Siapa yang Bertanggung Jawab atas Hasil Negatif Persebaya?

Siapa yang Bertanggung Jawab atas Hasil Negatif Persebaya?
Font size:

Sebagai disclaimer, tulisan ini mungkin akan terasa tidak populis dan tidak mewakili kegelisahan sebagian besar kalangan Bonek. Walau demikian, ada keresahan tersendiri dari penulis yang perlu untuk tetap dituangkan. Jadi, jika Anda merasa bahwa jalur instan dengan memecat pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, adalah jalan keluar dalam waktu dekat, silakan meluangkan waktu untuk mencari bacaan lain. Namun, jika Anda tetap keukeuh membaca tulisan ini, silakan diresapi hingga akhir.

Sejak haknya kembali dipulihkan untuk berkompetisi di kancah sepak bola nasional, Persebaya memiliki satu siklus yang tak pernah hilang. Ekspektasi besar diletakkan pada pelatih dan pemain baru, lalu dikecewakan di tengah jalan, memecat juru taktik tersebut, mendatangkan nama baru, kembali tampil baik untuk memuaskan suporter, dan begitu memasuki musim kompetisi berikutnya, klub kembali gagap. Siklus ini berulang terus tanpa henti.

Kondisi ini seolah membenarkan premis salah satu tokoh utama dalam serial HBO rilisan 2014, True Detective. Rust Cohle, seorang nihilist, menyatakan bahwa manusia terjebak dalam perangkap waktu. Karena alam semesta tak terbatas sementara kesadaran manusia terbatas, kita terus mengulang pilihan, kesalahan, penderitaan, dan peristiwa yang sama berulang kali tanpa sadar.

Begitu pula Persebaya yang seperti terus mengulang kesalahan yang sama. Apakah tanpa sadar? Mungkin tidak. Ketika gejala siklus ini mulai berulang, banyak Bonek yang sebenarnya sadar. Namun, ketika ekspektasi membuncah di awal musim bersama pelatih baru yang kebetulan sukses membawa tim tampil garang di sisa musim sebelumnya, kesadaran itu seolah direduksi oleh kemenangan demi kemenangan.

Mari kita ingat kembali keterulangan siklus ini. Saat Persebaya baru saja membentuk tim usai diakui kembali oleh federasi, almarhum Iwan Setiawan, terlepas dari jejak kontroversinya sukses merajut barisan pemain yang akhirnya menjadi legenda klub seperti M. Hidayat dan Irfan Jaya. Apa daya, ia harus terdepak di tengah jalan.

Alfredo Vera kemudian datang. Hari pertama di Surabaya, ia langsung menyambangi Lapangan Karanggayam yang legendaris, menemui beberapa Bonek, dan menyaksikan jalannya liga internal. Hasilnya? Boom! Green Force juara Liga 2 2017 dan langsung promosi ke kasta tertinggi. Namun, apa yang terjadi setelah itu? Tekanan dan ekspektasi yang masif membuat Alfredo Vera akhirnya mundur usai pekan ke-18, menyusul rentetan hasil buruk termasuk kekalahan dari Perseru.

Almarhum Bejo Sugiantoro sempat menjadi caretaker sebelum manajemen menunjuk Djajang Nurdjaman (Djanur). Setelah 41 pertandingan bersama Djanur, Persebaya memecatnya pada pekan ke-13 Liga 1 2019 menyusul hasil imbang 2-2 di kandang saat menjamu Madura United. Rentetan hasil minor menjadi vonis pemecatan, padahal sebelumnya dalam 14 pertandingan, Persebaya sempat mencatatkan sembilan kemenangan.

Wolfgang Pikal, Aji Santoso, Josep Gombau, Paul Munster, hingga Edu Perez; semuanya menghadapi masalah yang identik dengan durasi kepemimpinan yang bervariasi. Aji Santoso menjadi yang paling lama dengan hampir empat tahun menangani klub yang juga pernah ia bela sebagai pemain tersebut. Hingga akhirnya, kekalahan dari PS Tira Persikabo pada pekan keempat Liga 1 2023/24 mengakhiri kisahnya. Penulis tentu tidak perlu mengulang kisah Paul Munster dan Edu Perez karena memori itu masih hangat di kepala. Kini, giliran Bernardo Tavares yang berada dalam sorotan tajam dan bisa jadi nama berikutnya dalam daftar korban.

Siklus ini memantik pertanyaan mendasar yaitu siapa yang harus memikul beban tanggung jawab dan bagaimana bentuk pertanggungjawabannya?

Sebagai klub profesional yang berdiri di atas struktur hierarki yang jelas, menuding pihak di jajaran paling atas tentu menjadi hal paling mudah. Cek saja kegaduhan di media sosial; nama-nama pengurus sudah terpampang jelas di sana. Namun, persoalan yang harus disikapi secara cermat adalah bagaimana bentuk tanggung jawab itu sendiri? Penulis rasa pilihannya ada dua. Pertama, jalur instan dengan cara mengundurkan diri. Kedua, yang jauh lebih tidak populis, dengan cara bertahan, berbenah, dan menjadikan posisi akhir musim sebagai pengadil paling jujur.

Jika benar isu yang merebak bahwa pemilihan seluruh pemain adalah hak prerogatif Bernardo Tavares, kecuali satu nama striker yang konon merupakan keinginan manajemen, maka Tavares harus mempertanggungjawabkannya dengan cara profesional. Naif rasanya jika seorang pelatih sekelas BT hanya mengandalkan satu ide taktikal di kepalanya. Pelatih modern dibekali kapasitas untuk melakukan penyesuaian (adjustment) taktik bahkan di setiap menit pertandingan. Maka, dengan segala fasilitas dan modal yang diberikan klub, kerja keras di atas lapangan adalah satu-satunya cara baginya untuk bertanggung jawab.

Tentu cerita akan berbeda jika pada akhirnya Bernardo Tavares memilih mundur. Cara ini memang tampak kesatria, namun lari dari masalah lewat jalan instan justru menunjukkan minimnya passion jangka panjang bagi Persebaya. Apakah langkah itu yang akan diambilnya? Waktu yang akan menjawab.

Di luar itu, penghakiman di akhir musim juga akan berdampak langsung pada reputasi profesional Bernardo Tavares sendiri. Persebaya adalah panggung besar pertama yang ia tangani dengan status klub bertradisi masif, dibekali keleluasaan meramu skuad sesuai keinginan, serta ditopang fasilitas yang memadai. Jika ia gagal memenuhi ekspektasi untuk bersaing di papan atas, klub-klub elite Liga Indonesia tentu akan berpikir ulang untuk merekrutnya di masa depan.

Alasannya cukup mendasar. Manajemen klub lain tidak hanya melihat kegagalan pada hasil akhir, tetapi juga akan mempertanyakan relevansi ide-ide taktik Tavares di tengah ketatnya persaingan Super League era modern. Sorotan juga pasti tertuju pada sejauh mana pengaruh (buy-in) Tavares terhadap para pemainnya agar filosofi bermainnya benar-benar terimplementasi di lapangan, serta kapasitas mentalnya dalam mengelola tekanan masif. Seluruh indikator penilaian tersebut pada akhirnya akan bermuara dan terjawab secara utuh dari penghakiman di pengujung musim.

Sebaliknya, jika manajemen mengambil tindakan pemecatan, berapa banyak anggaran yang terbuang sia-sia untuk membayar kompensasi sisa kontrak? Informasi detail mengenai kontrak memang bersifat konfidensial dan sulit diakses publik, tetapi mustahil tidak ada klausul kompensasi saat seorang pelatih diputus kontraknya di tengah jalan. Ya, meskipun sebenarnya mungkin Persebaya tetap harus membayar kompensasinya jika memecat Bernardo Tavares di akhir musim nanti (jika dinilai performanya buruk) mengingat kontraknya yang baru akan berakhir pada Juni 2028 mendatang. 

Memilih untuk mempertahankan Tavares hingga akhir musim sejatinya juga adalah bentuk tanggung jawab manajemen atas keputusan mereka mendatangkan eks juru taktik PSM Makassar tersebut beserta barisan pemain rekrutannya musim ini. Mereka juga harus mempertanggungjawabkannya dan nantinya akan dihakimi oleh Bonek di akhir musim. Sekali lagi, cara ini tidak populis, tetapi harus dilakukan demi mengakhiri siklus tersebut. Mekanisme pengadilan yang objektif akan terlihat di akhir klasemen, disandingkan dengan target awal serta kalkulasi biaya yang telah dikeluarkan dan segala halnya.

Mau tidak mau, langkah ini harus ditempuh karena Persebaya butuh evaluasi utuh tentang bagaimana performa sebuah tim dalam satu musim penuh dengan anggaran tertentu dan karakteristik pelatih yang spesifik. Sembilan tahun berkompetisi di era modern semestinya membuat Persebaya matang dalam merumuskan indikator penilaian performa tim kepelatihan dan pemain. Ini adalah fondasi fundamental untuk penilaian akhir.

Kendati demikian, ada masalah mendesak yang harus segera dibenahi dalam waktu dekat. Pertama adalah rotasi pemain dan skema permainan. Persebaya sebenarnya tidak menghadapi jadwal yang terlampau padat karena hanya fokus pada dua kompetisi musim ini, dengan kedalaman skuad yang terbilang mumpuni. Anggaplah juara liga bukan target utama, tetapi setidaknya tampil konsisten di papan atas harus segera dibuktikan mengingat nama besar Persebaya seharusnya menempatkan mereka ada di sana. Begitu pula dengan peluang di ajang i.League Cup yang sangat potensial jika melihat peta kekuatan di fase grup.

Namun, sebelum segala keresahan teknis tersebut terjawab, ada satu teka-teki paling genting yang harus segera direspons oleh manajemen Persebaya secara terbuka. Jika tidak, hal ini akan terus menjadi bola liar dan menciptakan stigma negatif di kalangan suporter dan akan merembet ke banyak hal.

Ada apa dengan Matheus Lagoa?

Target dan Rencana Indonesia Sebenarnya Apa, Sih?
Artikel sebelumnya Target dan Rencana Indonesia Sebenarnya Apa, Sih?
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait