Kompetisi Sepak Bola Putri Kembali, Jangan untuk Pergi Lagi

Kompetisi Sepak Bola Putri Kembali, Jangan untuk Pergi Lagi
Font size:

Ada yang lebih sulit daripada mencetak gol di sepak bola Indonesia: memastikan sebuah kompetisi kembali digelar setelah bertahun-tahun menghilang, serta menjaga konsistensi ke depannya. Kekhawatiran itu muncul di tengah euforia menyambut bergulirnya Indonesia Women's League (IWL), yang sekaligus mengakhiri penantian sejak Liga 1 Putri terakhir kali dimainkan pada 2019. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Bagi sepak bola putri Indonesia, itu adalah masa ketika bakat-bakat tumbuh tanpa kepastian bahwa mereka akan punya panggung untuk menunjukkan kemampuannya.

Maka, kembalinya IWL perlu kita sambut dengan tepuk tangan. Ada enam klub berpartisipasi: Persija Jakarta, Persita Tangerang, Dewa United Banten, FC Bekasi City, Persikad Depok, dan Garudayaksa FC. Kompetisi memakai format triple round-robin, dengan setiap tim memainkan 15 pertandingan fase reguler sebelum empat tim teratas melaju ke semifinal. Seluruh pertandingan juga dipusatkan di Jakarta. Ini sebuah permulaan. Tetapi permulaan tidak otomatis berarti kemajuan.

Satu hal yang patut diapresiasi dari IWL: untuk pertama kalinya, kompetisi ini berada di bawah pengelolaan I.League, operator yang juga mengurus liga profesional putra. Ini membuka peluang agar sepak bola putri tidak lagi diperlakukan sebagai kegiatan tambahan atau sekadar pemenuhan kewajiban dalam kalender federasi. Penerapan standar lisensi pelatih dan aturan mengenai personel perempuan di bangku cadangan juga menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan kompetisi yang lebih profesional.

Enam peserta memang belum ideal, tapi lebih baik daripada tidak ada liga sama sekali. Format tiga putaran memberi setiap tim kesempatan bertanding lebih banyak daripada turnamen singkat. Sistem terpusat pun bisa menekan biaya perjalanan dan akomodasi, persoalan yang tidak bisa dianggap sepele ketika anggaran sepak bola putri masih terbatas. 

Masalahnya, efisiensi tidak boleh menjadi nama lain untuk keterbatasan yang dipelihara. Ketika enam klub berasal dari kawasan Jabodetabek, IWL memang menjadi lebih mudah diselenggarakan. Namun, sepak bola putri Indonesia tentunya tidak berhenti di Jabodetabek. Ada talenta di berbagai penjuru negeri yang tidak otomatis mendapat akses hanya karena liga profesional sudah kembali.

Kompetisi terpusat boleh menjadi langkah pertama. Akan tetapi, jika terus dipertahankan tanpa peta jalan ekspansi, liga ini berisiko menjadi ruang eksklusif bagi mereka yang secara geografis dan finansial lebih dekat dengan pusat penyelenggaraan.

Kita tentu tidak menuntut liga nasional langsung dihuni 18 klub dengan stadion megah dan hak siar bernilai fantastis. Kita hanya meminta penyelenggara memiliki pemaparan bagaimana enam klub hari ini bisa menjadi sepuluh, kemudian 14, lalu berkembang lebih luas. Sebab, kompetisi nasional semestinya menjadi tujuan yang dapat dijangkau pemain dari seluruh negeri, bukan sekadar nama besar yang ditempelkan pada turnamen regional.

Kritik berikutnya menyangkut kedalaman kompetisi. Dengan enam peserta dan 15 pertandingan fase reguler per klub, IWL menyediakan ruang bermain yang penting. Namun, apakah jumlah tersebut cukup untuk menopang karier profesional sepanjang tahun?

Musim kompetisi yang relatif pendek menyisakan pertanyaan tentang masa depan pemain. Bagaimana kontrak mereka setelah liga selesai? Apakah tersedia kompetisi kelompok umur, liga regional, dan jalur promosi pemain muda menuju tim senior? Pertanyaan ini bukan detail administratif. Bukan pula harapan muluk. Inilah perbedaan antara membangun industri sepak bola dan sekadar menyelenggarakan kompetisi atau turnamen.

Sepak bola putri juga membutuhkan ekosistem yang tidak hanya berisi pemain dan pelatih. Wasit perempuan, analis pertandingan, tenaga medis, pelatih kebugaran, jurnalis, serta staf manajemen harus memperoleh ruang berkembang. Jika sebuah liga hanya ramai selama tiga bulan, kemudian semua orang kembali mencari pekerjaan lain, kita sesungguhnya belum membangun industri. Kita baru menyewa panggung.

Sistem drafting pemain yang diperkenalkan untuk membantu pemerataan kekuatan antarklub juga menarik untuk dicermati. Namun, pemerataan melalui mekanisme perekrutan tidak boleh menggantikan pembinaan klub. Keseimbangan kompetisi musim ini akan terasa kurang berarti apabila musim depan klub masih bergantung pada pembagian pemain, alih-alih membangun akademi dan sistem rekrutmen sendiri.

Kita ingin melihat klub memiliki identitas permainan, jalur pengembangan pemain muda, serta keberanian berinvestasi dalam jangka panjang. Bukan sekadar mengumpulkan nama-nama bagus, mengejar trofi, lalu membongkar tim ketika kompetisi berakhir.

Sejarah Liga 1 Putri 2019 sepatutnya menjadi pengingat yang cukup keras. Kompetisi saat itu berlangsung dengan persoalan kesiapan, perubahan lokasi pertandingan, keluhan jadwal, dan kontroversi regulasi semifinal yang berujung pada diskualifikasi Persipura Putri setelah sengketa mengenai penentuan pemenang.

Artinya, persoalan sepak bola putri bukan semata-mata bagaimana memulai kompetisi, melainkan bagaimana memastikan penyelenggaraannya adil, terencana, dan konsisten.

IWL harus menjaga transparansi mengenai regulasi, jadwal, kondisi lapangan, standar medis, keselamatan pemain, serta mekanisme pengaduan. Standar siaran dan dokumentasi juga penting agar pemain memiliki rekam jejak performa yang dapat diakses klub, pencari bakat, dan publik.

Aktivitas hiburan, promosi, dan pengalaman menonton keluarga tentu berguna untuk menarik penonton. Namun, sepak bola putri tidak perlu disulap menjadi tontonan tambahan yang hanya laku ketika dikemas seperti festival. Ia adalah sepak bola, dengan tuntutan teknis, kompetisi, dan profesionalisme yang sama seriusnya. Pemain perempuan bukan dekorasi kampanye kesetaraan. Mereka atlet yang berhak mendapatkan fasilitas, perlindungan, upah, dan kesempatan berkembang secara layak.

PSSI juga berharap suporter datang ke stadion untuk mendukung IWL. Ajakan itu masuk akal, tetapi dukungan publik tidak bisa terus-menerus diperlakukan sebagai kewajiban moral penonton. Suporter perlu alasan untuk datang kembali. Mereka membutuhkan jadwal yang pasti, akses informasi yang mudah, pertandingan yang bisa ditonton, narasi pemain yang menarik, kompetisi yang berlangsung konsisten, dan berbagai alasan lain. Klub harus aktif mempromosikan tim putrinya sendiri, bukan baru mengingat keberadaan mereka ketika liga dimulai.

Media pun memiliki pekerjaan rumah. Pemberitaan jangan hanya muncul ketika Timnas Putri meraih gelar atau ketika seorang pemain mencetak gol spektakuler. Publik perlu mengenal karakter pemain, rivalitas klub, perkembangan taktik, hingga kisah perjuangan mereka sehari-hari. Popularitas tidak tumbuh dari permintaan agar orang peduli. Ia tumbuh ketika publik diberi alasan untuk mengenal dan mengikuti.

Pada akhirnya, IWL 2026/27 adalah kabar baik yang datang bersama tanggung jawab besar. Kita jangan sampai merusak perayaan dengan pesimisme, tetapi juga tidak boleh membiarkan euforia menggantikan evaluasi.

IWL tidak cukup hanya kembali bergulir. Ia harus membuktikan bahwa kali ini, sepak bola putri Indonesia benar-benar punya masa depan. Sebagai kompetisi yang sehat dan konsisten, pembinaan yang berjenjang, industri yang terus berkembang, hingga menjadi hiburan yang bisa dinikmati semua kalangan.

Menanti Konsistensi PSSI dan I.League Lewat League Cup
Artikel sebelumnya Menanti Konsistensi PSSI dan I.League Lewat League Cup
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait