kedua. Roma bahkan mengalami perubahan struktur pertahanan karena faktor kelelahan, dan Gasperini mengakui timnya harus melakukan beberapa pergantian di belakang.

Di sinilah satu pertanyaan besar mulai muncul. Bukan apakah Roma bisa bermain hebat selama 45 atau 70 menit, tapi apa mereka mampu mempertahankan intensitas itu sepanjang laga dan sepanjang musim. Melawan Atalanta, Roma membutuhkan gol pada menit ke-90 dan ke-93 setelah menciptakan tekanan luar biasa. Melawan Inter, mereka kehilangan kendali atas laga yang sempat berada dalam genggaman. Dua pertandingan itu memberikan gambaran bahwa margin kesalahan masih ada.

Roma sekarang memasuki wilayah musim yang jauh lebih berat. Mereka bukan cuma memainkan Serie A dan Coppa Italia, tetapi juga Liga Champions. Real Madrid, Manchester United, Paris Saint-Germain, Sporting CP, serta Slovan Bratislava, Lille, Fenerbahçe, dan AEK Athens sudah berada di jadwal. Setelah jeda internasional, pada Oktober mereka bahkan harus menghadapi Como, Genoa, Napoli, Cagliari, dan Udinese dalam rangkaian yang berdekatan dengan pertandingan Eropa.

Sinyal pertama mengenai beban fisik sudah muncul. Setelah laga Inter, laporan terbaru menyebut Malen, Wesley, dan Cristante mengalami masalah otot sehingga tetap berada di Trigoria selama jeda internasional. Belum ada dasar untuk menyebutnya sebagai krisis cedera, tetapi bagi tim yang mengandalkan intensitas Gasperini, kesehatan pemain dan kualitas rotasi akan menjadi faktor yang sama pentingnya dengan taktik.

Secara matematis, Roma sudah berada dalam percaturan Scudetto. Namun, lima pertandingan belum cukup untuk mengubah status start impresif menjadi kesimpulan tentang siapa yang akan bertahan sampai Mei. Bahkan, hasil 2-2 melawan Inter menunjukkan bahwa Roma masih harus menjawab pertanyaan tentang konsistensi ketika lawan mampu menaikkan level permainan.

Roma tampak menarik justru bukan karena mereka sudah sempurna, melainkan karena fondasinya mulai terlihat. Identitas Gasperini sudah melekat, Dybala menemukan fungsi kreativitasnya lagi, Malen memberi ancaman vertikal, lini belakang lebih agresif, dan pemain muda mulai masuk ke dalam sistem. Tantangannya sekarang sederhana tetapi brutal, bisakah semua itu tetap bekerja maksimal ketika musim mulai menuntut Roma bermain tiga hari sekali, pemain inti cedera, dan lawan sudah menemukan cara untuk menghadapi mereka? Jawabannya baru akan terlihat setelah fase panjang musim benar-benar dimulai.

Pengurangan Poin dan Ironi Penegakan Regulasi Liga
Artikel sebelumnya Pengurangan Poin dan Ironi Penegakan Regulasi Liga
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait