"Gabriel fire into Budapest sky," teriak Peter Drury, sesaat usai bola bercorak bintang yang ditendang oleh Gabriel Magalhaes melambung ke atas mistar gawang kawalan Matvey Safonov. Kata-kata yang keluar dari mulut komentator kawakan tersebut tentu terasa menyakitkan bagi para penggemar Arsenal di seluruh planet bumi. Sebaliknya, ia terdengar bagai puisi paling manis yang dibacakan tahun ini. Puskas Arena bergemuruh. PSG berpesta, Arsenal merana.
Janganlah kita bayangkan Arsenal menang malam itu. Tapi coba kita bayangkan saja Arsenal (tetap) kalah tanpa melalui babak adu penalti. Rasa-rasanya, andai Arsenal tumbang dalam waktu normal 90 menit dengan skor meyakinkan, 0-2 atau 0-3, dari PSG, gemanya tak akan sepanjang ini.
Namun, seperti yang kita ketahui bersama, pada faktanya Arsenal kalah melalui babak adu penalti. Pada tendangan kelima, di titik puncak nan paling menentukan. Gabriel pun tak kuasa membendung kesedihan dan langsung ditenangkan oleh rekan satu negaranya, Marquinhos—sebelum dikerubungi oleh rekan-rekannya di Arsenal.
Konon, seorang centre back macam Gabriel sering gagal manakala mengemban tugas mengeksekusi penalti. Biasanya, bola yang disepak oleh seorang bek akan melambung tinggi ke atas mistar gawang lantaran terbiasa melakukan clearance atau menyapu bola sejauh mungkin dari gawang saat dalam mode bertahan.
Peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan dibunyikan. Permainan lalu bergeser ke internet. Tampaknya, ada banyak pihak yang telah bersiap untuk melempar banter atau kelakarnya. Satu yang paling mengundang perhatian, datang dari postingan akun resmi Chelsea di Instagram dan X. Di sana, mereka "pamer" raihan trofi berkedok promosi stadium tour.
Postingan tersebut diunggah sesaat setelah pertandingan final Liga Champions 2025/26 antara PSG melawan Arsenal berakhir. Jumlah like yang diperoleh di Instagram terbilang tinggi, lebih tinggi bila dibandingkan dengan unggahan-unggahan reguler lainnya.
Rival sekota Arsenal yang lain, yakni Crystal Palace, turut mengunggah postingan di X saat mereka mengangkat trofi UEFA Conference League musim 2025/26. Caption yang dipakai singkat saja: European Champions. Memang, kompetisi itu berada di level tiga, di bawah Liga Champions dan Europa League. Namun, klub yang bermarkas di Selhurst Park itu baru saja mencicipinya ketika Arsenal masih terlalu setia menghuni posisi kedua di final-final kompetisi Eropa: Final 2006 Paris, Final 2019 Baku (Europa League), dan Final Budapest 2026.
Nottingham Forrest tak mau ketinggalan. Mereka mengunggah foto lama saat berhasil memenangkan trofi "Si Kuping Besar". Yang satu ini, mungkin dapat dibaca begini: walaupun momen ini telah terjadi puluhan tahun yang lalu, tapi kami sudah punya trofinya!
Dari barisan pemain, penyerang andalan Manchester City, Erling Haaland, gercep mengunggah foto selfie bersama tiga orang temannya. Postingan ke-1000, kata Haaland. Jika melihat persaingan antara Manchester City dengan Arsenal di Liga Inggris musim ini, juga polah tingkah antara Haaland dengan Gabriel dalam pertemuan terakhir mereka di Etihad Stadium, agaknya postingan itu punya maksud lain. Dalam perjumpaan terakhir itu, keduanya sering terlibat duel hingga cekcok, sampai baju yang dikenakan Haaland pun sobek compang-camping.
Jika sebelumnya olok-olokan atau banter biasa dilakukan oleh para penggemar atau akun-akun troll di internet, kekalahan Arsenal atas PSG telah membawa fenomena yang berbeda—di mana banter dilakukan secara terang-terangan oleh akun media sosial resmi klub dan juga dari sesama pemain.
Peluit panjang laga final yang digelar ibu kota Hungaria memang telah dibunyikan. Namun "babak perpanjangan" masih saja terus bergulir. Video-video dan meme gagalnya Gabriel menendang penalti masih terus diunggah dan ramai mendapat eksposur. Bahkan, ada GIF khusus yang dapat ditemukan di kolom-kolom komentar postingan terkait.
Tendangan penalti Gabriel yang disebut oleh Peter Drury mengangkasa di langit Budepest-Hungaria itu rupanya telah menebarkan kesenenangan tersendiri kepada mereka yang tak menghendaki Arsenal menjadi juara—di level Eropa.
Ditulis oleh Lorensa Brian (@lorensabrian)
