Pada 2008, Portsmouth FC berdiri di puncak kejayaan dengan mengangkat trofi tertua di sepak bola Inggris, Piala FA, sekaligus menembus kompetisi Eropa. Namun, di balik selebrasi mewah dan deretan pemain bintang bergaji selangit, sebuah bom waktu finansial sedang menunggu untuk meledak, menghancurkan segalanya.
Manajemen yang ceroboh dan kepemilikan klub yang berganti-ganti secara mencurigakan mengubah cerita indah menjadi mimpi buruk nyata. Utang menggunung tak terkendali hingga puluhan juta poundsterling, memaksa klub kebanggaan pesisir selatan ini perlahan terseret ke jurang krisis terdalam dalam sejarah mereka.
Memasuki 2010, Portsmouth mencatat sejarah kelam sebagai klub Premier League pertama yang masuk masa administrasi karena status bangkrut. Hukuman pengurangan 9 poin menjadi pukulan telak yang mengawali fase terjun bebas mereka dari kasta tertinggi persepakbolaan Inggris.
Dalam rentang waktu yang sangat singkat, The Pompey terjerembab kasta demi kasta, dari gemerlap Premier League hingga mendarat di dasar League Two pada 2013. Ancaman likuidasi membayangi Fratton Park setiap harinya, membuat para pendukung setia menatap ngeri kemungkinan klub mereka benar-benar lenyap dari peta olahraga.
Ketika para pemilik kaya melarikan diri dan investor lepas tangan, ancaman kepunahan klub bukan isapan jempol belaka. Pengadilan di London nyaris menjatuhkan palu kematian, yang berarti Portsmouth akan dihapus secara permanen dari sejarah sepak bola dan seluruh asetnya dicerai-beraikan.
Di titik nadir inilah, rasa cinta yang jauh lebih kuat dari sekadar hitungan bisnis dan profit mulai bergerak melawan kemustahilan. Para suporter perlahan menyadari bahwa tidak akan ada pahlawan berkuda putih atau taipan asing yang datang menyelamatkan, kecuali mereka sendiri yang harus turun tangan.
Pompey Supporters Trust (PST) dibentuk sebagai wadah perlawanan kolektif melawan kebangkrutan dan kematian identitas lokal. Mereka menggalang kampanye masif, mengumpulkan pundi-pundi uang dari tabungan pribadi para penggemar, mulai dari pecahan koin hingga ribuan poundsterling demi menebus utang klub.
Pada musim semi 2013, kerja keras penuh darah dan air mata itu membuahkan hasil heroik saat PST berhasil mengambil alih kepemilikan klub sepenuhnya. Portsmouth resmi diselamatkan dari kebangkrutan absolut dan mencetak sejarah sebagai klub kepemilikan suporter terbesar dalam sejarah sepak bola profesional Inggris saat itu.
Di bawah kendali suporter, Fratton Park tidak lagi dijalankan oleh ambisi serakah, melainkan oleh keringat dan dedikasi murni komunitas. Para pendukung secara sukarela datang membersihkan area stadion, mengecat kursi tribun, dan bekerja tanpa bayaran demi memastikan klub bisa tetap beroperasi setiap akhir pekan.
Era kepemilikan penggemar ini memulihkan martabat yang hilang dan menghidupkan kembali koneksi sejati antara klub dengan kotanya. Mereka perlahan menstabilkan keuangan yang hancur lebur, membangun kembali fondasi operasional klub secara mandiri dengan prinsip transparansi tingkat tinggi dan keberlanjutan, hingga melunasi utang-utang.
Kebangkitan pun dimulai dari kasta terbawah liga profesional dengan semangat juang kelas pekerja yang pantang menyerah. Pada penghujung musim 2016/17, air mata haru tumpah membanjiri Fratton Park saat Portsmouth secara dramatis berhasil keluar sebagai juara League Two.
Promosi ini bukan sekadar perayaan naik kasta, melainkan sebuah pembuktian sakral bahwa kekuatan cinta suporter mampu mengalahkan kehancuran finansial. Mereka membuktikan kepada dunia bahwa sebuah klub yang dikelola dengan hati dan kehati-hatian bisa kembali berprestasi tanpa harus menggadaikan masa depan klub.
Setelah sukses menstabilkan kapal yang karam, PST menyadari bahwa untuk bersaing dan terus naik di sepak bola modern, mereka membutuhkan suntikan modal besar. Pada 2017, suporter melalui pemungutan suara bersejarah akhirnya setuju menjual klub kepada Tornante Company pimpinan mantan CEO Disney, Michael Eisner.
Penjualan ini bukanlah bentuk kegagalan suporter, melainkan langkah cerdas yang dilakukan secara terhormat saat klub sudah dalam kondisi finansial yang sehat. Di bawah kepemimpinan baru yang menghormati akar suporter, Portsmouth terus menanjak dan sukses kembali promosi ke Championship pada musim 2023/24.
Ketakutan suporter Portsmouth akan kematian klub sangatlah beralasan, mengingat sepak bola Inggris memiliki sejarah nyata hilangnya entitas klub akibat kebangkrutan. Bury FC, sebuah klub dengan sejarah panjang 134 tahun, secara tragis dikeluarkan dari English Football League pada 2019 dan entitas profesionalnya benar-benar mati.
Nasib mengerikan yang sama juga menimpa Macclesfield Town yang dilikuidasi total oleh pengadilan pada tahun 2020 akibat tumpukan utang. Kasus-kasus kematian klub ini menjadi monumen peringatan yang suram, membuktikan bahwa tanpa intervensi heroik suporter, entitas klub bersejarah bisa musnah dan terhapus selamanya.
Namun, heroisme penyelamatan oleh suporter tidak hanya eksklusif milik Portsmouth di dunia sepak bola. Di Inggris, suporter AFC Wimbledon membentuk klub baru dari nol setelah klub asli mereka direlokasi paksa ke Milton Keynes, sementara penggemar Exeter City sukses menyelamatkan dan mengelola klub mereka dari ancaman kebangkrutan sejak 2003.
Di belahan dunia lain, kesetiaan suporter Union Berlin di Jerman mencapai level tak terbayangkan ketika rela mendonorkan darah ke rumah sakit demi mendapatkan uang tunai untuk menyelamatkan klub dari kebangkrutan pada 2004. Kisah-kisah ini menegaskan bahwa suporter adalah satu-satunya detak jantung abadi yang bisa menghidupkan kembali klub yang hampir mati.
Perjalanan epik Portsmouth bertahan dari maut adalah manifestasi paling nyata dari pepatah bahwa sepak bola sama sekali tidak ada artinya tanpa penggemar. Dari euforia juara yang memabukkan, kejatuhan memalukan, hingga kebangkitan kembali yang dipelopori kelas pekerja, kisah ini adalah salah satu romansa sepak bola terindah.
Pada akhirnya, ketika para miliarder gagal mengelola bisnis dan pergi meninggalkan puing-puing kehancuran di belakang mereka, para suporter lah yang berdiri di garda paling depan menjadi perisai. Mereka tak hanya menyelamatkan Portsmouth dari ancaman kebangkrutan, tapi juga berhasil menyelamatkan nyawa dan identitas dari klub itu sendiri.
