Menanti Konsistensi PSSI dan I.League Lewat League Cup

Menanti Konsistensi PSSI dan I.League Lewat League Cup
Font size:

PSSI bersama operator kompetisi, I.League, sudah menggelar drawing babak grup ajang League Cup 2026/27 pada Rabu (7/10) lalu. Turnamen pendamping liga ini akan diikuti oleh 38 klub dari Super League (Liga 1) dan Championship (Liga 2). Sebanyak 36 tim akan memulai perjuangan dari babak grup, sedangkan dua tim lainnya, yakni Persib Bandung dan Borneo FC langsung mengantongi tiket otomatis ke babak 8 besar karena mewakili Indonesia di kompetisi Asia.

Rencananya, babak grup akan dilangsungkan sepanjang November hingga Desember 2026 dengan sistem single round-robin. Persaingan dipastikan sengit karena hanya juara grup yang berhak melenggang ke fase gugur.

Salah satu hal menarik dari League Cup 2026/2027 terletak pada aturan pemain asingnya. Berbeda dengan Super League yang mengizinkan hingga 7 pemain asing di lapangan, League Cup membatasi setiap tim hanya boleh memainkan 3 pemain asing. Regulasi ini menjadi angin segar demi menciptakan kesetaraan bagi tim-tim Championship, sekaligus membuka ruang pembuktian bagi para pemain lokal dan talenta muda yang minim menit bermain di kompetisi reguler.

Hadirnya turnamen pendamping liga sejatinya sudah sangat lama dinantikan publik sepak bola tanah air. Indonesia terakhir kali menggelar turnamen sejenis pada musim 2018/19 melalui ajang Piala Indonesia yang kala itu diikuti 128 tim dari Liga 1 hingga Liga 3 dan dimenangkan oleh PSM Makassar. Sayangnya, setelah itu turnamen pendamping hilang bagai ditelan bumi dengan beragam alasan, mulai dari pandemi COVID-19 hingga ketidaksiapan administrasi dari pihak operator maupun PSSI.

Jika menilik sejarah, konsistensi penyelenggaraan turnamen pendamping di Indonesia memang kerap pasang surut. Sebelum era Piala Indonesia 2018/19, publik tentu ingat Copa Dji Sam Soe yang bergulir dari 2005 hingga 2010 sebagai pendamping Indonesia Super League (ISL), serta Piala Indonesia 2012 di masa dualisme kompetisi.

Ironisnya, PSSI justru terlihat lebih sering dan gemar menggelar turnamen pramusim ketimbang fokus mematangkan turnamen resmi pendamping liga. Padahal dalam ekosistem sepak bola modern, keberadaan turnamen pendamping di tengah musim memiliki peran yang cukup vital. Negara-negara dengan tradisi sepak bola maju seperti Inggris bahkan memiliki lebih dari satu turnamen pendamping, seperti FA Cup dan League Cup di samping kompetisi liga utama.

Bagi klub-klub kasta teratas, ajang seperti ini menjadi laboratorium ideal untuk merotasi skuad dan memberi jam terbang kepada pemain muda. Sementara bagi klub kasta bawah, turnamen ini menjadi panggung pembuktian bahwa mereka mampu mengejutkan dan bersaing dengan tim-tim papan atas.

Komitmen PSSI Diuji

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, penyelenggaraan turnamen pendamping liga di Indonesia cenderung pasang surut. Padahal, ajang semacam ini bukan kompetisi sekunder yang menjadi sekadar pelengkap. Dalam iklim sepak bola yang sehat dan profesional, turnamen pendamping memegang peran strategis bagi tumbuh kembang klub, menjaga ritme skuad dan menguji kedalaman bakat pemain.

Jika dibedah dalam teori institusionalisme, keberhasilan dan keberlanjutan sebuah ekosistem sangat bergantung pada kepastian tata kelola serta konsistensi lembaga yang mengaturnya. Menurut Douglas North, institusi adalah sebuah rules of the game in a society yang bertugas membentuk insentif, membatasi ketidakpastian, dan mengarahkan pola interaksi.

Dalam konteks sepak bola nasional, keberadaan turnamen pendamping yang terencana dan rutin merupakan bentuk konkret dari rules of the game tersebut. Kepastian sistem kompetisi ini memberi dorongan positif bagi klub untuk berinvestasi dalam pembinaan pemain muda.

Kehadiran para pemain muda menjadi sangat krusial untuk menjaga kedalaman skuad, terlebih jika turnamen pendamping digelar secara konsisten. Klub tidak mungkin terus-menerus mengandalkan komposisi pemain yang sama sepanjang musim, sebab pelatih perlu melakukan rotasi demi kebutuhan taktik sekaligus menjaga kebugaran tim.

Selain itu, mengarungi dua kompetisi sekaligus tentu membutuhkan biaya besar jika klub harus selalu membeli pemain baru demi menambah kedalaman skuad. Mengorbitkan pemain binaan akademi menjadi pilihan yang jauh lebih rasional dan hemat biaya. Terlebih lagi, para pemain muda ini umumnya sudah memahami filosofi dan karakter permainan klub sejak mereka berada di akademi.

Pentingnya kuantitas laga ini juga sejalan dengan riset dari Asosiasi Pemain Sepak Bola Profesional Dunia (FIFPRO). Dalam riset itu disebutkan jika jumlah ideal pertandingan yang perlu dimainkan seorang pemain dalam satu musim kompetisi adalah 30 sampai 40 pertandingan. Jumlah pertandingan tersebut menjadi standar krusial untuk menjaga kondisi fisik, ketajaman taktis, dan mental bertanding di level tertinggi. Akan tetapi, fakta di lapangan yang terjadi selama ini sering tak seideal itu.

Jika dalam satu musim kompetisi sepak bola di Indonesia hanya ada kompetisi liga utama, bagaimana mungkin para pemain pelapis yang jarang mendapat menit bermain dapat mencapai jumlah ideal yang disebutkan FIFPRO? Tanpa ‘panggung tambahan’ potensi bakat mereka akan ‘layu’ di bangku cadangan. Padahal, tingkat kompetitif seorang pemain hanya bisa terasah dan matang seiring dengan bertambahnya menit bermain di sebuah pertandingan.

Dengan adanya turnamen pendamping liga seperti League Cup ini harusnya menjadi sebuah jawaban dari tantangan tersebut. Bagi para pemain pelapis, ajang ini bukan sekadar laga selingan, melainkan sebuah kesempatan emas untuk membuktikan kualitas mereka. Ketika diberi kepercayaan tampil, hampir bisa dipastikan mereka akan memberikan peforma maksimal demi satu tempat di skuad utama secara reguler. Sirkulasi menit bermain yang merata dan meningkatnya jumlah pertandingan secara otomatis akan memperluas perputaran talenta. Komposisi pemain yang tampil tidak lagi monoton.

Hal ini yang akhirnya akan membuat tim nasional (timnas) memiliki banyak pilihan pemain berkualitas yang siap dipantau dan diproyeksikan untuk membela ‘skuad Garuda’. Dengan begitu kedalaman ‘skuad Garuda’ juga akan semakin baik. Persaingan internal di timnas akan semakin kompetitif, sementara gap kualitas antara pemain inti dan pelapis semakin terkikis.

Oleh karena itu, PSSI secara institusional sebenarnya tidak perlu mengumbar janji muluk untuk memajukan sepak bola tanah air. Keberhasilan pembinaan pemain juga tidak bisa hanya dibebankan pada perjuangan mandiri pemain itu sendiri, melainkan juga membutuhkan kepastian sistem serta regulasi yang adaptif.

Langkah nyata tersebut harus dimulai dari hal yang paling mendasar, yakni konsistensi menjalankan kompetisi secara terstruktur dan berkelanjutan, mulai dari jenjang profesional, amatir, hingga pembinaan usia muda.

Pada akhirnya konsistensi PSSI dalam menjaga ritme dan menjalankan kompetisi adalah ujian terpenting sepak bola Indonesia. Semoga saja ironi yang terjadi pada Copa Dji Sam Soe dan Piala Indonesia tidak terjadi kembali pada penyelenggaraan League Cup.


Pandit Sharing Oleh Suherwinto (Instagram @sulewinto)

SCOUT PICKS GAMEWEEK 7 PANDIT FPL X HOOLIGANS
Artikel sebelumnya SCOUT PICKS GAMEWEEK 7 PANDIT FPL X HOOLIGANS
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait