Sepak bola sering kali diagungkan sebagai olahraga pemersatu yang universal. Namun di atas lapangan, ia kerap gagal lepas dari bayang-bayang sejarah kelam. Hubungan antara Inggris dan Argentina adalah contoh paling nyata bagaimana sebuah konflik teritorial di masa lalu bisa bertransformasi menjadi drama panas di lapangan hijau. Menjelang laga semifinal Piala Dunia 2026 di Mercedes-Benz Stadium, Atalanta, Amerika Serikat, Kamis (16/7), ketegangan lama itu kembali mencuat ke permukaan.
Jauh sebelum desing peluru pecah pada dekade 1980-an, benih permusuhan antara kedua negara sebenarnya sudah tertanam di lapangan hijau, tepatnya pada perempat final Piala Dunia 1966 di Inggris. Pertandingan tersebut melahirkan salah satu kontroversi terbesar dalam sejarah sepak bola ketika kapten Argentina, Antonio Rattin, diusir keluar lapangan oleh wasit asal Jerman Barat, Rudolf Kreitlein. Rattin kartu merah karena dianggap melakukan "kekerasan verbal", sebuah keputusan yang ironis karena sang wasit sendiri tidak memahami bahasa Spanyol.
Rattin yang murka menolak meninggalkan lapangan. Dalam aksi protesnya, ia menduduki karpet merah khusus keluarga kerajaan Inggris milik Ratu Elizabeth II dan meremas bendera sudut lapangan yang berlogo Union Jack. Setelah Inggris memenangkan laga panas itu dengan skor 1-0, manajer Inggris, Alf Ramsey, memicu kemarahan publik Amerika Latin akibat melarang para pemainnya bertukar kaus dengan pemain Argentina, sembari melabeli tim lawan sebagai "binatang" (animals). Media Argentina tidak tinggal diam dan langsung melabeli pertandingan tersebut sebagai El Robo del Siglo atau "Pencurian Abad Ini". Peristiwa di Wembley inilah yang menjadi batu pertama dari dinding tebal permusuhan sepak bola kedua negara.
Ketegangan di lapangan hijau tersebut kemudian menemukan pembenaran yang jauh lebih gelap dan nyata di dunia riil. Pada 2 April 1982, junta militer Argentina di bawah kepemimpinan Jenderal Leopoldo Galtieri melakukan invasi ke Kepulauan Falkland atau yang oleh masyarakat Argentina disebut Islas Malvinas. Langkah ini direspons cepat oleh Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher, yang mengirimkan armada militer besar-besaran untuk merebut kembali wilayah tersebut.
Menurut catatan sejarah resmi dari Imperial War Museums (IWM), perang singkat namun brutal ini berlangsung selama 74 hari dan berakhir pada 14 Juni 1982 setelah Argentina menyerah tanpa syarat di Port Stanley. Perang ini menyisakan duka mendalam dengan gugurnya sekitar 649 tentara Argentina, 255 personel militer Inggris, dan 3 warga sipil Falkland.
Hingga hari ini, sengketa kedaulatan atas kepulauan di ujung selatan Atlantik ini masih jauh dari kata selesai. Kedua belah pihak kukuh dengan argumen hukum dan sejarah masing-masing. Pemerintah Argentina melandaskan klaim mereka pada kedekatan geografis serta warisan wilayah dari kolonial Spanyol pada abad ke-19.
Sebaliknya, Inggris menegaskan kedaulatan mereka berdasarkan administrasi pemerintahan yang telah berjalan terus-menerus sejak tahun 1833, serta prinsip menentukan nasib sendiri (self-determination) bagi penduduk asli pulau tersebut. Dokumen resmi dari Pemerintah Kepulauan Falkland (Falkland Islands Government) mencatat bahwa dalam referendum yang digelar pada tahun 2013, sebanyak 99,8 persen penduduk Falkland memilih untuk tetap berada di bawah wilayah seberang laut Inggris.
Secara militer, perang 1982 menghasilkan keputusan yang tegas dengan kembalinya kontrol penuh Inggris. Secara politik domestik, kekalahan memalukan ini memicu runtuhnya rezim diktator militer di Argentina dan mengembalikan sistem demokrasi di sana pada tahun 1983. Di pihak seberang, kemenangan militer ini melambungkan kembali popularitas Margaret Thatcher yang sempat merosot akibat krisis ekonomi domestik.
