Kecintaan saya terhadap sepak bola enggak bisa lepas dari bapak. Dari ikut SSB sampai menonton Eric “King” Cantona bikin gol di final Piala FA lewat televisi. Tapi core memory paling kuat justru waktu saya selebrasi gol Ole Gunnar Solskjaer ke gawang Bayern Munchen. Subuh-subuh, saya dan kakak-kakak teriak-teriak, dan bapak bete karena kami berisik.
Gantian, sewaktu Manchester United kalah dari Barcelona di final Liga Champions, bapak yang meledek habis-habisan. Bapak fans Barca karena permainannya yang atraktif, dan menurutnya mereka enggak pernah mengubah filosofi.
Tapi ada satu momen kami pasti satu kubu: setiap Timnas Indonesia main. Menonton timnas bareng sekeluarga sudah jadi kebiasaan. Bapak mengikuti timnas sejak lama, dan cerita-ceritanya soal jagonya almarhum Ricky Yacobi, generasi Rully Nere, sampai era Primavera selalu menempel di kepala saya.
Kami melewati momen menonton timnas dalam banyak era. Era timnas yang “hampir” mengalahkan Korea Selatan. Era langganan final Piala Tiger/AFF, lalu kalah. Yang paling sakit buat saya pada final Piala AFF 2010. Rasanya yakin banget kita juara. Laga pembuka, Malaysia dibantai 5-1. Irfan Bachdim, Cristian “El Loco” Gonzales, M. Nasuha, Ahmad Bustomi, semuanya terasa OP (over power). Lalu di final, melawan tim yang sama, kita justru kalah 0-3 pada leg pertama. Selesai.
Lama-lama kita belajar berdamai sama kegagalan. Lalu datang era naturalisasi besar-besaran, Luis Milla, Shin Tae-yong, dan untuk pertama kalinya timnas terasa benar-benar berkembang. Targetnya ikut naik kelas: dari “semoga lolos Piala Asia” menjadi “lolos Piala Dunia”.
Dan akhirnya, trofi itu datang: FIFA ASEAN Cup. Trofi yang menghapus kegagalan 2010, dan semua luka kecil lain yang kita kumpulkan sebagai fans, yang selalu berhenti di titik “hampir”. Walau cuma nonton dari rumah, haru, bangga, dan tangis bahagia tetap tumpah sewaktu Emil Audero menahan penalti lawan dalam babak tos-tosan. Tapi justru setelah euforia itu, saya mulai bertanya. Sebenarnya, target kita apa?
Kenapa kita, sebagai suporter, hampir enggak pernah tahu target sesungguhnya timnas Indonesia di setiap kompetisi? Dan ketidakjelasan ini, menurut saya, menyentuh sampai ke grassroot. Coba lihat kompetisi kelompok umur, antarsekolah, atau apa pun. Hampir semua tim targetnya juara, bagaimanapun caranya. Dari situ bibit curang tumbuh: colong umur, orang tua ribut di pinggir lapangan, wasit yang enggak fair, panitia yang tidak jelas dengan peraturan dan seterusnya.
Kalau satu-satunya ukuran sukses adalah juara, jangan kaget jika orang menghalalkan segala cara. Padahal, memangnya ada tim yang bisa juara terus? Lagipula bukankah kita yang sering mengajarkan anak untuk menghargai proses bukan fokus ke hasil?
Piala Dunia saja juaranya gonta-ganti. Paris Saint-Germain butuh bertahun-tahun membangun tim sampai akhirnya juara Liga Champions dua kali beruntun. Manchester United sampai sekarang masih kesulitan kembali merasakan juara Liga Inggris. Tapi setidaknya fans mulai tahu goals-nya: juara Liga Inggris di 2028, tepat pada ulang tahun ke-150 klub. Tercapai atau enggak, itu urusan lain. Yang penting ada tujuan, dan langkahnya disusun satu per satu.
Jadi, apakah timnas wajib juara di setiap turnamen ASEAN? Apakah SEA Games harus selalu emas? Sekarang ada Piala AFF dan FIFA ASEAN Cup. Akan menarik kalau dari awal dijelaskan fungsi tiap turnamen. Misalnya, SEA Games dan Piala AFF jadi panggung pemain untuk unjuk talenta, supaya saat persiapan Piala Asia, pelatih punya banyak pemain yang sudah kenyang menit pertandingan internasional.
Jangan salah, saya setuju kalau mau menaklukkan Asia, kita harus sukses dulu di ASEAN. Kalau perlu, berkuasa dengan telak, supaya di FIFA ASEAN Cup berikutnya kita juara lagi dan lagi.
Tapi bagaimana dengan Piala Asia? Kalau targetnya cuma “lolos jadi peserta”, ya begitu lolos, target tercapai. Kalau lalu gagal di fase grup, itu bukan kegagalan. Mungkin memang kita belum sampai di level itu. Masalahnya, karena targetnya nggak pernah diumumkan, setiap kompetisi ekspektasi pun setinggi-tingginya, sejauh-jauhnya.
Lalu timnas kelompok umur di kompetisi internasional, targetnya apa? Menambah pengalaman? Pengalaman untuk apa? Untuk menjalankan pola main, strategi, dan filosofi? (Ngomong-ngomong, kita punya filosofi bermain enggak, sih?) Dan sampai usia berapa targetnya berubah dari “cari pengalaman” jadi “harus hasil”? Oke, lolos Piala Dunia 2030. Terus apa?
Bayangkan kita lolos fase grup Piala Asia 2027 dan lolos Piala Dunia 2030. Terus apa? Di Piala Asia berikutnya, targetnya lebih jauh dari fase grup? Tahun berapa kita incar 8 besar Asia lalu menjadi target ke semifinal dan final? Setelah 2030, kita mau jadi peserta rutin Piala Dunia, atau cuma jadi satu-satunya kenangan kita pernah melihat negara kita masuk Piala Dunia?
