Andie Peci adalah orang yang selalu berusaha membangun sesuatu yang kelak harus mampu hidup tanpa dirinya.
Kalimat itu bukan kesimpulan, tapi jawaban untuk diri saya sendiri setelah berjam-jam berpikir: apa yang bisa diingat dari Andie Peci. Saya berkali-kali bertanya kepada diri sendiri: bagaimana cara menulis kehidupan seorang pengorganisir?
Menemukan jawabannya ternyata tidak mudah. Kita tahu seorang penulis diabadikan oleh bukunya, sebagaimana seprang pemikir dikenang lewat teori, atau musisi melalui lagu-lagunya. Politisi pun meninggalkan jejak yang relatif mudah ditelusuri: pidato, jabatan, hingga kebijakan.
Namun, seorang pengorganisir bekerja dengan cara berbeda. Sebagian besar yang ia kerjakan justru menghilang, menyusup diam-diam ke dalam denyut hidup orang lain. Ketika organisasi itu berhasil, atau sel-sel yang ia bangun berbiak, yang tampak adalah orang-orang yang terus melangkah dan organisasi yang tetap hidup ketika generasi baru datang menggantikan. Di tengah semua itu, nama yang mula-mula meletakkan batu pertama perlahan memudar.
Pemahaman itu muncul setelah saya mengingat kembali sebuah percakapan biasa. Suatu waktu, saya bertanya tentang Persebaya—perihal yang sudah cukup lama tidak kami singgung dalam obrolan. Pertanyaan saya siang itu melompati perkara teknis pertandingan atau kalkulasi hasil akhir sebuah musim, sebab saya hanya ingin tahu bagaimana keadaan di sana sekarang, bagaimana kabar orang-orangnya, serta bagaimana jalannya kehidupan yang dulu menyedot begitu banyak waktu dan energinya.
Jawaban yang keluar rupanya ringkas: "Sudah ada generasi baru yang mengurusnya. Biarkan mereka mengambil tindakan yang salah atau benar, dan biarkan mereka belajar dari seluruh kemungkinan."
Jawaban itu terasa sederhana kalau tidak mengingat apa yang pernah ia lalui. Ada masa ketika hampir seluruh hidupnya terserap ke Persebaya. Bagi banyak orang ia dikenal sebagai salah satu wajah yang paling sering terlihat di garis depan ketika klub itu kehilangan pengakuannya. Bersama banyak orang lain ia mengorganisir Bonek, memimpin demonstrasi, berhadapan dengan aparat, sampai suatu malam dibacok beberapa jam setelah sebuah aksi. Tangannya menerima puluhan jahitan. Beberapa pekan kemudian ia sudah muncul lagi memimpin barisan.
Ketika status Persebaya dipulihkan dan klub itu kembali ke kompetisi resmi, saya malah tidak lagi sering mendengar kabar tentang Peci dari tribun. Namanya lebih sering muncul dari kota-kota lain. Lampung. Bengkulu. Riau. Kadang dari sebuah pabrik. Kadang dari perkebunan sawit. Kadang dari sebuah sekretariat serikat buruh yang baru mulai dibangun.
Ada satu hal aneh yang sampai hari ini belum selesai saya pikirkan. Tiga tahun terakhir Peci banyak menghabiskan waktunya di Cirebon, tepatnya di sebuah kecamatan tempat saya dibesarkan. Di sana ia membangun sel-sel serikat buruh, di jalan-jalan yang saya hafal sejak kecil, tidak jauh dari sekolah tempat saya menghabiskan masa SMA.
Saya sudah lama meninggalkan kampung itu. Bapak, ibu, dan adik-adik saya pun tidak lagi tinggal di sana sehingga hampir tak ada alasan untuk pulang. Sampai akhir hayatnya, saya tak pernah benar-benar menyadari bahwa pekerjaan pengorganisasian yang selama ini sering ia ceritakan ternyata berlangsung di tempat yang justru paling saya kenal. Kampung yang selama ini hanya hidup sebagai kenangan bagi saya, ternyata hidup sebagai medan pengorganisasian baginya.
13 tahun lalu, saya pernah menginap di sekretariat KASBI Surabaya bersama Andreas Marbun. Kami bertiga tidur di ruang utama sekretariat, beralaskan karpet yang sudah lecek, di bawah potret besar Marsinah. Sekretariat itu bukan hanya tempat rapat. Di situlah orang datang membawa pengaduan, menyusun aksi, singgah, beristirahat, lalu berangkat lagi ke tempat lain. Beberapa jam setelah saya meninggalkan sekretariat itu, Peci dibacok segerombolan orang di tempat yang sama.
Saya merasa dua peristiwa itu memang tidak pernah benar-benar terpisah dalam hidupnya. Sekretariat buruh dan tribun sepak bola tidak berdiri sebagai dua dunia yang berbeda. Ia berpindah dari satu ke yang lain seperti berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan berikutnya, nyaris tanpa kalender dan jam kerja yang jelas.
