Euforia timnas Indonesia setelah juara FIFA ASEAN Cup 2026 masih terasa dan mungkin akan terus terasa hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan ke depan. Tentunya tidak salah untuk merasakan euforia sebagai pemenang di suatu turnamen sepak bola. Apalagi melihat sekitar dua dekade ke belakang prestasi paling tinggi yang diraih oleh timnas adalah runner-up.
Pertandingan Indonesia vs Thailand di final FIFA ASEAN Cup 2026 masih menyisakan banyak pekerjaan rumah untuk pelatih John Herdman. Kartu merah Nicholas Mickelson pada menit ke-81 memaksa Thailand hanya bermain dengan 10 orang gagal dimanfaatkan oleh skuad asuhan Herdman untuk memenangkan laga dalam 90 menit pertama sehingga timnas Indonesia dipaksa untuk bermain di babak extra time. Bahkan Peeradol Chamrasamee berhasil mengoyak gawang yang di jaga oleh Emil Audero pada menit ke-110, meskipun Elkan Baggott berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-116 sehingga memaksa kedua tim untuk adu peruntungan hingga babak adu penalt
Pertanyaan berikutnya timbul di benak rakyat Indonesia. Jika lawan Thailand yang hanya bermain dengan 10 orang saja sulit menang di waktu normal, lalu bagaimana Indonesia nanti menghadapi Piala Asia 2027? Herdman memiliki target yang cukup berat di kompetisi ini yaitu lolos ke babak 8 besar. Target ini tentunya menjadi tantangan sendiri karena melihat Indonesia berada di Grup F yang diisi oleh Jepang, Qatar, dan Thailand. Laga pertama Indonesia melawan Jepang yang sedang membentuk generasi untuk menjadi juara dunia.
Indonesia harus bebenah? Iya tentu. Masih banyak yang perlu diperbaiki jika melihat beberapa pertandingan di FIFA ASEAN Cup 2026. Salah satunya contohnya adalah Thom Haye, beberapa kali penulis melihat tidak bermain di posisi aslinya yaitu center midfielder (CMF) atau attacking midfielder (AMF) yang mengalirkan bola untuk penyerang sehingga dapat dikonversi menjadi gol. Beberapa kali penulis melihat Haye justru bermain di posisi left midfielder (LMF). Kondisi ini tentu menghambat pergerakan bola dari timnas. Kondisi timnas kita ketika build up penyerangan juga menurut penulis menjadi concern utama yang harus dibenahi. Banyak peluang-peluang ketika counter attack yang gagal menjadi gol.
Beberapa pertandingan yang dapat menjadi pertimbangan bahwa kita masih harus berbenah diri sebelum menghadapi Piala Asia 2027 nanti. Pertama, yaitu pertandingan melawan Singapura, timnas hanya mengantongi 2 gol padahal banyak sekali peluang-peluang yang tidak dimanfaatkan dengan baik. Hal ini tentunya menjadi basis utama untuk merombak pemain depan. Mitchell Baker sejauh ini hanya perform jika melawan negara yang peringkatnya jauh sekali di bawah Indonesia.
Berikutnya melawan Malaysia, timnas Indonesia harus dipaksa bermain dengan 10 pemain karena Haye melakukan pelanggaran terhadap Arif Aiman dan membuat wasit mengeluarkan kartu merah. Hal ini tentu membuat Indonesia bermain bertahan. Namun apakah itu akan bekerja dengan baik jika melawan tim-tim hebat di kancah Asia? Tentunya tidak cukup. Bermain bertahan hanya dapat menyelamatkan tim lawan untuk mencetak gol, sementara untuk menang tentunya harus dapat mencetak gol.
Permasalahan yang cukup besar lainnya adalah formasi yang akan digunakan. Apakah akan menggunakan tiga bek atau empat bek. Selama turnamen FIFA ASEAN CUP 2026, Herdman menggunakan 4-4-2 sebagai landasan formasi yang dapat berkembang menjadi 3-5-2 atau 3-2-4-1. Calvin Verdonk adalah pemain yang perlu mendapat highlight dalam rotasi formasi yang digagas oleh Herdman pada turnamen tersebut. Calvin Verdonk mendapat multi-role yaitu midfilder dan fullback. Pada skema 3-4-3 atau 4-4-2, Calvin mendapat role sebagai fullback, namun ketika Dean James masuk posisinya berubah menjadi midfilder dengan role box-to-box menemani Joey Pelupessy. Menurut pendapat penulis, Calvin lebih fit jika bermain di role utamanya dia yaitu fullback meskipun ketika dia mendapat role sebagai box-to-box midfilder masih on-perform.
Melimpahnya pemain bertahan tentunya menjadi suatu keuntungan bagi timnas Indonesia dengan formasi tiga bek ataupun empat bek. Pemain tersebut di antaranya adalah Jay Idzes, Elkan Baggott, Justin Hubner, Kevin Diks, Rizky Ridho, Shayne Pattynama, Jordi Amat, Dony Tri Pamungkas, Tim Geypens, Mees Hilgers, dan masih banyak lainnya tentunya menjadi harapan besar di Piala Asia 2027.
Pertanyaan lain timbul, perlukah timnas melakukan scouting baik dari dalam negeri atau diaspora untuk posisi midfielder atau forward? Mengingat beberapa pemain yang umurnya sudah melewati masa produktif pemain sepak bola. Fungsi dari midfielder dan forward ini adalah untuk menambah daya gedor, di mana pada FIFA ASEAN CUP 2026 kita sama-sama telah melihat kurangnya ketajaman untuk mencetak gol.
Jika melihat tingkat pertahanan tentunya sudah cukup baik terutama ketika Indonesia bermain melawan Malaysia dengan 10 pemain masih bisa mengimbangi. Namun, tujuan dari permainan sepak bola lagi-lagi adalah cara tim untuk mencetak gol. Perlukan Herdman membongkar besar-besaran skuad timnas untuk Piala Asia 2027? Atau pertahankan yang ada dengan asumsi setidaknya sudah menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026? Hal yang tentunya patut kita tunggu.
Pandit Sharing oleh: Gammal Muhammad Adam Ardiansyah (IG: @gamaladam11 / X: @gamaladam11)
