(Di sebuah kota indah bernama Angers yang dibelah oleh aliran sungai Maine, lahir seorang anak yang kelak menjadi jawaban dari doa dan ikhtiar panjang tak berujung sebuah klub asal Paris)
Musim 2024/25 menjadi paling indah nan bermakna bagi klub asal ibu kota Prancis, Paris Saint Germain (PSG). Mereka akhirnya mencatatkan sejarah dalam sepak bola Eropa berkat keberhasilannya mengangkat Si Kuping Besar atau Big Ears (sebutan untuk trofi Liga Champions) untuk kali pertama setelah penantian panjang penuh kesabaran. Tidak hanya itu saja, PSG juga berhasil menuliskan namanya dalam jajaran klub-klub yang berhasil Quadruple. Laga final di Munich, Jerman, melawan Inter Milan berhasil menyita banyak pasang mata akan pemain muda PSG, Desire Doue.
Sebagaimana diketahui, sebelum musim 2024/25, PSG sangat kesulitan mendapatkan Big Ears. Walaupun klub tersebut telah diakuisisi oleh Qatari Sports Investments (QSI) sejak 2011, dan pemain bintang silih berganti menjadi penduduk Parc des Princes, asa selalu saja kandas. Capaian tertinggi terjadi pada 2019/20 ketika PSG hampir mendapatkan Big Ears untuk pertama kalinya. Nahasnya, PSG kalah di final melawan Bayern Munich lewat gol semata wayang mantan pemain PSG, Kingsley Coman.
Apa yang membedakan PSG musim 2019/20 dengan 2024/25 adalah cara bermainnya. Ketika musim 2019/20, pelatih Thomas Tuchel memberikan tugas kepada Neymar sebagai pusat permainan Les Rouge et Bleu. Sedangkan PSG 2024/25, Luis Enrique selaku pelatih menjadikan PSG sebagai tim yang bermain kolektif dengan determinasi tinggi ketika menyerang dan bertahan. Dari sini sudah terlihat perbedaan PSG versi Tuchel dan Enrique. Sistem Enrique memerlukan pemain yang bisa bermain di sistem yang terpadu tanpa ada yang dipusatkan. Di sistem yang tidak semua pemain bisa jalankan inilah Doue bersinar dengan cara yang tepat.
Meninggalkan Angers menuju Rennes
Lahir di kota Angers, Prancis, pada 3 Juni 2005, Desire Nonka-Maho Doue memiliki dua kewarganegaraan. Sang ayah berdarah Pantai Gading dan ibu berkebangsaan Prancis. Hal itu membuatnya sudah terbiasa hidup di lingkungan yang kental akan multikultural. Memiliki dua kewarganegaraan, Desire Doue memutuskan memilih Prancis sebagai negara yang dibela.
Di kelilingi saudara-saudara yang menjadi pemain sepak bola profesional seperti sang kakak, Guela Doue, dan dua sepupunya Yann Gboho dan Marc-Olivier Doue, membuat Desire Doue memiliki lingkungan yang tepat untuk menjadi pemain sepak bola profesional.
Pada usia lima tahun, Doue merelakan kehilangan sebagian waktu masa kecilnya menikmati kota Angers yang indah karena harus pergi sejauh kurang lebih 130 kilometer menuju kota Rennes Tujuanya adalah untuk menempuh pendidikan di salah satu akademi yang menjadi kawah chandradimuka penghasil talenta terbaik di Prancis, akademi Stade Rennes.
Selama di akademi Stade Rennes, jalan yang ditempuh Doue tidak selalu mulus. Di sana ketangguhan mental, emosi, dan cara berpikirnya, ditempa sekeras mungkin supaya sukses menjadi pemain profesional. Salah satu contohnya ketika Doue bermain di tim U-11 Rennes. Saat itu Doue dihadapkan dengan keputusan pelatih yang memainkannya di posisi bertahan, berbanding terbalik 180 derajat dengan peran aslinya kala itu. Bagi anak berumur kurang dari 11 tahun, wajar jika keputusan pelatih tersebut sempat membuatnya frustrasi dan ingin berhenti bermain sepak bola.
Namun berkat dukungan dari keluarga dan bimbingan yang tepat dari akademi Rennes, Doue berhasil melewati masa-masa sulit ketika menimba ilmu. Dengan berbagai ilmu yang dipelajari baik dari pengalaman maupun para pelatih, Doue akhirnya berhasil memiliki resiliensi dan adaptabilitas yang teruji dan tentunya berguna dalam menempuh jalan menjadi pesepak bola profesional.
Pada Februari 2021, menjadi momen penting bagi karier Doue. Pelatih Stade Rennes saat itu, Bruno Génésio, mengajaknya berlatih di tim senior saat masih berumur 15 tahun. Génésio tau Doue memiliki potensi yang besar. Tebakan Genesio benar, Doue berhasil menunjukkan potensi terbaiknya selama latihan dengan tim senior. Dia sukses membuka lembaran pertama menjadi pemain sepak bola profesional dalam hidupnya.
Mimpi yang menjadi kenyataan
Pada 14 April 2022, sebuah dokumen yang memuat kontrak menjadi pemain profesional berhasil ditandatangani Doue. Kesekian kalinya Rennes kembali berhasil mengorbitkan pemain akademinya ke level profesional. Debut Doue terjadi pada 7 Agustus 2022 saat melawan Lorient, pekan pertama Ligue 1. kala itu, Doue memulai pertandingan dari bangku cadangan pada menit ke-73. Namun nahas, debutnya tidak memberikan kesan yang bagus, karena Lorient berhasil membawa tiga poin dari Stadion Roazhon Park, kandang Rennes.
Tidak perlu menunggu waktu lama bagi Doue untuk bersinar di Roazhon Park. Pada pertandingan kelima Stade Rennes di Ligue 1, Doue berhasil membuat gol ke gawang Brest. Sebuah gol yang sangat berarti karena itu merupakan yang pertama dalam karier profesional. Dia juga menjadi pemain pertama kelahiran 2005 yang berhasil mencetak gol di salah satu lima liga top Eropa.
Tidak hanya itu rekor yang ditorehkan Doue Pada 6 Oktober 2022, dalam turnamen UEFA Europa League melawan Dynamo Kyiv, Doue berhasil mencetak gol kemenangan untuk Rennes. Gol yang membuat namanya kembali terukir dalam sejarah sebagai pencetak gol termuda Prancis dalam kompetisi antarklub Eropa dalam usia 17 tahun, 4 bulan, dan 4 hari
Musim pertama Doue sebagai pemain profesional dalam usia 17 tahun berhasil membuat publik Prancis kagum. Dengan torehan 4 gol dan 1 assist dari 13 kali starter dalam 34 pertandingan bersama Rennes, nama Doue semakin diperhitungkan untuk menjadi pemain besar. Musim 2023/24 merupakan penegasan sikap dari Doue sebagai calon pemain bintang layaknya Kylian Mbappe pada usianya saat itu. Doue berhasil menjadi starter dalam 25 laga bersama Rennes. Dia pun membukukan 4 gol dan 4 assist.
Génésio sangat berjasa dalam membimbing Doue berkembang ketika menjadi pemain profesional, mengajarkannya pelajaran berharga. Contohnya, Génésio pernah menarik Doue saat pertandingan baru berjalan 17 menit. Saat itu, dia ingin mengajarkan Doue bahwa kontribusi kepada tim di atas segalanya, dibandingkan diri sendiri. Secara tidak langsung Génésio ingin mengajarkan bahwa setiap pemain memiliki tugas untuk bertahan dan menyerang, dan juga bermain kolektif sebagai sebuah tim. Sebuah pelajaran yang kelak membawanya kepada panggung yang lebih besar.
Tidak butuh waktu lama bagi Doue untuk menapaki panggung yang lebih besar setelah petualangan dua tahun di Stade Rennes. Pada jendela transfer musim panas 2024/25, dua klub raksasa Eropa, PSG dan Bayern Munich, berebut tanda tangannya. Doue akhirnya memilih PSG. Setelah menerima dan menyetujui proyek yang dibawa oleh Luis Enrique. Doue berlabuh ke Paris pada 17 Agustus 2024 dengan biaya €50 juta dan menandatangani kontrak sampai 30 Juni 2029.
Jawaban dari ikhtiar panjang Les Parisiens
Musim pertama di PSG tidak perlu dihabiskan untuk beradaptasi, karena Doue telah memenuhi syarat yang dimiliki oleh Enrique untuk bermain di sistemnya. Doue berhasil menjadi salah satu pemain yang disayangi publik Les Parisiens. Sering bermain sebagai pengganti pada 6 bulan awal, tak lantas membuat Doue berkecil hati dan tetap percaya pada keputusan yang dibuat oleh Enrique.
Pada 11 Desember 2024, laga keenam Liga Champions, PSG bertamu ke Red Bull Arena di Austria untuk menjamu RB Salzburg. Pada menit ke-66, PSG selaku tim tamu memimpin pertandingan dengan skor 1-0 berkat gol Goncalo Ramos, yang akhirnya digantikan oleh Doue. Bermain menggantikan posisi Ramos tentu bukan yang ideal baginya. Namun berkat pengalaman ketika di Stade Rennes, perubahan posisi tidak menjadi masalah.
