Niat Mengurangi Keliru, VAR Malah Picu Kontroversi Baru di Derby Manchester

Niat Mengurangi Keliru, VAR Malah Picu Kontroversi Baru di Derby Manchester
Font size:

Sepak bola modern hari ini tampaknya tidak akan pernah bisa benar-benar bersih dari drama pengadilan lapangan. Ironisnya, drama terbesar kini justru sering lahir dari rahim teknologi yang awalnya diciptakan untuk membunuh kontroversi itu sendiri: Video Assistant Referee (VAR).  Namun pada praktiknya, VAR kerap kali justru menambah daftar panjang perdebatan baru karena interpretasi aturan yang mendadak abu-abu. Contoh paling hangat sekaligus fatal baru saja tersaji di Old Trafford. Gol tunggal Erling Haaland yang mengunci kemenangan 1-0 Manchester City atas Manchester United memicu perdebatan masif dan menyisakan tanda tanya besar di kalangan fans sepak bola dunia.

Gol Haaland Kok Bisa Disahkan?

Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di atas lapangan dan apa yang membuat wasit Michael Oliver beserta timnya di ruang VAR melegalkan gol tersebut? Ketika Josko Gvardiol melepaskan umpan silang ke jantung pertahanan Manchester United, ada dua pemain Manchester City yang menjadi sorotan kamera. Pertama adalah Enzo Fernandez yang berada di tengah kotak penalti dalam posisi offside yang sangat jelas, dan kedua adalah Erling Haaland yang berlari di tiang jauh.

https://x.com/PLMatchCentre/status/2099183583818645505  

Saat bola meluncur, Enzo melakukan gerakan melompat menyundul bola (diving header). Bola meleset, tidak mengenai kepalanya, dan langsung disambar oleh Haaland menjadi gol. Setelah melalui proses peninjauan VAR yang cukup memakan waktu, wasit memutuskan gol tersebut sah. Alasan di balik keputusan ini ternyata adalah petugas VAR menilai bahwa karena Enzo sama sekali tidak menyentuh bola, maka ia dianggap tidak aktif dan tidak melakukan pelanggaran fisik. Di sisi lain, posisi Haaland sendiri bersih sehingga gol dianggap sah untuk kubu tim tamu.

Bagaimana Aturan LOTG Memandangnya?

Keputusan tersebut langsung memicu gelombang protes keras. Jika kita membedah buku regulasi resmi IFAB (Laws of the Game), khususnya Law 11 tentang Offside, gol Haaland ini memuat sebuah kejanggalan besar. Dalam aturan tersebut, seorang pemain yang berdiri di posisi offside tidak harus menyentuh bola untuk dinyatakan melanggar. Ia bisa dihukum jika terlibat dalam permainan aktif melalui tindakan mengganggu lawan (interfering with an opponent).

Definisi mengganggu lawan ini mencakup "melakukan tindakan nyata yang secara jelas berdampak pada kemampuan lawan untuk memainkan bola." Gerakan diving header yang dilakukan Enzo Fernandez adalah sebuah tindakan nyata yang sangat agresif. Meskipun kepalanya tidak menyentuh bola, gerakan tipuan tersebut secara otomatis membuat kiper Senne Lammens dan bek Lisandro Martinez memberikan reaksi defensif untuk mengantisipasi arah bola. Fokus mereka terpecah dan mereka kehilangan sepersekian detik yang krusial. Akibatnya, lini pertahanan United kehilangan waktu reaksi untuk menutup ruang tembak Haaland di tiang jauh. Secara hukum sepak bola, tindakan Enzo memberikan keuntungan dan gol tersebut seharusnya tidak disahkan jika mengacu pada aturan tsb.

Pernyataan Salah dari Ruang Wasit

Gelombang kritik yang tak terbendung akhirnya memaksa badan pengelola wasit profesional Inggris (Pro Ref) untuk membuka suara. Hanya berselang beberapa jam setelah peluit panjang dibunyikan di Old Trafford, Pro Ref merilis pernyataan resmi yang mengejutkan sekaligus menjadi konfirmasi atas bobroknya keputusan di lapangan. Mereka secara terbuka meminta maaf kepada pihak Manchester United atas apa yang mereka sebut sebagai error of judgment atau kesalahan penilaian.

Dalam klarifikasi resminya, Pro Ref menegaskan bahwa fakta Enzo tidak menyentuh bola memang membuat keputusan ini menjadi subjektif. Namun, mereka mengakui bahwa petugas VAR hari itu gagal mengenali dampak psikologis dan taktis dari pergerakan Enzo terhadap lini pertahanan lawan. Pro Ref menyatakan bahwa VAR seharusnya merekomendasikan wasit Michael Oliver untuk melakukan peninjauan langsung di layar pinggir lapangan (On-Field Review) agar bisa melihat betapa aktifnya gerakan Enzo mengacaukan konsentrasi bek lawan.

"Saya Sudah Tidak Paham Lagi Aturan Ini"

Kesalahan fatal VAR ini memicu reaksi pedas dari para pandit, salah satunya mantan kapten Manchester United yang kini menjadi pengamat senior di Sky Sports, Gary Neville. Saat siaran langsung pertandingan masih berjalan, Neville tidak mampu menyembunyikan kekesalannya atas keputusan kaku para pengadil lapangan.

"Saya butuh aturan offside ini dijelaskan ulang kepada saya, karena saya sudah tidak paham lagi," ujar Neville dengan nada sarkastis. Ia menambahkan, "Ketika mereka melihat tayangan ulangnya nanti, mereka pasti akan sadar kalau keputusan ini keliru." Apa yang diucapkan Neville terbukti seratus persen benar ketika Pro Ref akhirnya merilis surat permintaan maaf.

Kritik tajam dari Neville menjadi penegas bahwa polemik yang terjadi pasca-laga Derby Manchester adalah bukti nyata bahwa teknologi canggih sekalipun akan tetap cacat jika manusia di balik layarnya gagal memahami esensi dari sebuah variabel di lapangan. Man. City pulang membawa tiga poin penuh, namun VAR sekali lagi pulang dengan rapor merah yang merusak kredibilitas kompetisi.

Persija vs Persib Kembali ke Jakarta: Momentum Akhiri Tradisi "Paranoia" Keamanan Ibu Kota
Artikel sebelumnya Persija vs Persib Kembali ke Jakarta: Momentum Akhiri Tradisi "Paranoia" Keamanan Ibu Kota
Kejelian Shin Tae-yong Mengekspos Titik Lemah Persib
Artikel selanjutnya Kejelian Shin Tae-yong Mengekspos Titik Lemah Persib
Artikel Terkait