Sepak Bola Indonesia di Bawah Langit Beracun

Sepak Bola Indonesia di Bawah Langit Beracun
Font size:

Sepak bola meminta pemain berlari puluhan kali, mengejar ruang, menekan lawan, lalu mengambil keputusan ketika paru-paru sudah bekerja keras. Karena itu, lapangan bukan sekadar rumput dan garis putih. Udara di atasnya juga bagian dari keselamatan pertandingan. Tapi di Indonesia, asap karhutla (kebakaran hutan dan lahan) kadang diperlakukan seperti cuaca biasa. Gangguan visual yang bisa diabaikan selama wasit masih meniup peluit dan kamera masih dapat menangkap bola.

Pada 16 September 2026, Borneo FC menjamu Dewa United di Stadion Segiri, Samarinda, dalam laga yang tetap berlangsung meski kota diselimuti kabut asap. Dewa United menang 3-1. Seusai laga, pelatih Dewa, Osmar Loss, mengaku sempat khawatir. Dokter tim bahkan menawarkan masker. Ia menilai asap mungkin tidak mengganggu jalannya pertandingan, tetapi berpotensi mengganggu kesehatan orang-orang di stadion. Asap terlihat sejak pagi hingga sore, dan pertandingan tetap berjalan. Dan ini bukan episode perdana. 

7 Agustus 2019, Kalteng Putra mengalahkan Arema FC dalam pertandingan Liga 1 yang diselimuti kabut asap di Stadion Tuah Pahoe, Palangka Raya. Pada 13 September, laga Kalteng Putra melawan Persebaya Surabaya juga berlangsung di tengah asap tebal. Sebelas hari kemudian, Kalteng Putra menghadapi PSIS di stadion yang sama ketika AQI Palangka Raya dilaporkan mencapai 374, kategori “berbahaya” pada indeks AirVisual yang dikutip media. Laga berakhir 0-0. Pemain PSIS Finky Pasamba mengeluh batuk dan kesulitan bernapas; timnya menggunakan dua tabung oksigen saat jeda dan setelah pertandingan.

Asap bukan kabut panggung yang membuat pertandingan tampak sinematik. Partikel halus PM2.5 dapat masuk jauh ke saluran pernapasan, sementara polusi udara berkaitan dengan gangguan paru-paru serta risiko kardiovaskular. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan konsentrasi rata-rata PM2.5 tak lebih dari 15 mikrogram per meter kubik dalam 24 jam dan 5 mikrogram per meter kubik secara tahunan. Angka AQI 374 dari 2019 bukan satuan yang bisa disamakan langsung dengan angka PM2.5 itu; justru perbedaan indeks dan minimnya pengukuran yang transparan di lokasi pertandingan menjadi alasan operator perlu data lingkungan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dampaknya tak berhenti pada rasa perih di mata atau batuk. Posisi resmi Australian Institute of Sport pada 2023 menyimpulkan asap kebakaran dapat merugikan kesehatan dan performa. Atlet yang berolahraga dengan intensitas tinggi dalam waktu lama menghirup lebih banyak polutan, sementara mereka yang memiliki gangguan respons saluran napas berisiko lebih besar. Studi terhadap pemain sepak bola elite remaja yang mencakup 26 pertandingan dan 197 sesi latihan juga menemukan polusi lebih tinggi berkaitan dengan jarak tempuh yang menurun, detak jantung dan persepsi kelelahan yang meningkat, serta penilaian kondisi tubuh yang memburuk.

Pemain bukan satu-satunya yang menghirupnya. Wasit berlari mengikuti permainan; hakim garis terus bergerak di sisi lapangan. Ball boy, petugas medis, pekerja stadion, jurnalis, dan penonton dapat berada di sana berjam-jam. Mereka tidak sedang mengikuti program latihan untuk mengejar performa, tetapi tetap menanggung paparan yang sama. Menganggap pertandingan “aman” hanya karena bola masih terlihat berarti menyamakan jarak pandang dengan kualitas udara, dua perkara yang berbeda.

Operator liga dan federasi harus berhenti menjadikan keputusan bermain sebagai kompromi ad hoc dalam rapat manajer. Setiap kompetisi perlu protokol tertulis berbasis pengukuran PM2.5/PM10 yang aktual, dengan ambang penundaan atau pemindahan lapangan yang jelas, pemeriksaan berkala sebelum kickoff dan selama laga, serta kewenangan bagi petugas medis dan match commissioner untuk merekomendasikan penghentian tanpa tekanan kepentingan jadwal. Masker bukan solusi bagi pemain yang harus sprint 90 menit. Panpel wajib mengumumkan data udara, menyediakan pertolongan medis, dan memberi informasi kepada penonton.

Kita pernah melihat pilihan yang lebih masuk akal. Pada 2019, pertandingan Liga 2 antara PSPS Riau melawan PSGC Ciamis ditunda karena asap karhutla di Pekanbaru dikhawatirkan membahayakan kesehatan. Pada 2023, laga timnas Indonesia melawan Brunei Darussalam yang semula direncanakan di Palembang, dipindahkan ke Jakarta karena kabut asap. Musim ini, dua laga kandang Isenmulang Kalteng FC juga dipindahkan dari Palangka Raya. Jadwal memang bisa berantakan, paru-paru manusia tak punya tombol “reschedule”.

Pemerintah daerah dan pusat tetap memikul tanggung jawab lebih besar: memadamkan kebakaran, menindak pembakar lahan, membuka data kualitas udara, dan melindungi warga. Tapi operator liga tak boleh berlindung di balik kalimat bahwa karhutla bukan urusannya. Ia mungkin bukan penyebab api, tapi bertanggung jawab atas keputusan membawa orang ke tengah asap.

Sepak bola Indonesia sering bicara tentang menjaga pemain sebagai aset, membangun industri, dan menaikkan standar kompetisi. Semua slogan itu kehilangan makna ketika paru-paru diperlakukan sebagai biaya operasional. Pertandingan bisa dijadwalkan ulang. Nyawa dan kesehatan tidak pernah pantas dijadikan taruhan demi memastikan kalender tetap rapi.

Peristiwa Kanjuruhan: Monumen Strategis Menghilangkan Kultur Kekerasan Suporter
Artikel sebelumnya Peristiwa Kanjuruhan: Monumen Strategis Menghilangkan Kultur Kekerasan Suporter
Tidak Ada Pesta Untuk Nilmaizar
Artikel selanjutnya Tidak Ada Pesta Untuk Nilmaizar
Artikel Terkait