Memasuki menit ke-85, underlap Achraf Hakimi ke dalam kotak penalti Salzburg berhasil menarik empat pemain bertahan Salzburg. Hakimi yang melihat Doue berdiri bebas di area kotak penalti segera mengirim umpan datar tepat ke kaki kanan Doue. Tidak perlu menunggu lama, Doue mengambil keputusan cerdas. Dia dengan tenang mengarahkan bola ke kanan atas gawang Salzburg, dan berhasil menggetarkan gawang Salzburg. Itu menjadi gol pertama Doue berseragam PSG.
Perkembangan Doue di PSG ibarat grafik saham. Doue pada musim pertama di PSG berkembang lebih baik setiap waktunya. Dia tidak hanya memiliki atribut menggiring bola yang memukau dan bisa digunakan di banyak posisi, juga punya ketenangan dan kedewasaan ketika bertanding. Hal yang sangat mahal dari dalam diri pemain usia 20 tahun.
Pada 12 Maret 2025, PSG bertamu ke Anfield untuk melawan Liverpool pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions. Pertandingan tersebut menghasilkan agregat 1-1 dan adu penalti tidak dapat dihindari. Doue maju untuk mengeksekusi penalti keempat PSG yang pada saat itu memimpin 3-1. Tekanan besar tertuju kepadanya karena PSG hanya butuh satu gol untuk memastikan tiket ke babak selanjutnya. Doue dengan tenang berdiri tepat di arah jam 12 dari kiper Liverpool, Alisson Becker.
Ketika peluit ditiup wasit, Doue segera mengambil napas panjang untuk menetralkan grogi. Dia melangkah ke kiri sebanyak tiga kali sebelum berlari kecil untuk menendang bola dengan keras menggunakan kaki kanan. Bola darahkan ke kanan atas gawang, Alisson melompat ke arah yang berlawanan. Anfield bergemuruh, bukan oleh Kopites, melainkan Ultras PSG yang merayakan kemenangan PSG.
Kedewasaan Doue sebagai pemain muda profesional ditunjukkannya melalui cara bersikap baik di dalam atau luar lapangan. Di luar lapangan, Doue berhasil menjaga dirinya untuk tidak terlena dengan pencapaian yang sudah didapatkannya. Popularitas tidak digunakannya dengan salah. Sebaliknya ketika di lapangan, Doue menunjukkan kedewasaan dengan tidak pernah protes terhadap keputusan yang dibuat oleh Enrique. Tidak pernah marah ketika bertanding tidak sejak menit pertama, atau posisi bermainnya yang berubah-ubah.
Puncak dari ketenangan dan kedewasaan yang dimiliki Doue disajikan ketika PSG menjamu Inter Milan pada partai puncak Liga Champions 2024/25 di Allianz Arena. Pertadingan yang digadang-gadang akan sengit, ternyata timpang. Pemuda asal kota Angers yang belum genap berumur 20 tahun berhasil menjadi man of the match di pertandingan tersebut berkat kontribusi tiga golnya untuk PSG. Tidak berusaha mengesampingkan permainan kolektif PSG, tapi tanpa Doue di partai final, ada kemungkinan Inter bisa merebut takhta penguasa Eropa.
Satu assist dan dua gol yang dicatat oleh Doue menunjukkan ketenangannya dalam menjalani pertandingan dengan tekanan yang tinggi. Sedangkan, kedewasaannya tergambar ketika menerima dengan lapang dada keputusan Enrique menariknya dari lapangan selepas tiga menit sebelumnya mencatat brace. Bisa saja di pertandingan tersebut Doue hat-trick. Tapi Enrique mungkin tahu hal tersebut bisa membuat Doue berpuas diri, dan itu tidak baik untuk pemain muda.
Keberhasilan menjadi man of the match di partai final menjadi penutup indah Doue pada musim pertamanya di PSG. Jika dulu mengabaikan perintah Bruno Génésio dan tidak serius menempa diri di akademi Rennes, mungkin kita tidak akan mengenal Doue dengan pencapaian memukaunya saat ini. Dia meraih berbagai pencapain individu Doue di tahun pertamanya berseragam PSG, termasuk Ligue 1 Young Player of the Year (2024-2025), masuk ke dalam UNFP Ligue 1 Team of the Year (2024-2025), UEFA Champions League Young Player of the Season (2024-2025), dan jadi bagian dari UEFA Champions League Team of the Season (2024-2025).
Perjalanan Doue masih panjang dan berliku. Bisa saja tulisan ini tidak lagi relevan ketika dibaca beberapa tahun mendatang karena berbanding terbalik dengan apa yang Doue tampilkan di dalam dan luar lapangan. Namun, apa pun itu, mari kita nikmati momen-momen permainan indah nan taktis dari Desire Doue saat ini. Karena cara menikmati sepak bola dengan menyenangkan menurut saya adalah merayakan satu momen ke momen berikutnya.
