Sulit Melihat Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi Lagi di Masa Depan

Sulit Melihat Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi Lagi di Masa Depan
Font size:

Ada dua nama yang selama ini kita pakai seperti penanda zaman di sepak bola: Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Menyebut keduanya bukan cuma soal gol, tapi pun mengingat bahwa menjadi “top” ternyata tidak sesaat. Kehebatan bisa stabil, bahwa seorang manusia bisa jadi poros selama belasan tahun tanpa retak yang berarti. Karena itu, saya percaya satu kalimat ini akan makin terasa benar tiap musim berganti.

“Kita tak akan pernah melihat lagi “Ronaldo & Messi” pada masa depan.”

Bukan karena sepak bola kehabisan bakat. Bukan karena anak muda sekarang kurang gila atau kurang hebat dari mereka. Justru sebaliknya! Banyak pemain muda hari ini terlihat lebih cepat matang, lebih cepat meledak, lebih cepat viral, dan lebih cepat mahal, dibanding dua legenda hidup tersebut.

Statistik pemain usia 17–21 tahun saat ini sering tampak seperti “masa depan sudah datang lebih awal.” Tapi, persoalannya bukan siapa yang paling hebat pada umur 19. Namun, siapa yang bisa tetap jadi poros sampai umur 36 atau 40, tanpa kehilangan tubuhnya, kepalanya, dan rasa “haus” yang sebenarnya.

Dan pada akhirnya, sepak bola modern bukan panggung yang sama. Tubuh manusia—sekeras apa pun—tetap didominasi daging dan kulit.

Kita hidup dalam era di mana pemain muda bukan lagi “dibina”, melainkan dioperasikan. Kalender event makin penuh, ekspektasi kian rapat, dan menit bermain jadi mata uang yang diperebutkan banyak pihak sekaligus: klub, negara, sponsor, agensi, media, algoritma, dan tentu saja publik yang cepat bosan.

Publikasi mengenai beban olahraga yang kejam sudah banyak berseliweran. Hal yang terdengar sederhana tapi kejam, bahwa beban yang didapatkan pemain tak seimbang dengan risiko cedera.

Kylian Mbappe vs Erling Haaland

Tania Nilsson dkk menyebutkan, dalam sepak bola usia muda elite, hubungan beban latihan/pertandingan berbanding lurus dengan meningkatnya risiko cedera dari para pemain muda. Publikasi lain dari British Journal of Sports Medicine juga menekankan kalau lonjakan beban berlebih yang diterima seorang atlet adalah pintu masuk untuk awal turunnya performa. Di publikasi tersebut juga menekankan pentingnya pengelolaan beban agar para pemain muda mampu terhindar dari risiko cedera berkelanjutan.

Kalau itu terdengar teknis, terjemahan manusianya adalah bahwa tubuh bisa kuat kalau diberi pola. Tubuh gampang patah kalau dijadikan mesin yang dipaksa menyusul target. Kenyataannya, sepak bola hari ini penuh target yang tidak sabar, tidak ada lagi pola, yang ada hanya siapa yang siap pakai.

Lebih lanjut, fixture congestion (jadwal padat dengan jeda pemulihan minim) secara konsisten dipelajari karena berkaitan dengan kenaikan insiden cedera pertandingan pada periode padat. Musim ini misalnya, Premier League merevisi untuk pertama kalinya jadwal Boxing Day dikarenakan jarak pemulihan yang pendek. Dalam studi jangka panjang,  pertandingan yang dimainkan dengan jarak pemulihan yang pendek (misalnya dalam rentang beberapa hari) secara signifikan meningkatkan laju cedera otot pada pemain.

Sekarang, bayangkan ini terjadi pada pemain yang “baru jadi,” yang tubuhnya masih membangun fondasi, tapi sudah diminta menanggung beban dewasa—ditambah sorotan yang bahkan orang dewasa pun sering tumbang. Kita suka menyebut “mentalitas”. Tapi kadang yang terjadi bukan kurang mental, melainkan terlalu banyak tekanan untuk satu tubuh.

Sepak bola makin cepat, bukan lagi soal “posisi”

Ada nostalgia yang sering kita jual, bahwa sepak bola itu soal positioning, kecerdasan, timing. Itu benar, tapi hanya separuh benar pada masa kini. Separuh lainnya adalah perubahan permainan dari waktu ke waktu: intensitas naik, ruang menyempit, dan transisi jadi idola baru.

Jurnal dari PubMed menunjukkan gambaran yang jelas tentang performa pertandingan, selama bertahun-tahun. Coverage area mungkin tidak melonjak drastis, tapi aksi intensitas tinggi meningkat tajam. Studi besar di Premier League (2006–07 sampai 2012–13) menunjukkan peningkatan sekitar 30% pada high-speed running.

Kalimat yang biasanya kita dengar: “sekarang semua harus pressing.” Kalimat yang jarang kita sadari, pressing itu bukan hanya taktik—itu tagihan untuk tubuh untuk terus bergerak. Jika intensitas tinggi makin sering jadi standar, “bertahan lama” tidak lagi cuma soal skill dan disiplin makan. Ia juga soal kemampuan tubuh mengulang ledakan kecil ratusan kali, musim demi musim, tanpa kehilangan elastisitas. 

Saya jadi ingat bagaimana sebuah anime “My Hero Academia” yang mengajarkan pentingnya untuk mengelola tubuh. Karena pada akhirnya, pemenang akan dilihat siapa yang bertahan lebih lama.

Saat ini, sepak bola modern makin alergi pada pemain yang “menunggu.” Pelatih Paris Saint-Germain (PSG), Luis Enrique, dalam sebuah video pendek menjelaskan kepada Kylian Mbappe, bahwa striker adalah bek paling depan dalam sebuah tim. Sementara winger ialah full-back bayangan dan gelandang diminta jadi mesin transisi.

Ini bukan sekadar opini, riset mulai mengaitkan metrik fisik dengan konteks taktik dan peran. Studi yang menggabungkan data tracking dengan coding taktis di Premier League mencoba memetakan high-intensity running berdasarkan peran taktis. Memberi gambaran bahwa lari intensitas tinggi bukan sekadar “lari”, tapi lari yang punya fungsi taktik spesifik. Misalnya saat build-up dan transisi, yang menunjukkan sepak bola modern makin bisa dipahami sebagai rangkaian fase cepat yang menuntut akselerasi berulang.

Di titik ini, coverage area bukan sekadar jarak lari seorang pemain. Ia sudah menjadi tanggung jawab pemain itu sendiri. Artinya, lebih banyak bergerak, lebih banyak sprint, dan harus lebih fokus. Sebuah beban mekanis yang sering jadi akar masalah otot dan tendon ketika pemain tak lagi mampu menopang beratnya tanggung jawab tersebut.

Lebih lanjut, pada masa muda Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, sorotan besar tetap ada. Tapi hari ini sorotan punya bentuk baru, ia ada di saku, menempel di telapak tangan, hidup 24 jam, dan menuntut respons. Bukan cuma fan. Bukan cuma media. Tapi juga kebutuhan timeline.

Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo bbc

Penelitian tentang media sosial dalam olahraga menunjukkan lanskap yang kompleks. Ada manfaat branding, tapi juga tantangan psikologis, distraksi, dan tekanan identitas bagi atlet. Studi ini menyoroti bagaimana platform bisa mengganggu fokus dan rutinitas pemain. Terkadang, isu tertentu juga mampu meningkatkan emosi negatif para pemain muda dan berujung pada faktor medis seperti kualitas tidur dan masalah mental.

Tak jarang sebenarnya kita juga melihat banyak pemain-pemain muda memiliki pekerjaan kedua sebagai seorang atlet: menjaga citra dan merawat persona. Sementara, sepak bola yang sebenarnya butuh kesunyian latihan dan repetisi yang membosankan, bukan sorotan berlebihan.

Kita juga tahu, banyak pemain muda meledak bukan karena mereka “lebih hebat”, melainkan sistem hari ini sangat jago membuat label “wonderkid.” Padahal yang sulit adalah membuat api itu tetap menyala tanpa membakar kompor.

Lalu pertanyaannya, kenapa Ronaldo dan Messi bisa jadi anomali? Mereka jelas punya bakat. Tapi saya kira ada tiga hal yang juga sering kita remehkan dalam menilai dua legenda tersebut.

Pertama, mereka lahir di celah waktu, sebelum kalender makin padat seperti sekarang, sebelum setiap performa jadi bahan konten harian, sebelum tuntutan transisi dan sprint jadi sebuah kewajiban. Terpenting, sang pemain sadar ketika tubuh tak mampu lagi beradaptasi dengan sistem, mereka mengubah gaya bermain. Ronaldo dan Messi saya rasa mengubah beberapa kali gaya mainnya, utamanya Ronaldo di Manchester United dan di Real Madrid memiliki perbedaan yang mencolok.

Kedua, mereka menguasai seni hemat energi tanpa terlihat malas. Bahkan, ketika intensitas naik, mereka punya kemampuan membaca momen, kapan diam itu strategi, kapan bergerak itu wajib. Itu kecerdasan yang membuat karier panjang menjadi sangat mungkin. Messi, seperti banyak pundit terkenal bilang, keistimewaannya adalah mengatur tempo untuk tim dan dirinya sendiri saat dibutuhkan.

Terakhir, mereka menolak jadi “sekadar produk.” Disiplin mereka bukan meme motivasi, itu cara bertahan hidup. Dalam sebuah sesi wawancara, Emanuel Adebayor bilang kalau Cristiano Ronaldo datang 3 jam sebelum latihan untuk memaksimalkan tubuhnya. Mereka membangun rutinitas seperti orang yang sadar, tubuh ini bukan selamanya.

Meski kita sering membicarakan sepak bola seperti sejarah, daftar juara, daftar gol, daftar pemenang Ballon d’Or. Tapi, tubuh pemain adalah sejarah yang lain, sejarah yang ditulis oleh menit, sprint, benturan, sorotan, dan ekspektasi.

Mungkin kita akan melihat banyak “yang lebih gila” pada usia 18 sampai 21. Kita akan melihat rekor-rekor muda yang lebih heboh dari Ronaldo atau Messi. Kita akan melihat generasi yang seperti kembang api, indah, cepat, dan memukau tapi juga mudah menguap.

Sejatinya, untuk melihat lagi manusia berdiri di puncak yang sama selama puluhan tahun, kita butuh bukan sekedar bakat. Sepak bola modern sedang bergerak ke arah sebaliknya, lebih cepat, lebih padat, lebih bising, lebih lapar konten. Dalam dunia seperti itu, keabadian jadi barang langka.

Bukan karena kita kekurangan Messi baru atau Ronaldo baru. Tapi karena kita makin kekurangan waktu, jeda, dan kesunyian—tiga hal yang diam-diam paling dibutuhkan untuk membuat legenda bertahan.

--------------------------------------------------

Penulis Dwi Rahma (@drkurnianto)
Penggemar Liverpool dari Parung, sebuah kota kecil yang setiap tahunnya selalu hidup dengan semangat kompetisi sepak bola tarkam (antar kampung).

Superclasico, Memaknai Sepak Bola dalam Pertentangan Sosial
Artikel sebelumnya Superclasico, Memaknai Sepak Bola dalam Pertentangan Sosial
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait