5 Oktober 2026 akan menjadi malam yang patut dikenang oleh rakyat Indonesia. Di bawah langit malam Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), saya bersama puluhan ribu suporter memenuhi stadion kebanggaan negeri ini, meneriakkan dukungan kepada Kevin Diks dan kawan-kawan. Doa jutaan rakyat Indonesia akhirnya terjawab. Indonesia menjadi juara FIFA ASEAN Cup untuk pertama kalinya. SUGBK bergemuruh. Teriakan, tawa, pelukan, dan air mata pecah setelah 120 menit pertandingan yang menguras emosi. Presiden berjoget, Rizky Ridho larut dalam haru, sementara para suporter merayakan kemenangan yang selama ini hanya menjadi angan-angan. Malam itu, jutaan rakyat Indonesia berpesta. Namun, tidak dengan Nilmaizar.
Pada pagi hari yang sama, Nilmaizar harus menerima kenyataan pahit berupa pemecatan dari kursi pelatih Semen Padang FC. Hasil dua kemenangan, satu hasil imbang, dan satu kekalahan, disebut belum cukup untuk meyakinkan manajemen agar mempertahankan pelatih kelahiran Payakumbuh tersebut. Kritik terhadap kualitas taktik dan persoalan internal klub disinyalir menjadi bagian dari masalah yang mengakhiri masa kerja pelatih yang pernah membela Sparta Praha tersebut.
Keputusan itu tentu menyisakan pertanyaan, apakah empat pertandingan cukup untuk menilai kapasitas seorang pelatih, terlebih ketika skuad yang dimilikinya hampir sebagian dihuni oleh nama-nama baru. Hal ini dikarenakan membangun tim sepak bola bukan pekerjaan menyusun sebelas nama di atas kertas. Ia seperti merakit mesin yang sebagian komponennya baru dipasang. Mesin itu mungkin belum langsung melaju kencang, tetapi bukan berarti perakitnya tak memahami cara kerja setiap bagiannya.
Pascapemecatan tersebut, sulit membayangkan Nilmaizar ikut larut dalam euforia kemenangan Timnas Indonesia malam itu. Alih-alih merayakan keberhasilan Garuda, ia mungkin justru mempertanyakan keputusan manajemen yang dianggap terlalu terburu-buru. Melalui Instagram-nya, Nilmaizar menulis, “Know your role. Do your job. And let the experts do theirs. Football works best when everyone understands where they belong.” Kalimat tersebut seolah menjadi sindiran tentang batas kewenangan, profesionalisme, dan siapa yang seharusnya mengambil keputusan teknis dalam sepak bola.
Tak sampai satu pekan setelah pemecatan itu, Semen Padang menunjuk Stefano Cugurra, atau Teco, sebagai pengganti Nilmaizar. Namun, debut pelatih baru tersebut justru diwarnai kekalahan 1-2 dari Persikad Depok di Stadion Pakansari. Hasil itu tentu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa keputusan manajemen keliru. Sepak bola tidak bekerja sesederhana hubungan sebab-akibat dalam satu pertandingan. Meski demikian, kekalahan tersebut menghadirkan ironi. Jika Nilmaizar dianggap belum layak diberi waktu untuk membangun tim, apakah pelatih penggantinya juga akan diadili dengan ukuran kesabaran yang sama oleh Andre Rosiade?
Di sinilah persoalan yang lebih besar muncul. Dalam sepak bola Indonesia, pemain dan pelatih asing kerap datang dengan modal reputasi yang membuat mereka memperoleh kepercayaan sejak awal. Sebaliknya, tenaga lokal tidak jarang harus membuktikan kelayakannya berulang kali, bahkan sebelum mendapatkan kesempatan yang sepadan. Fenomena ini mengingatkan kita pada sebuah restoran yang menganggap koki asing pasti lebih hebat hanya karena ia datang dari luar negeri, sementara koki lokal harus menunjukkan sertifikat dan memasak berkali-kali sebelum dipercaya memegang dapur utama.
Tentu, mendatangkan pelatih asing bukanlah sebuah kesalahan. Pengalaman internasional, pendekatan taktik, kemampuan manajerial, dan rekam jejak merupakan pertimbangan profesional yang sah digunakan sebagai sebuah tolok ukur. Begitu pula, pelatih lokal tidak otomatis lebih baik hanya karena berasal dari Indonesia. Persoalannya muncul ketika paspor menjadi semacam jalan pintas untuk menilai kualitas. Pelatih asing dianggap unggul sebelum bekerja, sedangkan pelatih lokal dianggap kurang sebelum diberi kesempatan.