Seorang wartawan masih mungkin menjadwalkan wawancara pada pagi atau siang hari. Seorang akademisi dapat mengajar, meneliti, atau berdiskusi ketika kampus masih ramai. Pengacara maupun aktivis organisasi masyarakat sipil pun umumnya dapat menggelar rapat, menyusun strategi, atau melakukan advokasi pada jam-jam ketika matahari masih tinggi.
Perbedaan itu bukan soal kadar pengabdian, totalitas pada pekerjaan, atau penting-tidaknya sebuah urusan. Medan kerjanya memang berbeda.
Buruh baru benar-benar memiliki waktu setelah jam kerjanya usai. Karena itu, pendidikan politik perlu menunggu sirene pabrik berhenti berbunyi. Percakapan dimulai ketika seragam kerja mulai dilepas, ketika sebagian orang sedang makan malam, atau ketika rumah-rumah pelan-pelan mematikan lampunya. Dari satu pabrik ke pabrik lain, dari satu kota ke kota berikutnya, hari-harinya berulang hampir tanpa jeda.
Peci tidak pernah benar-benar memiliki jam kerjanya sendiri. Hari-harinya baru dimulai ketika hari kerja orang-orang yang sedang ia organisir berakhir. Waktu yang ia tinggali adalah sisa waktu milik orang lain: beberapa jam yang terselip di antara kelelahan, perjalanan pulang, dan pagi yang segera datang lagi menuju shift pabrik berikutnya.
Bertahun-tahun hidup di dalam irama seperti itu, tubuhnya perlahan belajar melupakan iramanya sendiri. Sedikit demi sedikit, ia lebih setia mengikuti detak kehidupan orang lain daripada detak tubuhnya sendiri.
Belakangan seorang kawan yang pernah beberapa waktu mengikuti Peci berkeliling dari satu pabrik ke pabrik lain bercerita kepada saya. Maksud Peci sederhana. Ia ingin pekerjaan itu suatu hari tidak lagi bergantung padanya. Pabrik-pabrik yang selama ini ia datangi diharapkan dapat diteruskan oleh kader-kader yang sedang ia siapkan, sementara ia bergerak ke tempat lain yang belum sempat disentuh.
Kawan itu akhirnya berhenti dan bersaksi, "Tidak ada yang sanggup mengikuti ritme hidup seperti yang dilakukan Mas Peci."
Setahun menjelang ia tumbang, Peci mulai berusaha lebih tertib merawat tubuhnya. Namun ongkos yang sedang ditagih tubuhnya terasa jauh lebih tua daripada usaha-usaha itu. Ritme pengorganisasian telah lebih dulu tinggal lama di dalam dirinya—dan itulah akar persoalannya.
Surabaya semakin sering ia tinggalkan. Persebaya tetap ia ikuti, tetapi bukan lagi sebagai orang yang setiap hari hidup bersama denyut tribun seperti dahulu. Sel-sel suporter yang sadar persoalan kelas yang ia bangun telah memiliki kehidupan dan persoalannya sendiri.
Tidak semua orang dapat tinggal lama di dalam ritme yang membuat hari dimulai ketika sebagian besar orang sedang mengakhirinya. Pengorganisasian tak hanya membentuk sel-sel yang baru, tetapi juga perlahan menentukan apa yang masih bisa melekat dengannya dan apa yang pelan-pelan harus dilepaskan. Kota berikutnya selalu menunggu, sementara kehidupan yang lain sering kali harus menunggu lebih lama. Dan tidak semua hal dapat terus-menerus menunggu.
Setiap keputusan pada akhirnya memang selalu berarti memutus sesuatu. Kata decide dalam bahasa Inggris berasal dari akar kata yang berarti "memotong hingga putus". Memang begitulah kehidupan bekerja. Setiap kali seseorang memilih satu jalan, ada jalan lain yang perlahan terlepas darinya. Sebagian keputusan terasa ringan ketika diambil, karena ongkosnya baru ditagih jauh di kemudian hari.
1 Juni lalu, saya menjenguknya di rumah sakit di Surabaya. Peci sudah tampak jauh lebih baik daripada yang saya bayangkan. Tubuhnya masih menyisakan pembengkakan, tetapi bukan itu yang paling lama tinggal dalam ingatan saya. Yang paling asing adalah melihat seseorang yang selalu mengerjakan sesuatu kali ini tidak sedang mengerjakan apa pun; bagaimana seseorang yang selalu mengurus orang lain, kini harus mengurus dirinya sendiri.
Menjelang saya pulang, ia mengambil sebuah kaos bergambar Tan Malaka. Di bawah gambar itu tertulis: Sepak Bola adalah Alat Perjuangan. Saya yang baru saja menerbitkan buku tentang Tan Malaka justru datang tanpa membawakannya buku itu. Saya pikir masih akan ada waktu lain.
"Iki nggo awakmu," katanya sambil menyodorkan kaos itu.
Pagi ini saya baru menyadari bahwa sampai pertemuan terakhir pun Peci masih melakukan hal yang sama seperti yang ia kerjakan sepanjang hidupnya: selalu membuat orang lain pulang dengan membawa sesuatu darinya.
=======
