“It's Coming Home”, Wujud Kesombongan Akut Inggris?

“It's Coming Home”, Wujud Kesombongan Akut Inggris?
Font size:

Tiap kali timnas Inggris berlaga di turnamen besar, slogan "It's Coming Home" pasti menggema di mana-mana. Sayangnya, banyak suporter negara lain yang sebal dan menganggap jargon ini sebagai wujud arogansi hingga kesombongan akut dari fans Three Lions.

Tapi, tahu nggak sih kalau makna asli di balik kalimat legendaris ini justru berbanding terbalik 180 derajat dari pandangan banyak pihak di luar Inggris? 

Narasi "pulang ke rumah" ini punya akar sejarah yang sangat kuat dan valid. Inggris adalah negara pertama di dunia yang merumuskan aturan formal sepak bola modern melalui pembentukan The Football Association (FA) di London pada 1863.

Karena catatan sejarah inilah, masyarakat Inggris merasa bahwa tanah air mereka adalah "orang tua kandung" dari olahraga si kulit bulat. Jadi, jika ada turnamen besar diadakan di sana, sepak bola dianggap sedang pulang ke rumah asalnya.

Momen paling emosional dan bersejarah bagi publik Inggris terjadi pada 1966. Saat ditunjuk menjadi tuan rumah Piala Dunia, timnas Inggris berhasil keluar sebagai juara dunia untuk pertama kali (dan satu-satunya) dalam sejarah.

Euforia 1966 ini sangat luar biasa. Namun, tanpa disadari berubah menjadi standar yang terlalu tinggi bagi generasi berikutnya. Setelah tahun emas itu, prestasi timnas Inggris justru terjun bebas dan mulai memasuki era kegelapan yang panjang.

Masuk ke 1970-an hingga 80-an, sepak bola Inggris babak belur bukan cuma karena minim prestasi, pun maraknya fenomena hooliganisme. Kekerasan suporter terjadi di mana-mana, membuat citra sepak bola menjadi sangat buruk, kotor, dan berbahaya.

Puncaknya, tragedi besar di kompetisi Eropa membuat klub-klub Inggris sempat dilarang bertanding di pentas internasional. Sepak bola Inggris kala itu dicap sebagai olahraga kelas pekerja yang brutal, kasar, dan sangat dijauhi oleh kalangan keluarga.

Its Coming Home (3)

Setelah 30 tahun menderita dan dikucilkan sejak kejayaan 1966, Inggris akhirnya kembali dipercaya menjadi tuan rumah turnamen akbar: EURO 1996. Momen ini disambut dengan sukacita luar biasa oleh publik Britania sebagai ajang pembuktian diri.

Turnamen ini menjadi misi suci untuk membersihkan citra buruk masa lalu. Pemerintah, federasi, dan masyarakat ingin menunjukkan kepada dunia bahwa sepak bola Inggris sudah bertransformasi menjadi festival yang ramah, aman, dan penuh kegembiraan.

Menyambut EURO 1996, FA meminta musisi Ian Broudie bersama komedian penggila bola, David Baddiel dan Frank Skinner, untuk membuat lagu resmi timnas. Lahirlah "Three Lions" dengan lirik ikonik: "It's coming home, football's coming home".

Lagu pop yang adiktif ini langsung meledak di pasaran dan merajai tangga lagu Inggris. Slogan tersebut mewabah dengan sangat cepat dari radio, tribun stadion, hingga menjadi lagu wajib yang dinyanyikan jutaan orang di seluruh penjuru negeri.

Berbeda dengan anggapan suporter luar negeri, lirik lagu "Three Lions" sebenarnya sangat melankolis dan jauh dari kesan sombong. Lagu ini blak-blakan mengakui kegagalan, taktik buruk timnas, ejekan media, dan rasa sakit hati suporter selama 30 tahun.

"Thirty years of hurt, never stopped me dreaming." 

Esensi asli dari slogan "It's Coming Home" bukanlah proklamasi bahwa mereka pasti menang. Jargon ini adalah bentuk keteguhan hati para suporter Inggris yang memilih untuk menolak menyerah dan tetap berani bermimpi meski sudah hobi dikecewakan.

Ledakan slogan ini pada 1996 juga didukung penuh oleh fenomena budaya pop global yang dinamakan Cool Britannia. Pada era tersebut, segala produk budaya asal Inggris—mulai dari musik Britpop, fashion, hingga industri film—sedang merajai dunia.

Nuansa musik indie-pop dari lagu "Three Lions" sangat klop dengan energi optimisme anak muda zaman itu. Sepak bola akhirnya berhasil naik kelas, tidak lagi dianggap sebagai olahraga kasar, melainkan bagian dari gaya hidup modern yang keren.

Its Coming Home (2)

Setelah sempat meredup pada era 2000-an karena prestasi timnas yang jalan di tempat, jargon ini mengalami renaisans besar pada Piala Dunia 2018. Di bawah asuhan Gareth Southgate, skuad muda Inggris secara mengejutkan berhasil melaju hingga babak semifinal.

Di era digital ini, "It's Coming Home" bertransformasi menjadi meme viral di media sosial. Suporter modern Inggris menggunakannya dengan nada bumbu ironi dan sarkasme, menyadari tradisi tim mereka yang secara historis memang hobi "terpeleset" di momen krusial.

Masalahnya, nuansa humor, ironi, dan trauma sejarah yang melekat pada slogan ini sering kali gagal dipahami oleh publik luar Inggris. Suporter rival menangkap jargon ini mentah-mentah sebagai bentuk keangkuhan bangsa Inggris yang merasa "pasti juara".

Negara lain menilai orang Inggris memandang remeh lawan sebelum turnamen selesai. Kesalahpahaman kultural inilah yang membuat tim lawan selalu memiliki motivasi ekstra untuk menjegal Inggris, demi membuktikan bahwa sepak bola tidak akan "pulang".

Pada era sekarang, fungsi slogan ini makin dinamis. Di fase awal turnamen, jargon ini diteriakkan sebagai candaan internal yang jenaka, namun begitu Inggris berhasil menembus babak final berturut-turut, kalimat ini kembali menjadi bahan bakar optimisme yang nyata.

Meskipun pada akhirnya Inggris harus puas menjadi runner-up di beberapa final terakhir, termasuk EURO 2020 dan 2024, slogan ini tak mati. "It's Coming Home" telah bergeser dari sekadar lagu turnamen musiman menjadi warisan identitas kultural yang turun-temurun.

Pada akhirnya, "Football's Coming Home" adalah cerminan psikologis paling jujur dari suporter Inggris. Ini adalah jalinan rumit antara rasa trauma masa lalu, cinta yang mendalam pada sepak bola, dan harapan kolektif sebuah bangsa yang menolak padam.

Nah, di Piala Dunia 2026 ini, apakah sepak bola bakal beneran "pulang" ke Inggris, atau slogan ini akan tetap jadi bahan lelucon abadi negara rival?

Inggris vs Argentina: Antara Sepak Bola, Harga Diri Bangsa, dan Ego Kekuasaan
Artikel sebelumnya Inggris vs Argentina: Antara Sepak Bola, Harga Diri Bangsa, dan Ego Kekuasaan
Preview Inggris vs Argentina: Adu Taktik dalam Rivalitas Klasik
Artikel selanjutnya Preview Inggris vs Argentina: Adu Taktik dalam Rivalitas Klasik
Artikel Terkait