Manchester United meraih rentetan hasil negatif di semua kompetisi. Terbaru, kekalahan dari Bournemouth membuat mereka untuk sementara berada di posisi ke-16 klasemen Liga Inggris. Setelah delapan pertandingan tanpa kemenangan, pada akhir Oktober Setan Merah akan tandang ke markas Chelsea, Stamford Bridge. Apa mungkin pertandingan itu akan menjadi penentu nasib Michael Carrick?
Hasil yang sangat buruk pada awal musim 2026/27 memang menjadi sebuah alarm bahaya pada posisi Carrick. Sebelum dikontrak permanen, Carrick adalah pelatih sementara yang ditunjuk oleh manajemen Manchester United pada awal 2026 untuk menggantikan posisi Ruben Amorim. Pada waktu menjadi pelatih sementara, Carrick memulai debutnya dengan mengalahkan Manchester City 2-0, dan berhasil mengalahkan Arsenal di Emirates Stadium dengan skor 3-2. Total Michael Carrick menjalani 17 pertandingan Liga Inggris dengan meraih 12 kemenangan, 2 kalah, dan 3 imbang. Hasil ini membuat Manchester United berada di peringkat ketiga klasemen akhir Liga Inggris sekaligus lolos ke Liga Champions.
Menyongsong musim 2026/27, harapan kadang tidak sesuai yang diinginkan. Mungkin awal musim ini adalah sebuah bencana yang datang perlahan bagi Manchester United. Dimulai dengan transfer pemain yang buruk, di mana manajemen hanya membeli tiga pemain posisi gelandang semua, yakni Andrey Santos, Youri Tielemans, dan Carlos Baleba. Terakhir, Manchester United kembali memulangkan Marcus Rashford dari Barcelona.
Tentunya tidaklah cukup untuk menjalani empat kompetisi dengan komposisi pemain yang begitu kurang, apalagi masalah dari musim lalu yakni posisi bek sayap tidak ada penambahan. Melihat komposisi skuad untuk musim 2026/27, banyak sekali meragukan apakah bisa untuk menjalani empat kompetisi.
Mungkin keraguan itu terjawab pada laga perdana Liga Inggris, Manchester United secara mengejutkan kalah dari tim promosi, Hull City, dengan skor 0-2. Meskipun pada pertandingan selanjutnya menang 5-2 atas Ipswich Town, Manchester United kembali meraih hasil buruk: imbang lawan Everton, kalah dari Manchester City, tiga hasil seri beruntun sampai lawan Leeds United, dan kalah dari Bournemouh. Bahkan di Liga Champions, Manchester United terakhir menang adalah saat melawan Sabah 4-0 pada matchday 1, sebelum takluk dari Atletico Madrid dan Como.
Melihat situasi Manchester United dan posisi Carrick sebagai pelatih permanen, mengingatkan kita pada siklus yang terus berulang semenjak kepergian Sir Alex Ferguson pada akhir musim 2013. Setelah Ferguson pensiun, Manchester United menunjuk David Moyes sebagai pengganti ideal untuk melanjutkan tongkat kepelatihan. Namun, hasil yang di dapat tidak sesuai harapan. Moyes total menjalani 51 pertandingan di semua kompetisi dengan torehan 27 kemenangan, 9 imbang, dan 15 kekalahan. Hasil tersebut membuatnya dipecat pada April 2014 dan digantikan oleh Ryan Giggs sampai musim berakhir.
Awal musim 2014/15, Manchester United menunjuk Louis Van Gaal dengan harapan pengalaman selama melatih tim besar Eropa dapat mengangkat kembali tim setelah penampilan buruk selama era Moyes. Namun harapan itu kembali dikalahkan oleh kenyataan. Manchester United tampil tidak konsisten dan hanya mampu menempati peringkat keempat klasemen akhir Liga Inggris. Kabar baiknya, Louis Van Gaal tidak dipecat dan Manchester United lolos Liga Champions.
Memulai awal musim 2015/16 seperti biasanya dengan optimisme tinggi untuk kembali memuncaki Liga Inggris. Namun harapan itu kembali terpatahkan akibat penurunan peringkat akhir yang sebelumnya posisi keempat menjadi kelima. Namun, Van Gaal berhasil memberikan gelar FA Cup, meski hasil itu tidak membuat posisinya aman. Tepat setelah musim berakhir, Van Gaal dan Manchester United sepakat untuk berpisah. Setelahnya, klub langsung menunjuk pelatih sensasional, Jose Mourinho.
Seperti biasa, setiap awal musim optimisme muncul untuk kembali memuncaki Liga Inggris kembali. Apalagi awal musim ditukangi oleh pelatih sekelas Mourinho, laga perdananya mampu mengalahkan Leicester City di Community Shield 2016. Pada musim ini juga Mourinho memberikan dua piala selanjutnya: juara Piala Liga dan juara Europa League. Di Liga Inggris, Manchester United hanya mampu menempati peringkat keenam klasemen akhir, tetapi posisi Jose Mourinho tetap aman sampai musim selanjutnya.
Musim 2017/18 mungkin adalah musim terbaik Manchester United setelah era Sir Alex Ferguson, walau gagal menjuarai Liga Inggris, tetapi dari segi permainan enak ditonton. Pada musim ini juga Manchester United mencapai final FA Cup. Bahkan, kalau tidak ada Pep Guardiola dengan Manchester City yang begitu superior, mungkin Mourinho sudah memberikan gelar pertama Liga Inggris setelah era Ferguson.
