Persepakbolaan nasional kembali menorehkan noktah merah imbas rentetan kekerasan suporter sepanjang Oktober 2026. Pada 11 Oktober, bus pemain dari tim U-18 Persib Bandung diserang sekelompok orang yang diduga pendukung Persija Jakarta di Tol Batang hingga merusak armada dan meninggalkan trauma bagi para pemain. Beberapa jam berselang, bus rombongan suporter Persija asal Cikampek dilempari batu di Tol Palikanci.
Enam hari kemudian, bentrokan antara suporter Persita Tangerang dan Persija di Banten International Stadium serta pendukung PSGC Ciamis dan PSIS Semarang di Stadion Galuh kembali menyingkap rapuhnya relasi antarsuporter. Puncaknya, pada 25 Oktober, pembacokan terhadap seorang Bobotoh oleh orang tak dikenal seusai laga Garudayaksa kontra Persib merenggut nyawa. Rentetan peristiwa ini menegaskan bahwa kekerasan suporter masih menjadi ancaman nyata yang terus membayangi kultur sepak bola nasional.
Akar Barbarisme
Rentetan kejadian itu mempertegas rapuhnya rantai perdamaian sekaligus mendesak pencinta sepak bola tanah air meredefinisi makna rivalitas. Tribun stadion acap kali bermutasi menjadi wahana penyaluran agresi dan kebrutalan massal akibat persilangan hilangnya identitas personal, ikatan kelompok ekstrem, dan pembenaran kultural atas nama rivalitas.
Studi Daffa dan Noorrizki (2022) tentang perilaku agresi suporter melalui Contagion Theory menjelaskan bagaimana anonimitas dan deindividuasi melemahkan benteng moral individu. Emosi kolektif yang menular (emotional contagion) membuat provokasi kecil menjalar menjadi agresi massa.
Namun, penularan emosi bukan satu-satunya bahan bakar perilaku barbar. Eric Dunning, Patrick Murphy, dan John Williams dalam The Roots of Football Hooliganism (2014) menjelaskan bagaimana sepak bola menjadi panggung pembuktian identitas sosial. Ketika identitas diri melebur dengan klub, ejekan lawan tak lagi dipandang sebagai dinamika permainan, melainkan ancaman terhadap harga diri kelompok. Kekerasan pun dijustifikasi sebagai tindakan heroik demi kehormatan bersama.
Rivalitas ekstrem akhirnya mengkristal menjadi ideologi yang memisahkan dunia secara kaku antara “in group” dan “out group”. Dalam logika yang bengkok ini, tindakan barbar kian diwajarkan sebagai bagian dari kultur rivalitas. Rivalitas yang centang perenang ini membuat sanksi saja tidak cukup memutus lingkaran permusuhan.
Meneladani Yogyakarta
Di tengah pekatnya barbarisme, arah perbaikan tidak bisa lagi digantungkan pada sanksi usang yang bersifat top-down, yang muaranya pada obral sanksi. Solusi justru dapat lahir secara organik dari rahim kultural suporter itu sendiri. Sepak bola nasional sudah sepatutnya melihat ke Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya poros Sleman dan Kota Yogyakarta. Setidaknya hingga saat ini, ada banyak nilai luhur dari kultur suporter Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang dapat menjadi pilar redefinisi makna rivalitas.
Suporter PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta--serta Persis Solo–menginisiasi gerakan perdamaian melalui jargon Mataram is Love (sebagai refleksi atas Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022). Komitmen ini bukan sekadar obor-obor blarak, melainkan upaya merawat perdamaian secara konsisten. Kendati sesekali gesekan dalam skala kecil masih terjadi, secara organisasi ketiga entitas tetap berhasil menegakkan slogan perdamaian.
Pendukung PSS, Brigata Curva Sud (BCS), memegang teguh Delapan Manifesto sebagai kompas perjuangan moral. Larangan sweeping kendaraan, penolakan rasisme, fokus mendukung klub, dan kemandirian ekonomi mentransformasi fanatisme mentah menjadi energi positif. Kultur demokratis juga dibangun melalui forum bersama untuk merumuskan sikap dan menyelesaikan friksi antarkomunitas secara musyawarah sebelum meluas ke akar rumput. Manifesto etik dan ruang dialog menjadi benteng agar suporter tidak mudah terombang-ambing provokasi.
Teladan itu tampak nyata. Pada 11 Oktober, suporter PSM Makassar disambut sebagai sahabat oleh pendukung PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo. Sehari sebelumnya, pendukung Persija Jakarta diterima hangat oleh suporter PSIM Yogyakarta di Stadion Sultan Agung. Suporter tandang leluasa mendukung klub, bertukar cendera mata, berswafoto, dan merajut tenun silaturahmi. Mereka pulang membawa kenangan baik sekaligus peluang membalas keramahan ketika kelak menjadi tuan rumah.
Solidaritas dan nilai luhur suporter Yogyakarta (PSIM dan PSS) tak berhenti di stadion. Ketika kecelakaan di jalan tol merenggut nyawa suporter PSS (18/10), ambulans Brajamusti, kelompok pendukung PSIM, turut menjemput dan mengantarkan jenazah mereka. Yogyakarta kembali memberikan ilham bahwa rivalitas niscaya membelah dukungan, tetapi seyogianya pantang mengubur kemanusiaan! Mari, kita meneladanai ‘keistimewaan’ kultur persepakbolaan Yogyakarta.
Pandit Sharing oleh: Ardian Nur Rizki
