Tiga pertandingan Serie A, tiga gol, tiga kemenangan, dan tiga kali pula Davide Frattesi menjadi bagian penting dari cerita euforia Lazio. Melawan Bologna, ia masuk dari bangku cadangan lalu mencetak gol penentu. Melawan Genoa, ia menjadi starter dan kembali mencetak satu-satunya gol pertandingan. Di markas Udinese, ketika Lazio tertinggal 0-1, ia muncul lagi untuk menyamakan skor sebelum Albert Gudmundsson memastikan kemenangan 2-1.
Sulit membayangkan awal yang lebih dramatis untuk seorang pemain yang baru beberapa pekan sebelumnya meninggalkan Inter Milan. Frattesi datang ke Lazio bukan sebagai bintang yang sedang berada di puncak karier, melainkan pemain yang seolah kehilangan sebagian dari dirinya sendiri. Namun, tiga pekan pertama musim 2026/27 seperti membuka pintu yang lama tertutup: Frattesi kembali terlihat seperti gelandang yang bermain dengan listrik di tubuhnya.
Frattesi resmi dipinjamkan Inter ke Lazio pada 14 Agustus 2026, dengan opsi pembelian permanen. Hanya dua hari kemudian, ia sudah berada di lapangan. Debutnya datang dalam situasi yang bahkan tidak ideal: Lazio menghadapi Mantova di babak pertama Coppa Italia dan justru disingkirkan klub Serie B itu dengan kekalahan 0-2. Frattesi masuk pada menit ke-71 dan bermain sekitar 19 menit.
Debut itu sebenarnya tidak memberikan alasan untuk merayakan apa pun. Lazio dikritik habis lantaran tersingkir sebelum kompetisi Serie A dimulai, sementara Frattesi baru beberapa hari berada di klub barunya. Tetapi justru di situlah kisah kebangkitannya terasa menarik. Ia datang ketika Lazio sedang membutuhkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar amunisi tambahan: Ada energi baru, karakter baru, dan pemain yang berani mengambil tanggung jawab.
Seminggu kemudian, pelatih Lazio, Gennaro Gattuso belum menjadikan Frattesi starter. Di Renato Dall'Ara, ia kembali memulai pertandingan dari bangku cadangan. Tetapi ketika masuk menggantikan Fisayo Dele-Bashiru yang cedera pada menit ke-54. Frattesi hanya membutuhkan empat menit untuk mengubah pertandingan. Pada menit ke-59, ia menyelesaikan kombinasi dengan Boulaye Dia dan mencetak gol yang membawa Lazio menang 1-0.
Lebih menarik, gol itu datang ketika Frattesi sendiri mengaku belum berada pada kondisi fisik 100 persen. Ia bahkan mengatakan sudah lama tidak bermain 90 menit. Tetapi kalimat setelahnya terdengar seperti pernyataan seorang pemain yang baru saja menemukan kembali identitasnya. Ketika berada dalam kondisi terbaik, “inilah saya”. Frattesi tidak sedang mencoba menjadi pemain lain. Ia sedang berusaha menjadi dirinya sendiri lagi.
Kontrasnya dengan musim terakhir di Inter terasa sangat tajam. Pada Serie A 2025/26, Frattesi hanya bermain 22 kali, dengan tiga kali menjadi starter dan total 569 menit. Ia tidak mencetak satu gol pun dan gagal membuat satu assist pun. Musim sebelumnya, ia masih mencatat lima gol dari 28 penampilan Serie A, tetapi hanya sembilan kali menjadi starter.
Dalam periode tersebut, Frattesi terlalu sering berada di antara dua dunia: cukup bagus untuk menjadi senjata dari bangku cadangan, tapi tak cukup dipercaya untuk menjadi pusat permainan. Bahkan ketika kualitasnya tidak diragukan, persaingan dengan gelandang-gelandang utama Inter membuat perannya lebih banyak sebagai pelengkap daripada protagonis. Di Lazio, situasinya tiba-tiba terbalik. Ia bukan lagi orang yang menunggu pertandingan datang kepadanya. Pertandingan justru mulai dibentuk agar kekuatannya keluar.
Padahal sejak awal kariernya Frattesi memiliki karakteristik yang sangat spesifik. Ia bukan gelandang yang hidup dari mengontrol pertandingan dengan jumlah operan seperti regista. Ia berbahaya ketika bergerak tanpa bola, masuk dari lini kedua, mengejar ruang di belakang gelandang lawan, dan muncul di area penalti pada saat yang tidak diduga. Itulah sebabnya ia bisa mencetak enam gol Serie A pada musim debutnya bersama Inter meski hanya memulai enam pertandingan.
Masalahnya di Inter, kelebihan itu sering hadir sebagai kejutan yang muncul dari bangku cadangan. Frattesi menjadi semacam “senjata rahasia” permanen. Harian La Gazzetta dello Sport bahkan pernah menggambarkan dirinya sebagai pemain yang dulu masuk, menusuk, lalu kembali ke bangku cadangan. Ketika kesempatan bermain reguler datang, produktivitasnya justru menurun. Pada musim 2025/26, ia benar-benar kehilangan momentum tersebut. Sebanyak 22 penampilan, hanya tiga starter, dan tanpa gol.
Gattuso sejak awal melihat apa yang bisa diberikan Frattesi. Bahkan sebelum transfer rampung, sang pelatih menyebut Frattesi memiliki karakteristik yang sangat spesifik dan bisa memberikan bantuan besar kepada Lazio. Dalam struktur 4-3-3 Gattuso, Frattesi memiliki kebebasan lebih besar untuk bergerak dari lini tengah menuju area akhir serangan. Ia tidak harus menjadi pengatur ritme utama, ia bisa menjadi gelandang yang menyerang ruang.
Itu terlihat dari pola gol-golnya. Melawan Bologna ia menyusup ke kotak penalti setelah kombinasi dengan Dia. Melawan Genoa, ia berada di posisi yang tepat untuk menyambut umpan silang mendatar Nuno Tavares. Di Udinese, ia membaca pergerakan Mattia Zaccagni dan menyambar bola kiriman sang kapten untuk mencetak gol penyama. Tiga gol itu berbeda situasi, tapi memiliki satu kesamaan: Frattesi datang dari belakang dan muncul pada waktu dan tempat yang tepat.
Kehadiran Frattesi juga mengubah dimensi permainan Lazio. Ia memberi ancaman vertikal yang membuat lawan tidak hanya harus menjaga Zaccagni, Gustav Isaksen atau Dia, tapi juga harus memperhitungkan gelandang yang tiba-tiba masuk ke kotak penalti. Dengan begitu, lini tengah Lazio tidak berhenti sebagai tempat sirkulasi bola; ia ikut menjadi sumber ancaman langsung. Gazzetta mencatat bahwa Gattuso sejak awal mengandalkan dinamisme Frattesi dan memberinya peran di area ofensif.
Efek lainnya terlihat dalam transisi. Frattesi memiliki kemampuan untuk segera mengubah situasi ketika Lazio merebut bola, berlari ke depan, menyerang ruang, dan menjadi target umpan vertikal. Ini cocok dengan karakter Lazio yang dibangun Gattuso sebagai tim yang mengandalkan energi, agresivitas dan intensitas. Ketika Lazio tertinggal di Udinese, mereka tak runtuh. Mereka menaikkan garis permainan dan terus menekan sampai Frattesi menyamakan kedudukan.
Tiga gol memang menjadi angka paling mudah untuk menjelaskan pengaruh Frattesi. Namun ada sesuatu yang lebih penting, semua golnya di Serie A sejauh ini memiliki nilai langsung terhadap perolehan poin. Gol melawan Bologna menghasilkan tiga poin. Gol melawan Genoa menghasilkan tiga poin. Gol melawan Udinese membuka jalan bagi comeback yang berujung tiga poin. Tiga gol, tujuh poin yang secara langsung berasal dari kaki dan kepala Frattesi.
Dari perspektif tim, ini membuat Lazio memiliki sesuatu yang tidak selalu bisa dibeli di bursa transfer. Pemain yang dipercaya rekan-rekannya untuk muncul ketika pertandingan membutuhkan momen. Zaccagni menyediakan assist di Udinese. Tavares menemukan Frattesi melawan Genoa. Dia bekerja sama dengannya di Bologna. Frattesi bukan bermain sendirian, ia mulai menjadi titik temu dari koneksi antarpemain Lazio.
Ada satu kalimat Frattesi setelah pertandingan melawan Udinese yang mungkin lebih penting daripada gol ketiganya. Ia mengatakan mulai merasakan kembali sensasi elektrik yang sebelumnya hilang. Frattesi datang ke Lazio untuk bermain, tetapi juga untuk merasa penting. Ia memilih Lazio, salah satunya karena mengenal Gattuso sebagai pribadi dan menganggapnya sebagai sosok lelaki sejati dalam sepak bola. Ada hubungan emosional di balik transfer tersebut.
Namun, mungkin terlalu prematur menyebut Frattesi sudah sepenuhnya bangkit. Tiga pertandingan tak cukup untuk menghapus tiga musim penuh dinamika di Inter. Ia juga masih harus membuktikan bahwa performa ini bukan sekadar ledakan awal setelah pindah klub. Tetapi sinyalnya sangat jelas: dalam tiga laga Serie A, Frattesi sudah mencetak tiga gol, sementara Lazio memenangi ketiganya dan untuk pertama kalinya sejak 2012/13 membuka musim Serie A dengan tiga kemenangan beruntun.
