Font size:
Oleh: Aan Suarlan
Akhir bursa transfer musim panas 2014 menjadi hari yang penuh warna bagi AC Milan. Ketika mereka sudah yakin dengan mendatangkan Jonathan Biabiany, tiba-tiba Christian Zaccardo yang menjadi bagian transfer kepindahan Biabiany memutuskan untuk menolak ide kepulangannya ke Parma. Akhirnya Biabiany yang sempat berfoto dengan syal Milan itu harus gagal pindah dari Parma. Setelah itu, dalam waktu hitungan jam, Adriano Galliani langsung bergerak cepat. Kemudian Giacomo Bonaventura yang sedang dalam perjalanan untuk menandatangani kontrak dengan Inter, berhasil dibujuk untuk pindah haluan. Hal ini menjadikan Bonaventura, pemegang nomor punggung 10 di Atalanta waktu itu, sebagai rekrutan terakhir Milan di periode transfer tersebut. Proses transfer ini kemudian digambarkan sebagai sesuatu yang gila oleh Galliani karena prosesnya yang kilat di jam-jam terakhir bursa transfer dan yang terpenting tentu mengalahkan rival sekota dalam perburuan pemain. Proses transfer terjadi saat itu mungkin patut disyukuri oleh Milanisti, pendukung AC Milan. Karena Biabiany yang gagal didatangkan Milan itu, ternyata memiliki masalah kesehatan pada jantungnya. Ia pun kemudian tidak bisa tampil hampir semusim penuh pada 2014/2015. Setelah pulih pun Biabiany yang musim ini membela Inter belum bisa menembus skuat utama. Sementara di sisi lain, tidak sedikit yang meragukan kedatangan Jack, panggilan Bonaventura. Karena sebagaimana pemain lain di periode setelah 2012, kedatangan Bonaventura hanya menambah panjang pemain-pemain kelas menengah yang dipandang kurang pantas berada di San Siro. Beban Bonaventura semakin bertambah di mana kedatangannya saat itu berbarengan dengan hengkangnya Kaka. Sama-sama bermain di pos gelandang serang, beban berat pun dipikul oleh pemain lulusan akademi Atalanta ini. Pada musim 2014/2015, musim pertamanya di Milan, Jack hanya mampu mengoleksi tiga assist dan tujuh gol dari total 34 penampilan. Kendati demikian, perfoma Bonaventura secara individu tidak bisa dikatakan sepenuhnya jelek. Selain karena penampilan Milan saat itu sedang tidak konsisten bersama pelatih debutan, Filippo Inzaghi, jumlah golnya sendiri merupakan yang ketiga terbanyak setelah Jeremy Menez (16) dan Mattia Destro (8). Sementara jumlah assistnya pun hanya kalah dari Ignazio Abate (6) serta Keisuke Honda dan Jeremy Menez (4). Raihan yang tidak buruk bagi seorang pemain tengah. Kontribusi Bonaventura semakin terasa besar pada musim ini. Setelah memainkan 11 pertandingan, Jack telah terlibat dalam tujuh gol Rossoneri dengan rincian dua gol dan lima assist. Jumlah assist yang justru lebih banyak daripada musim lalu dimana ia mengukirnya dalam 34 pertandingan. Capaian ini tentu akan terus bertambah apabila Milan terus menunjukkan penampilan yang konsisten. Karya terakhir yang dipersembahkan oleh Bonaventura adalah dua assistnya yang memberikan kemenangan atas Lazio beberapa waktu lalu. Umpan matang gelandang yang kini berusia 26 tahun tersebut berhasil dimanfaatkan Philippe Mexes dan Carlos Bacca menjadi gol. Catatan ini semakin menegaskan konsistensi permainan Bonaventura sejak awal musim. Pada pertandingan melawan Lazio, Bonaventura bukan hanya berperan atas dua gol Milan, tetapi berhasil mengeksploitasi sisi kanan pertahanan Lazio. Dalam sebuah momen, bahkan Jack mengeluarkan skill elastico untuk mengecoh bek kanan Lazio, Dusan Basta. Kontribusi Jack pada pertandingan tersebut, membuat sisi sayap Milan seimbang, karena Alessio Cerci disisi lain juga bermain tidak kalah bagusnya membangun serangan Milan. Kemenangan atas Lazio itu terasa sangat penting bagi Milan. Kemenangan itu berarti memperpanjang kemenangan Milan menjadi tiga kali beruntun. Terakhir kali Milan mampu melakukan tiga kemenangan beruntun terjadi April 2014, atau hampir satu setengah tahun yang lalu, sebuah penantian yang terlalu lama bagi klub sekelas Milan. Selain itu, kemenangan melawan Lazio juga memberikan modal kepercayaan diri yang semakin besar pada skuat Milan. Masalah yang menjadi isu besar di Milan saat ini, bahkan Mihajlovic pernah mengeluh setelah pertandingan melawan Torino, bahwa anak-anak asuhannya terkesan ketakutan setelah unggul ditengah-tengah pertandingan. Mihajlovic memainkan Bonaventura di berbagai posisi. Tapi Milan pernah punya pemain andalan yang ketika dipasang di berbagai posisi justru performanya menurun. Siapakah dia? Temukan jawabannya di halam berikutnya. Bona-versatile Pelatih baru Milan, Sinisa Mihajlovic, memang memberikan peran yang berbeda pada Bonaventura pada musim ini. Jika saat bersama Inzaghi ia lebih sering beroperasi di tengah, kini Bonaventura sering dimainkan melebar. Bonaventura idealnya memang bermain di area tengah. Namun Mihajlovic sudah menempatkannya pada tiga posisi berbeda musim ini. Situs whoscored mencatat selama diturunkan sebagai starter, Bonaventura bermain sebanyak empat pertandingan sebagai gelandang tengah, dua pertandingan sebagai gelandang serang, empat pertandingan sebagai penyerang sayap, dan sisanya sebagai pengganti. Data ini menunjukkan Bonaventura cukup versatile di mana ia bisa bermain maksimal di berbagai posisi. Kemampuan inilah yang membuatnya mendapat keunggulan dibandingkan para pemain tengah Milan lainnya, dan tentu saja menjadikannya pemain salah satu paling berpengaruh atas performa Milan sejauh ini. Akan tetapi, berbicara menngenai versatile player, Milanisti sebenarnya punya pengalaman buruk. Kita berbicara mengenai seorang pemain yang sempat membuat Real madrid tertarik atas performanya setelah membawa Milan meraih scudetto pada 2011, yaitu Kevin Prince Boateng. Pada awal kedatangannya pada 2010, Boateng lebih banyak bertugas sebagai box to box midfielder, bersaing bersama gelandang-gelandang senior seperti Mark van Bommel, Massimmo Ambrosini, Genaro Gattuso, Andrea Pirlo, Ronaldinho dan Clarence Seedorf. Skuat ini berhasil meraih gelar juara Serie A ke-18 Milan. Namun setelah hengkangnya para pemain bintang seperti Zlatan Ibrahimovic, Thiago Silva, Alexandro Pato, Nesta, Gattuso, Van Bommel dan Gattuso pada awal 2012/2013 Boateng mulai dicoba-coba menempati posisi lain. Dimulai dari trequartista, penyerang sayap, hingga penyerang tengah pernah dijalaninya. Pada titik inilah Boateng mengalami kemunduran. Penampilannya tidak pernah lebih baik sebagaimana yang ditampilkannya pada dua musim sebelumnya. Seiring dengan memburuknya penampilan Milan secara menyeluruh, sinar Boateng sebagai versatile player pun meredup hingga akhirnya dilego ke Schalke 04.Baca juga Boateng yang dikabarkan akan kembali memperkuat AC MilanKekhawatiran inilah yang ditakutkan menimpa Bonaventura. Seorang versatile player akan kesulitan untuk berkembang secara maksimal dalam satu posisi, karena tuntutan strategi membuatnya harus berpindah posisi. Sehingga dampak negatifnya adalah kemampuannya ditiap posisi hanya sekedar rata-rata dan tidak lebih, karena tidak dapat fokus pada satu posisi. Sepakbola modern memang menuntut pemain untuk dapat bermain dibanyak posisi. Hal ini untuk mendukung variasi taktik sang pelatih. Namun, di sisi lain, semakin versatile seorang pemain, maka perkembangannya sulit untuk diharapkan. Misalnya, tengok juga bagaimana nasib Emmanuele Giaccherini yang bisa ditempatkan di banyak posisi, justru menempatkannya sebagai cadangan ketika bermain di Juventus asuhan Antonio Conte. Setelah pindah ke Sunderland, Giaccherini tidak mampu berbuat banyak, hingga kini ia kembali ke Italia untuk bermain bersama Bologna. Milanisti tentu berharap Bonaventura adalah pengecualian. Pencapaian apiknya di awal musim 2015/2016 ini diharapkan tetap konsisten. Hal ini sangat penting untuk mengembalikan Milan berpartisipasi lagi di kompetisi Eropa, kompetisi yang sudah dua musim terakhir absen dalam agenda tengah minggu Rossoneri. Semoga Bonaventura bisa menjadi satu dari sekian banyak pemain yang bisa mewujudkannya.
Penulis adalah mahasiswa master riset tahun pertama yang juga penggemar sepakbola Italia. Dapat ditemukan di Twitter dengan akun @aanisti.foto: sports.yahoo.com