Sebelum melawan timnas Malaysia di laga kedua babak grup FIFA Asean Cup 2026, pelatih timnas Indonesia, John Herdman mengatakan tak pernah merasakan ekspektasi setinggi yang dihadapinya saat ini ketika melatih timnas Kanada. Suporter Kanada disebutnya memahami bahwa untuk menang membutuhkan waktu, sebuah proses, dan membangun sesuatu harus secara bertahap.
Tentu tidak ada yang salah dari perkataan Herdman tersebut. Memang dalam sepak bola (atau kehidupan) tidak ada yang instan, semuanya butuh waktu dan proses. Tapi jika ucapan itu ditujukan kepada suporter timnas Indonesia, tampaknya agak kurang pas. Ini seperti mengajari ikan berenang dan monyet memanjat pohon.
Herdman harus paham bahwa diksi “proses” bagaikan pengganjal dahaga suporter yang haus akan kemajuan kualitas timnasnya. Setiap kali suporter timnas Indonesia membicarakan atau mengkritisi timnasnya sendiri, diksi “proses” selalu keluar dari mulut baik itu pihak federasi, pelatih, atau bahkan sesama suporter timnas Indonesia sendiri (tapi lebih seringnya diucapkan oleh pihak federasi).
Lebih parahnya diksi “proses” yang keluar dari mulut pihak federasi, tidak diikuti oleh kerja keras pembenahan aspek-aspek fundamental yang dapat meningkatkan kualitas timnas Indonesia seperti pengembangan pembinaan usia dini, investasi pada perbaikan kualitas pelatih-pelatih muda, dan perbaikan infrastruktur. Jika kita merujuk pada negara-negara yang tim nasional sepak bolanya maju seperti Argentina, Spanyol, dan Prancis. Tidak ada satu pun dari mereka yang tak membenahi aspek-aspek fundamental tersebut.
Misalnya saja Spanyol, mereka sangat fokus dan bekerja keras dalam pembenahan aspek-aspek fundamental. Pengembangan pemain usia dini, mereka punya La Masia dan La Fabrica di klub Barcelona dan Real Madrid. Peningkatan kualitas pelatih-pelatih muda, silakan lihat seberapa banyak pelatih asal Spanyol yang melatih di klub-klub liga top Eropa. Infrastruktur jangan ditanya. Tidak mungkin salah satu liga terbaik di dunia tak memiliki infrastruktur yang lengkap.
Hal ini berbanding terbalik dengan Indonesia. Alih-alih membenahi aspek-aspek fundamental secara serius, federasi sepak bola Indonesia (PSSI) justru memilih jalan pintas untuk meningkatkan kualitas timnas sepak bolanya yakni dengan memanggil pemain-pemain diaspora (pemain yang memiliki darah Indonesia tapi lahir dan besar di luar negeri). Dari sisi federasi mungkin akan melakukan pembelaan dengan mengatakan: “Tapi kan dibarengi dengan menyelenggarakan turnamen-turnamen usia dini seperti Piala Soeratin dan Elite Pro Academy (EPA)”.
Oke, di satu sisi itu bagus karena telah memperhatikan pengembangan usia dini di tahapan Youth Formative Phase (usia 13-15 tahun) dan Youth Final Phase (usia 16-19 tahun), bahkan kemarin federasi baru saja memperbarui format EPA dengan memastikan tiap klub bermain reguler dua kali tiap minggunya selama delapan bulan dan membatasi minutes of play pemain tiap minggunya sehingga memungkinkan setiap pemain dapat jatah bermain yang sama.
Tapi di sisi lain, federasi tidak boleh melupakan pembinaan pemain usia dini di level grassroots. Jika kita berbicara mengenai pembinaan pemain usia dini ada tiga tahapan pembinaan: tahap grassroots (usia 6-12 tahun), Youth Formative Phase, dan Youth Final Phase. Nah, tahapan grassroots ini yang kerap dilupakan oleh federasi. Padahal menurut Raul Gonzales di podcast Sport 77, jika ingin meningkatkan kualitas timnas, yang harus dilakukan adalah fokus pada pembinaan di level grassroots.
Menurut Indra Sjafri “grassroots adalah tahapan awal anak belajar sepak bola, untuk itu pastikan mereka melakukannya dengan gembira dan senang sehingga menumbuhkan harapan terhadap sepak bola itu sendiri”.
Definisi inilah yang selalu luput dari pengetahuan orang tua bahkan pelatih, sehingga menuntut anak didiknya yang masih di tahap grassroots bermain spartan dan memenangkan setiap pertandingan. Hal ini menjadi alasan mengapa saat kita menonton turnamen sepak bola di tahapan grassroots kerap mendengar teriakan “patahin aja kakinya” atau teriakan lainnya yang membuat kita secara tidak sadar menggelengkan kepala. Tekanan-tekanan yang seharusnya tidak didapatkan oleh pemain-pemain di tahap grassroots ini, nantinya bisa mengganggu perkembangan para pemain.
Sebenarnya untuk meminimalisasi tekanan, yang tidak seharusnya didapatkan oleh pemain-pemain di tahap grassroots, ada yang dinamakan coach educator. Coach educator adalah pelatih grassroots football yang memiliki misi utama memastikan perkembangan anak dalam hal keolahragaan, sosial, psikologis dan pendidikan. Permasalahannya, di Indonesia masih banyak coach educator yang belum memahami apa sebenarnya grassroots football. Sehingga para coach educator ini tidak segan menuntut para pemainnya untuk selalu memenangkan pertandingan dan menjadi juara.
Padahal di tahap grassroots, seperti yang dikatakan oleh Indra Sjafri di atas adalah tahapan bagi pemain-pemain usia dini untuk bersenang-senang. Di sinilah saatnya bagi pemain-pemain usia dini belajar berani mengambil risiko dan inisiatif dalam pertandingan tanpa takut kena “semprot” pelatih jika berbuat kesalahan.
Untuk mengedukasi coach educator, federasi perlu melakukan investasi besar-besaran dalam hal perbaikan dunia kepelatihan di Indonesia khususnya perbaikan kepelatihan pada tahap grassroots football. Sebab, grassroots football ini ibarat akar pohon. Jika federasi saja acuh tak acuh dengan mengabaikan perbaikan kualitas pelatih khususnya di tingkatan grassroots, jangan heran kalau ke depannya timnas sepak bola kita akan tertinggal dari negara-negara yang fokus berinvestasi pada hal itu.
Sejalan dengan itu, federasi juga perlu melakukan perbaikan dalam segi infrastruktur. Karena infrastruktur sangatlah penting. Bagaimana ingin menghasilkan pemain-pemain hebat jika infrastrukturnya saja tidak ada. Saya tidak akan berbicara infrastruktur dari tim-tim profesional di Indonesia. Terlalu jauh. Infrastruktur di sini, saya alamatkan pada lapangan-lapangan yang tersedia di tiap daerah. Coba lihat di sekitar kalian, ada berapa banyak lapangan sepak bola yang “bisa digunakan” untuk bermain sepak bola. Tentu tidak banyak. Kebanyakan sudah berganti rupa menjadi gedung atau jalan tol.
Di level “bisa digunakan” saja, lapangan yang tersedia sangat sedikit, apalagi jika kita berbicara di level layak. Tentu jika kita berbicara lapangan sepak bola pada level layak, seperti rumputnya rata, lapangannya tidak berada di tanah yang menanjak, ukuran lapangannya sesuai dengan aturan dan tanahnya tidak banyak yang berlubang. Pasti jumlahnya tambah lebih sedikit lagi dan kalaupun ada jelas biaya sewanya sangat mahal. Melihat hal ini, seharusnya federasi menjalin kerja sama dengan pemerintah pusat ataupun daerah untuk melakukan pembangunan dan perbaikan lapangan sepak bola secara masif.
Kembali ke perkataan Herdman, pada dasarnya dia tidak mengerti dinamika yang terjadi di persepakbolaan Indonesia. Makanya dia mengatakan hal seperti itu. Tulisan seperti yang saya saat ini sudah berkali-kali dibuat oleh orang-orang yang peduli pada persepakbolaan Indonesia, khususnya timnas Indonesia. Dengan niatan memberi saran kepada pihak federasi. Tapi apa hasilnya? Tidak ada. Alih-alih bekerja keras dan fokus dalam memperbaiki aspek-aspek fundamental yang dapat meningkatkan kualitas timnas Indonesia. Federasi malah memilih jalan pintas dengan memanggil pemain-pemain diaspora. Iya, jalan pintas, jalan yang dimaksud Herdman di atas itu.
Jadi, teruntuk Herdman, saya ingin memberitahu: sebenarnya yang selalu menginginkan hasil instan bukanlah suporter timnas Indonesia melainkan federasi. Sudah sejak lama suporter timnas Indonesia memberitahu kepada federasi bahwa kalau ingin meningkatkan kualitas timnas itu tidak bisa instan, semuanya membutuhkan waktu dan proses.
Pandit Sharing oleh: Rihan Pratama (@rihaaanpratama)