Namun, resolusi perang tersebut tidak pernah menyelesaikan sengketa kedaulatan di tingkat diplomasi internasional. Berdasarkan ketetapan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai wilayah yang belum memiliki pemerintahan sendiri (non-self-governing territories), status kepulauan ini tetap dikategorikan sebagai wilayah sengketa. Argentina bahkan mempertegas klaim kedaulatan atas Malvinas dengan memasukkannya ke dalam konstitusi negara mereka lewat amendemen tahun 1994.
Luka perang yang belum kering langsung menjalar ke lapangan hijau, mengubah pertandingan sepak bola menjadi perang pengganti (proxy war) yang sarat emosi. Hanya empat tahun setelah perang, kedua negara kembali bentrok di perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko. Laga ini abadi lewat kaki dan tangan Diego Maradona. DGol "Tangan Tuhan" yang kontroversial dan solo-run luar biasa yang dinobatkan sebagai Goal of the Century seolah menjadi katarsis bagi bangsa Argentina. Maradona sendiri dalam otobiografinya mengakui bahwa pertandingan tersebut terasa seperti memenangkan pertempuran tersendiri untuk membalas dendam para pemuda Argentina yang gugur di Falkland.
Ketegangan serupa terus berlanjut ke generasi berikutnya. Pada Piala Dunia 1998 di Prancis, drama kembali meledak ketika bintang Inggris, David Beckham, diganjar kartu merah setelah terpancing provokasi dan melanggar Diego Simeone. Pertandingan demi pertandingan terus memelihara ingatan kolektif akan konflik 1982, membuktikan bahwa bagi kedua negara, laga ini tidak pernah murni soal olahraga.
Perang Urat Saraf Menjelang Semifinal 2026
Kini, atmosfer panas itu kembali menyengat menjelang laga semifinal Piala Dunia 2026. Genderang perang psikologis (psywar) sudah ditabuh bahkan sebelum peluit pertama dibunyikan. Media internasional terkemuka seperti The Guardian dan Reuters menyoroti bagaimana pernyataan resmi dari Perdana Menteri Argentina kembali menegaskan hak historis atas Malvinas di ruang publik, sebuah langkah yang dinilai publik Inggris sebagai provokasi politik yang memanfaatkan momentum olahraga.
Sebagai catatan, tahun lalu, konflik ini juga menyeruak setelah Kementerian Luar Argentina menolak eksplorasi bawah laut yang dilakukan oleh perusahaan Inggris Rockhopper Exploration PLC dan perusahaan Israel Navitas Petroleum. Kedua perusahaan tersebut mengumumkan niatan mereka mengambil langkah “Final Investment Decision” untuk memulai pengembangan ladang Sea Lion, yang terletak di Cekungan Malvinas Utara, di lepas Kepulauan Malvinas, tanpa izin dari otoritas berwenang Argentina.
Kembali ke Piala Dunia 2026, Suasana semakin memanas di media sosial setelah bocornya sebuah video dari ruang ganti tim nasional Argentina setelah kemenangan mereka di perempat final. Dalam video tersebut, para pemain terlihat menyanyikan yel-yel bernada ejekan yang menyinggung kekalahan Inggris dalam perang masa lalu serta menegaskan kembali klaim atas Malvinas. Sepak bola sekali lagi dipaksa memikul beban sejarah yang sangat berat.
Jika kita mau melihat lebih jernih dan menguliti konflik ini melampaui riuhnya stadion, Perang Falkland sejatinya bukanlah soal kesucian harga diri bangsa. Ini adalah cerita klasik tentang ego kerakusan geopolitik demi eksploitasi sumber daya alam. Kepulauan yang terkesan dingin dan terpencil tersebut ternyata menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa.
Menurut laporan ilmiah dari British Geological Survey (BGS), wilayah perairan di sekitar Falkland kaya akan cadangan minyak dan gas alam yang diperkirakan mencapai miliaran barel. Selain itu, sektor perikanan komersial laut dalam di kawasan tersebut menghasilkan komoditas bernilai sangat tinggi yang menjadi perebutan ekonomi.
Tensi panas yang kini merembet ke para pemain dan pendukung sepak bola sebenarnya merupakan dampak negatif jangka panjang dari kebijakan luar negeri kedua negara yang hipokrit. Para elite politik dari kedua belah pihak gemar membungkus klaim wilayah ini dengan narasi heroik demi "kesejahteraan rakyat" atau "kedaulatan bangsa". Namun pada kenyataannya, konflik ini adalah tentang perebutan penguasaan wilayah demi keuntungan ekonomi mutlak dan stabilitas politik penguasa. Masyarakat umum dan pencinta sepak bola terus dicekoki narasi kebencian, sementara para elite tetap menikmati hasil dari konsesi minyak dan eksploitasi alam di sana.