Dengan format 48 tim, slot Asia di Piala Dunia jauh lebih banyak. Lolos sekali makin realistis. Pertanyaan yang lebih penting: bisa atau enggak kita lolos terus? Bisa atau enggak suatu hari kita lolos grup dan merasakan apa yang dirasakan Cape Verde kemarin? Itu tak bisa dijawab pakai semangat doang. Harus ada rencana. Negara lain sudah menulis peta jalannya Ini bukan ide utopis. Beberapa negara sudah melakukannya, dan hasilnya kelihatan.
Jepang, tahun 2005, mengumumkan target secara terbuka: juara Piala Dunia tahun 2050. Terdengar mustahil, tapi target sejauh itu memaksa mereka menyusun tahapan: kurikulum pembinaan usia muda, pelatih berlisensi, sampai ekspor pemain ke Eropa. Hari ini mereka langganan Piala Dunia dan sudah pernah mengalahkan Jerman dan Spanyol.
Belgia, awal 2000-an, menyeragamkan cara bermain dari kelompok umur paling muda: formasi, filosofi, sampai format latihan anak-anak. Satu dekade kemudian lahir “generasi emas” yang sempat jadi peringkat 1 dunia.
Uzbekistan, contoh paling dekat. Konsisten di pembinaan usia muda, juara Asia U-20 dan U-23, lalu akhirnya lolos Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya. Pemain kelompok umurnya jadi tulang punggung tim senior. Buat mereka, kelompok umur bukan sekadar “cari pengalaman”, tapi jalur produksi.
Benang merahnya sama: target jangka panjang yang diumumkan, dipecah jadi tahapan, dan diukur. Kata kuncinya: diumumkan. Bukan disimpan di ruang rapat. Kalau goals-nya jelas, banyak debat tidak diperlukan.
Di tongkrongan kerjaan atau ketika jam makan siang setiap habis timnas main, kita akan selalu mendengar: Kenapa permainan timnas membosankan? Kenapa crossing terus? Kenapa kurang kreatif? Kenapa naturalisasi terus? Pemain ini kok dipanggil, itu mah pasti titipan?
Semua pertanyaan itu sebenarnya bakal terjawab kalau kita tahu targetnya. Kalau target kita Piala Dunia 2030 dan PSSI menetapkan pola main tertentu, kita bisa menilai pelatih dari seberapa dekat permainan timnas dengan pola itu. Bukan cuma dari menang-kalah di satu laga. Kalau sebuah turnamen memang dipakai untuk memberi menit internasional ke pemain muda, kita enggak akan panik ketika melihat skuad untuk kompetisi tertentu “bukan yang terkuat”.
Lalu setelah 2030? Pernah dengar targetnya? Ketika generasi Justin Hubner dan Rizky Ridho mulai butuh penerus, regenerasinya sudah siap belum? Idealnya kita bisa seperti Jepang: talenta baru terus bermunculan, sama bagusnya, bahkan lebih bagus dari generasi sebelumnya.
Target juga enggak harus selalu soal trofi. Bisa berupa hal yang terukur:
• Peringkat FIFA per tahun
• Jumlah pemain Indonesia yang main reguler di liga luar negeri
• Konsistensi lolos putaran final Piala Asia U-17, U-20, dan U-23
• Jumlah pelatih berlisensi AFC di level SSB dan akademi
• Satu kurikulum dan gaya bermain yang sama dari SSB sampai senior.
Dengan begitu, suporter enggak perlu menaruh ekspektasi segede gunung ke satu pemain atau satu pelatih. Harapannya, pool pemain kita luas banget, sampai kehilangan satu pemain nggak bikin satu negara panik. Ke mana kapal ini mau berlabuh?
Tanpa target yang jelas, kitae nggak tahu kapal ini mau berlabuh di mana. Kita enggak tahu fondasi mana yang perlu dibenahi, dan permainan seperti apa yang seharusnya sudah dimainkan anak-anak sejak SSB. Pelatih di SSB A, sekolah B, dan akademi C bisa punya standar yang beda-beda. Akibatnya, sampai level senior pun kita sering nggak punya standar yang sama.
Satu lagi, glorifikasi bakat anak lewat highlight di instagram dan YouTube sering jadi bumerang. Akan ada masa ketika anak itu enggak bisa main sebagus highlights-nya. Dia merasa mentok, frustrasi, bahkan sampai depresi, lalu memilih berhenti main bola. Kita sibuk bikin anak viral, tapi lupa bikin dia bertahan.
Jadi daripada sibuk membandingkan pelatih yang dulu dengan yang sekarang, mungkin pertanyaan yang lebih berguna untuk kita tanyakan bareng-bareng adalah: Target tahun ini apa? Lima tahun lagi kita di mana? Sepuluh tahun lagi timnas sudah sampai mana? Ditanyakan ke siapa? Saya rasa kita semua sudah tahu.
Sebenarnya tulisan ini bukan cuma untuk sepak bola. Ini juga untuk cabang olahraga lain yang misalnya malah sibuk ribut soal perlu home and away atau nggak, atau pemain asing di lapangan kebanyakan atau enggak. Padahal pertanyaan dasarnya sama: goals-nya apa? Dan jalan ke sana kelihatan atau enggak?
Ambil contoh panjat tebing dan angkat besi, yang membawa pulang emas Olimpiade. Apakah kita bakal terus mampu melahirkan Veddriq Leonardo dan Rizki Juniansyah yang baru? Atau emas itu cuma akan jadi cerita “dulu kita pernah”?
Pandit Sharing oleh: dr. Reggie Suwandy, SpKO (Instagram: reggie.suwandy)