Kisah Nilmaizar dapat dibaca sebagai bagian dari persoalan tersebut. Dalam psikologi individual, Alfred Adler memperkenalkan konsep inferiority complex, yakni perasaan rendah diri yang berkaitan dengan persepsi seseorang terhadap kekurangan atau kelemahannya. Konsep ini tidak bisa serta-merta digunakan untuk mendiagnosis seluruh masyarakat Indonesia, apalagi menyimpulkan motif pribadi seorang pengambil keputusan. Namun, ia dapat menjadi lensa untuk mempertanyakan mengapa sesuatu yang berasal dari luar kerap dipandang lebih bernilai daripada potensi yang tumbuh di dalam negeri.
Inferioritas tidak selalu hadir dalam bentuk pengakuan bahwa kita lebih rendah. Kadang-kadang, ia justru bersembunyi di balik kekaguman yang berlebihan terhadap pihak lain. Kita mengimpor pemain, merekrut pelatih asing, lalu berharap kualitas sepak bola nasional meningkat. Harapan itu wajar. Akan tetapi, jika setiap persoalan selalu dijawab dengan mendatangkan tenaga dari luar tanpa membangun kepercayaan terhadap sumber daya sendiri, kita berisiko terjebak dalam lingkaran ketergantungan.
Ironinya, persoalan ini kini tidak hanya menyentuh kesempatan bermain pemain lokal, tetapi juga ruang kerja pelatih dalam negeri. Dominasi pelatih asing di kompetisi tertinggi Indonesia memperlihatkan betapa sempitnya ruang yang tersedia bagi juru taktik lokal. Pada pagelaran Super League di tiga tahun terakhir terjadi penururan jumlah pelatih lokal yang cukup signifikan. Pada musim 2023/24 masih terdapat 6 pelatih lokal. Lalu di musim 2024/25 menurun menjadi 4 pelatih lokal. Hingga tidak banyak yang menyadari bahwa hanya tersisa nama Ade Suhendar (Isenmulang Kalteng FC) sebagai pelatih lokal dikepung 17 pelatih asing lainnya pada Super League musim ini.
Angka-angka tersebut bukan bukti bahwa semua pelatih asing sangat layak atau semua pelatih lokal telah diperlakukan tidak adil. Namun, angka itu cukup untuk memunculkan pertanyaan tentang ekosistem sepak bola kita: apakah pelatih lokal memang kalah kualitas dalam kompetisi yang setara, atau mereka semakin jarang memperoleh kesempatan untuk membuktikan diri? Jika jawabannya adalah pendapat kedua, maka akan muncul banyak pertanyaan yang perlu dijawab setelahnya. Seperti, kenapa klub dan kita (suporter) tidak lebih percaya dengan pelatih lokal? Atau apa peran Federasi dalam meningkatkan kualitas pelatih lokal? Sungguh sebuah pekerjaan rumah yang besar bagi Bapak Erick Tohir dan teman-teman PSSI.
Pada akhirnya, persoalan Nilmaizar bukan semata-mata soal pemecatan seorang pelatih. Ia menjadi pintu masuk untuk membicarakan cara kita menilai kualitas, membangun kepercayaan, dan memperlakukan tenaga profesional dari negeri sendiri. Jangan sampai kita begitu sibuk mencari jawaban dari luar hingga lupa mengembangkan kemampuan yang sudah ada di dalam rumah.
Sebab, dalam sepak bola, pelatih tidak bisa dinilai hanya dari hasil empat pertandingan, sebagaimana sebuah tim tidak bisa dibangun hanya dengan mengganti satu nama di pinggir lapangan. “Karena setiap perjalanan memiliki waktunya sendiri untuk sampai, dan terkadang, yang kita butuhkan bukanlah berlari lebih cepat, melainkan melangkah tanpa kehilangan keyakinan pada arah yang dituju”, ujar Nilmaizar.
Malam itu, Indonesia berpesta karena akhirnya berhasil mengangkat trofi. Namun, di balik sorak-sorai kemenangan, ada pertanyaan yang seharusnya tidak ikut tenggelam dalam kebisingan stadion. Ketika kita begitu mudah merayakan keberhasilan yang melibatkan pemain keturunan dan mengagumi keahlian pelatih dari luar negeri, kapan kita akan benar-benar memberi ruang bagi putra-putri sendiri untuk membuktikan kemampuan mereka?
Malam itu, Indonesia punya pesta untuk Garuda. Tetapi bagi Nilmaizar, dan mungkin bagi banyak pelatih lokal lainnya, pesta itu masih terasa jauh.
Pandit Sharing oleh: Abiet Saputra (Instagram @abietsaputra)
