Timnas Juara, Barangkali Kita Tidak Sedang Merayakan Sepak Bola

Timnas Juara, Barangkali Kita Tidak Sedang Merayakan Sepak Bola
Font size:

Senin malam, 5 Oktober 2026, Gelora Bung Karno menjadi saksi perjuangan Timnas Indonesia. Thailand, lawan yang belum pernah bisa kita taklukkan di empat final Piala AFF, sempat membuat pertandingan berjalan tidak mudah. Dalam situasi ketika Thailand harus bermain dengan 10 pemain, Indonesia tetap harus menunggu hingga menit ke-116 sebelum Elkan Baggott menyamakan kedudukan. Setelah pertandingan berlanjut hingga adu penalti, Emil Audero kemudian menggagalkan penalti terakhir Thailand. 

 

Indonesia menang 4-2 di partai final dan mencatatkan namanya sebagai juara pertama dalam sejarah FIFA ASEAN Cup, sekaligus meraih gelar regional pertama di level senior sejak 1991. Tiga puluh lima tahun kita menunggu. Maka ketika peluit akhir berbunyi, gelar ini meledak menjadi letupan bersama. Orang-orang di sekitar kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), di daerah-daerah yang menggelar "nobar", maupun di media sosial. Di tengah riuh perayaan tersebut, muncul satu pertanyaan sederhana: mengapa kita bisa begitu terbawa arus dalam sebuah perayaan sepak bola?

 

Sepak Bola Sebagai Jeda

 

Sepak bola memang selalu punya tempat untuk dinilai dari beragam sudut pandang, termasuk dari hal yang paling dekat dengan manusia: rutinitas. Dalam salah satu kanal YouTube, Pangeran Siahaan, penulis buku sepak bola The Big Pang Theory, pernah mengungkapkan bahwa menonton sepak bola dapat menjadi escapism bagi penontonnya dari rutinitas yang monoton, meskipun disampaikan dengan pembawaan yang sedikit bercanda.

 

Namun, dengan pembawaan yang mungkin berguyon, pernyataan mengenai escapism dan sepak bola, justru menjadi sebuah hal yang sering sekali tidak kita sadari namun terasa sangat dekat dalam keseharian. Ruang untuk meninggalkan hal-hal yang tidak ada secara formal, sekaligus ruang untuk berharap. Dan ketika sesuatu yang kita saksikan itu akhirnya memberikan kemenangan, perasaan tersebut menjadi jauh lebih besar karena kita merasa menjadi bagian dari sesuatu.

 

Pandangan dari Soccernomics

 

Simon Kuper dan Stefan Szymanski dalam Soccernomics melampirkan sebuah data dan penjelasan menarik mengenai mengapa kota-kota pekerja kemudian menjadi kota sepak bola. Salah satu contohnya adalah Kota Manchester, yang pada masa industrialisasi dikenal sebagai factory town, sebuah kota yang kehidupannya banyak bertumpu pada industri dan didominasi oleh kelas pekerja dengan kondisi ekonomi yang relatif terbatas. Di tengah kehidupan seperti itu, masyarakat kota tersebut kemudian menemukan sepak bola sebagai salah satu kanal untuk membangun rasa memiliki sekaligus membanggakan kota mereka.

 

Berbeda dengan masyarakat di ibu kota yang memiliki lebih banyak sumber identitas dan kebanggaan dari kota tempat mereka tinggal, masyarakat di kota-kota pekerja menemukan sepak bola sebagai sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka, sesuatu yang bisa mereka miliki dan rayakan bersama. Dari sana, klub sepak bola tidak hanya menjadi tempat untuk menonton pertandingan, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari identitas kota dan kebanggaan masyarakatnya.

 

Kalau gagasan tersebut kita tarik sedikit lebih jauh, mungkin kita bisa melihat Indonesia dari sudut yang berbeda. Bukan sebagai sebuah kota pekerja, tentu saja, tetapi sebagai negara berkembang yang masih terus mencari bentuk kebanggaan di tengah berbagai persoalan sehari-hari. Analogi ini tentu tidak bisa disamakan begitu saja, tetapi ada sebuah kemiripan yang menarik untuk direnungkan, ketika sumber kebanggaan atau rasa kesenangan kolektif yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari tidak selalu mudah ditemukan, sepak bola bisa mengisi ruang tersebut.

 

Bukan berarti kita tidak memiliki hal lain untuk dibanggakan. Indonesia tentu memiliki banyak prestasi, budaya, dan pencapaian yang layak dirayakan. Hanya saja, sepak bola memiliki kemampuan yang sedikit berbeda. Sepak bola menawarkan sesuatu yang semakin sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, kesempatan untuk merasa menang bersama.

 

Indonesia dan Euforia Timnas

 

Berlandaskan dari dua argumen paragraf sebelumnya, mungkin kita bisa sama-sama untuk berefleksi bahwa, di samping euforia masyarakat terhadap gelar juara timnas Indonesia di ajak FIFA ASEAN Cup, euforia masyarakat Indonesia terhadap sepak bola sudah harus semestinya.

 

Saat hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mungkin, masyarakat sudah mulai merasa lelah, dari mulai harga bahan-bahan pokok naik, lapangan pekerjaan kian kompetitif, serta isu-isu politik yang setiap pekan terasa semakin mengkhawatirkan, serta keadaan sekitar yang saat ini tidak sedang baik-baik saja. Merayakan kemenangan timnas kemarin, justru menjadi cara paling jujur bagi kita semua sebagai manusia.

 

Timnas dengan sepak bolanya menjadi satu hal yang layak kita rayakan untuk setidaknya menggenggam sedikit harapan, ada sesuatu yang bisa kita banggakan, kita bicarakan dengan senang, atau bahkan sekadar kita unggah di media sosial.

 

Timnas dan gelar juaranya menjadi jembatan untuk kita menuju alasan berikutnya, sedikit terlepas dari belenggu rutinitas yang mungkin terasa begitu kejam dengan kita setiap harinya, mungkin terkait tekanan pekerjaan, atau bahkan target resolusi yang mungkin belum sesuai hingga bulan kedua terakhir tahun 2026. Dan mungkin, disitulah escapism dalam sepak bola bekerja dengan caranya.

 

Gelar juara FIFA ASEAN Cup tetaplah sebuah sejarah bagi Indonesia. Kita layak merayakannya, bahkan mungkin untuk waktu yang cukup lama. Namun, barangkali kita juga perlu menyadari bahwa sepak bola tidak pernah benar-benar mengubah kehidupan kita di luar lapangan. Ia hanya memberi kita jeda untuk menikmatinya.

 

Hari itu kita merayakan. Besok kita kembali bekerja. Kembali menghadapi rutinitas, mengejar target, membayar kebutuhan, dan menelan hal-hal pahit seperti semula. Tetapi setidaknya, di antara kehidupan yang kadang terasa begitu penuh, sepak bola pernah memberi kita satu alasan sederhana untuk tersenyum dan merasa bahwa untuk sekali ini, kita menang bersama.

 


Pandit Sharing oleh: Riro Adnan Saputro

Bukan Lagi “HAMPIR”, Akhirnya Indonesia Mengakhiri Penantian Panjang!
Artikel sebelumnya Bukan Lagi “HAMPIR”, Akhirnya Indonesia Mengakhiri Penantian Panjang!
Oktober Jadi Maraton Persib dan Ujian Kedalaman Skuad
Artikel selanjutnya Oktober Jadi Maraton Persib dan Ujian Kedalaman Skuad
Artikel Terkait