Masuk musim 2018/19, Manchester United kembali menunjukkan performa yang menurun sampai pada akhinya kembali memecat pelatih. Mourinho dipecat pada Desember 2018 setelah rangkaian hasil yang mengecewakan dan kurang harmonisnya hubungan dengan beberapa pemain. Setelah Mourinho, manajemen menunjuk Ole Gunnar Solskjaer sebagai pelatih interim sampai akhir musim. Di luar dugaan Solskjaer mampu membawa Manchester United bangkit dengan presentase kemenangan sebesar 57,1 % dan mengakhiri Liga Inggris di posisi keenam.
Pada musim ini juga ada momen yang tak terlupakan yakni mampu comeback dari Paris Saint-Germain di Liga Champions. Leg pertama di Old Trafford memang kalah 0-2. Namun pada leg kedua di luar dugaan Manchester United mampu mengalahkan PSG dengan skor 3-1. Manchester United menang produktivitas gol tandang dan berhak lolos. Dengan hasil yang bagus ini Ole Gunnar Solskjaer mendapatkan kontrak permanen dari manajemen pada Maret 2019 dan siap untuk menyongsong musim depan.
Musim 2019/20 di mulai, Manchester United era Solskjaer memulai dengan bagus dengan melumat Chelsea 4-0. Namun, penampilan selanjutnya yang naik-turun membuat Manchester United hanya mampu menempati posisi ketiga klasemen akhir Liga Inggris. Pada musin ini juga Manchester United membeli Bruno Fernandes dari Sporting Lisbon.
Setelah melewati musim pertama penuhnya bersama Manchester United, Solskjaer menyambut 2020/21 dengan optimisme tinggi di tengah bencana Covid-19. Manchester United mampu menempati peringkat kedua di bawah Manchester City. Musim ini hampir saja Solskjaer memberikan gelar pertamanya, namun sayangnya harus kalah adu penalti melawan Villarreal di final Europa League.
Masuk musim 2021/22, tingkat optimisme semua pendukung sangat tinggi. Pada musim ini Manchester United membeli Jadon Sancho, Raphael Varane, dan menyambut kembali kepulangan Cristiano Ronaldo. Namun, bukannya hasil baik yang datang, melainkan penampilan yang buruk. Hal ini menyebabkan Solskjaer dipecat pada November 2021 setelah kalah telak dari Watford dengan skor 1-4. Setelah sempat dipimpin oleh Carrick, pada akhirnnya manajemen menunjuk Ralf Ragnick sebagai pelatih sementara sampai akhir musim.
Selama menukangi Manchester United, Rangnick harus menghadapi berbagai masalah yang membuat penampilan tidak kunjung membaik dan hanya mampu menempati posisi keenam pada akhir musim. Dengan hasil itu dan hubungannya dengan manajemen tidak baik membuat kerja sama Rangnick dan Manchester United resmi berakhir. Manchester United resmi menunjuk Erik Ten Hag untuk menjadi pelatih pada musim selanjutnya.
Masuk musim 2022/23 di era kepelatihan Erik Ten Hag, seperti biasa optimisme kembali tinggi untuk kembali meraih kejayaan. Namun, asa itu kembali dipatahkan oleh kenyataan pahit. Penampilan Manchester United tidak begitu konsisten dan hanya mampu menempati posisi ketiga klasemen akhir Liga Inggris. Mungkin musim ini lebih baik dari sebelumnya karena berhasil memutus puasa gelar setelah mampu meraih gelar Carabao Cup yang membuat posisi Ten Hag pun aman dari pemecatan.
Musim 2023/24 adalah musim di mana kata “tsunami trophy” sangat digaungkan oleh para pendukung. Apesnya, penampilan yang begitu tidak konsisten dan banyak pemain cedera membuat tim hanya mampu menempati posisi kedelapan di klasemen akhir Liga Inggris. Penampilan buruk musim ini ditutup dengan memenangkan gelar FA Cup setelah mengalahkan Manchester City di final. Ten Hag posisinya kembali aman dari pemecatan dan lanjut melatih pada musim berikutnya.
Musim 2024/25 dimulai dengan penampilan kurang menyakinkan hingga akhirnya Ten Hag dipecat pada Oktober. Siklus memecat pelatih kembali terjadi, dan manajemen menunjuk Ruud Van Nistelrooy sebagai pelatih sementara sambil mencari nama lain yang cocok. Setelah empat laga bersama Van Nistelrooy, manajemen memutuskan menunjuk Ruben Amorim pada November 2024. Bersama Amorim, Manchester United justru berada di posisi ke–15 pada akhir musim sekaligus yang terburuk sepanjang sejarah. Pada musim ini, Amorim berhasil membawa Manchester United masuk final Europa League, tapi sayang kalah dari Tottenham Hotspur. Posisi Amorim pun masih aman dari pemecatan.
Musim 2025/26 dimulai dengan penampilan yang bagus walau kalah tipis dari Arsenal. Akan tetapi, pada akhirnya siklus kembali terjadi. Pada awal 2026, Amorim dipecat. Alasan pemecatan mungkin terjadinya ketegangan dengan manajemen setelah laga melawan Leeds United. Setelah Amorim dipecat, ditunjuklah Carrick sebagai pelatih sementara dan mendapatkan kontrak permanen pada Mei 2026. Namun, memasuki musim 2026/27 rasanya siklus memecat pelatih akan terjadi karena penampilan buruk Manchester United sejauh ini. Patut ditunggu apakah siklus ini benar terjadi lagi atau Carrick mampu bangkit dan mempertahankan posisinya.
Pandit Sharing oleh: Alwi Fahrozi (Instagram: @awiiiii_11)
