John Herdman Bukan Pelatih Miskin Taktik

John Herdman Bukan Pelatih Miskin Taktik
Font size:

Timnas Indonesia mengakhiri puasa gelar di level senior dengan menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan Thailand secara dramatis melalui adu penalti. Euforia momen juara ini benar-benar dirasakan publik Tanah Air. Bagaimana tidak, terakhir timnas senior berhasil menjadi jawara adalah ketika gelaran SEA Games 1991. 

Selama 35 tahun rakyat Indonesia merasakan dahaga gelar. Ironisnya lagi, kita pernah merasakan momen hampir juara setelah kalah di enam final Piala AFF. Salah satu yang paling membekas adalah ketika dikalahkan Malaysia di final Piala AFF 2010 dengan agregat gol 2-4.

Karenanya, gelar juara FIFA ASEAN Cup ini membuat masyarakat bangga dan berterima kasih kepada para pemain atas perjuangan mereka selama turnamen. Satu nama lagi selain para pemain juga tak luput dari apresiasi masyarakat yakni sang nakhoda timnas senior, John Herdman.

Pelatih kelahiran Inggris tersebut pada dasarnya memang sangat butuh gelar ini. Selain karena untuk mengobati kekecewaan pubik setelah gagal total di Piala AFF pada Agustus lalu, Herdman juga belum bisa lepas dari bayang-bayang pencapaian Shin Tae-Yong, mantan pelatih timnas yang masih sangat dicintai pencinta sepak bola Tanah Air.

Herdman Mulai Sering Muncul di Podcast

Momen euforia ini langsung dimanfaatkan media-media dan konten kreator untuk menarik engagement dan perhatian publik dengan mengangkat berita kemenangan timnas. Baik itu berupa artikel, berita dan pembahasan melalui audio visual di youtube. Satu nama yang paling menarik untuk media adalah Herdman. Setelah berakhirnya FIFA ASEAN Cup, mantan pelatih Timnas Kanada tersebut terlihat muncul di beberapa podcast di Youtube. Kehadirannya memang menjadi magnet bagi publik yang penasaran dengan tanggapannya selama melatih timnas, khususnya ketika gelaran FIFA ASEAN Cup.

Herdman yang sejak diperkenalkan ke publik oleh PSSI sebagai pelatih baru terlihat memiliki kemampuan public speaking yang bagus, menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pembawa acara dengan sangat tenang. Potongan percakapannya di beberapa podcast langsung beredar luas di media sosial. Banyak hal-hal menarik dari penjelasan Herdman, mulai dari taktik dan filosofi yang ia terapkan, rencana dalam mempersiapkan tim menuju Piala Asia, hingga kultur di Indonesia.

Dalam beberapa momen, Herdman menjelaskan bagaimana ia dan tim kepelatihan mempersiapkan timnas Indonesia, yang target utamanya adalah lolos ke babak 8 besar Piala Asia 2027. Ia menyebutkan bahwa ketika akan menjalani sebuah pertandingan atau kompetisi, semuanya sudah dipersiapkan berdasarkan data dan analisis, salah satunya adalah di balik penujukkan 4 pemain belakang sebagai algojo dalam adu penalti melawan Thailand di final. 

Alasan dipilihnya Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggot dan Shayne Pattynama adalah berdasarkan data analisis dari latihan yang dilakukan timnas sebelum pertandingan, Pemain-pemain tersebut, meskipun berposisi sebagi bek tapi menunjukkan data sebagai 4 dari 5 pemain dengan akurasi tendangan penalti terbaik di tim (setidaknya mungkin dari semua pemain yang masih ada di lapangan setelah babak tambahan waktu kedua berakhir). Sehingga penunjukkan itu bukan sekedar siapa yang siap seperti yang sering kita dengar, tapi justru berdasarkan data dan analisa yang memang sudah dipersiapkan. 

Herdman juga menjelaskan bagaimana keputusan-keputusan atau taktik yang ia ambil dalam pertandingan. Salah satunya saat melawan Malaysia. Ia menyadari ancaman dari kemampuan seorang Arif Aiman di sektor sayap yang membuatnya harus memperkuat pertahanan di sektor tersebut, terlebih lagi dengan kekurangan jumlah pemain di lapangan. Dua hal tersebut sekaligus membantah narasi bahwa Herdman ‘miskin taktik’ Karena, jika benar narasi tersebut, harusnya tidak akan terjadi taktik yang disebutkan tadi. 

Pelatih yang pernah membawa Kanada lolos Piala Dunia 2022 tersebut juga sempat menyinggung tentang kritik yang ditujukan kepadanya di dunia maya, baik itu dari netizen pada umumnya, atau dari media dan para pengamat (bukan berlatar belakang mantan pemain). Ia menjawab dengan menohok seperti yang disampaikan dalam obrolannya di podcast Liputan 6, “Apa dasar pendapat itu? Apakah mereka sudah belajar hingga meraih lisensi pro? Apakah sudah pernah melatih tim level internasional pada tingkat apa pun?”

Ia juga mengaku mungkin akan mendengarkan saran dan kritik, jika itu berasal dari Roy Keane atau Alan Shearer. Secara tidak langsung menegaskan bahwa ia hanya menerima saran dan kritik jika berasal dari mantan pesepak bola, pelatih professional, atau setidaknya dengan pemahaman taktik dan analisis yang bagus.

Herdman Ball: Agresif, Dinamis, Direct

Di salah satu podcast lain, Herdman ditanya mengenai filosofi bermain yang ia terapkan atau adopsi. Menurutnya, ‘Herdman Ball’ yang ia terapkan itu mencakup 3 hal, yakni Agresif, dinamis, dan direct. Agresif dalam artian bermain high-press dan garis pertahanan yang tinggi. Tapi ia juga menekankan, dalam pertandingan ada penyesuaian dengan situasi dan taktik yang lawan gunakan. Direct dalam artian selalu berorientasi ke depan, selalu mengarahkan passing ke depan dan menyerang. Dinamis dalam artian selalu bergerak, dan tempo cepat. 

Di bagian ini, ia juga menyinggung bahwa dalam kerangka tim yang dibangun, ia masih membutuhkan pemain yang punya eksplosivitas tinggi, khususnya di posisi sayap atau nomor 7 dan 9. Ia masih kesulitan mencari pemain dengan kriteria yang dibutuhkan itu. 

Herdman juga memberikan gambaran, bagaimana saat menangani Timnas Kanada, ia memiliki pemain dengan atribut yang disebutkan tadi seperti Alphonso Davies yang punya kecepatan maksimal menyentuh angka 37 km/jam, serta Tajon Buchanan dan Jonathan David.  Menurutnya, pemain-pemain dari Papua memiliki potensi genetik untuk atribut seperti itu.  

Herdman memang terlihat sangat serius dan profesional dalam menangani timnas Indonesia. Bukan hanya dari segi teknis, tapi juga nonteknis. Dalam beberapa podcast, ia menerangkan bagaimana melakukan pendekatan nonteknis terhadap timnas dan para pemainnya. Salah satunya adalah dengan memilih tinggal di Indonesia. Baginya, jika menangani sebuah tim nasional, seorang pelatih harus mau tinggal di negara tersebut. 

Sebuah pendekatan yang sangat bagus, apalagi jika kita bandingkan dengan pelatih sebelumnya yang biasanya baru terlihat ada di Indonesia jika mendekati jadwal pertandingan. Bahkan, kita ingat, bagaimana setelah timnas dipastikan gagal lolos ke Piala Dunia 2026 beberapa waktu lalu, tim kepelatihan yang dipimpin Patrick Kluivert malah memilih pulang ke negaranya. Selain itu, Shin Tae-yong pun semasa era kepelatihannya lebih sering pulang ke Korea Selatan. 

Apa yang dlakukan Herdman meman merupakan pendeketan yang sangat berbeda. Di media sosial pun banyak beredar potongan video di mana istri dan anak-anak Herdman pun terlihat ikut menemaninya tinggal di Indonesia Bahkan di beberapa momen terlihat mereka ikut membantu persiapan dan kebutuhan tim. 

Selain keputusannya untuk tinggal di Indonesia, John Herdman melakukan pendekatan dengan mendengarkan pendapat dari beberapa pemain dan menanyakan apa yang mereka butuhkan di dalam tim. Tak cukup sampai di situ, pelatih yang menjadikan sate ayam dan  nasi goreng sebagai makanan favoritnya itu juga terlihat mulai belajar Bahasa Indonesia. Sebuah bentuk keseriusan dan profesionalitas seorang pelatih tim nasional yang harus kita apresiasi.

Kita sebagai publik sepak bola Tanah Air tentunya masih menyesali romansa dengan Shin Tae-Yong harus berakhir, apalagi dengan cara yang pastinya sangat membuat kita kecewa. Tapi saat ini kita harus sudah mulai berpikir ke depan. Meneriman kenyataan bahwa era STY sudah selesai. Mari kita dukung Jay Idzes dkk di bawah asuhan Herdman beserta tim kepelatihannya. 

Dahaga gelar juara kita sudah terpenuhi. Sekarang saatnya menatap Piala Asia Januari tahun depan melawan Jepang, Qatar dan tim yang kita kalahkan di final kemarin, Thailand. Kita dukung dan mendoakan agar John Herdman beserta para pemain timnas Indonesia dapat lolos dari fase grup dan memenuhi target melaju ke babak 8 besar.


Pandit Sharing oleh: Fajar Aprilian (Instagram @Hanyatitipa14)

Setelah Indonesia Merajai Asia Tenggara, Lalu Apa Lagi?
Artikel sebelumnya Setelah Indonesia Merajai Asia Tenggara, Lalu Apa Lagi?
Peristiwa Kanjuruhan: Monumen Strategis Menghilangkan Kultur Kekerasan Suporter
Artikel selanjutnya Peristiwa Kanjuruhan: Monumen Strategis Menghilangkan Kultur Kekerasan Suporter
Artikel Terkait