Ketika Sports Science Ikut Mengantar Kesuksesan Persebaya di Piala Presiden 2026

Ketika Sports Science Ikut Mengantar Kesuksesan Persebaya di Piala Presiden 2026
Font size:

Selama ini publik melihat juara dari gol, assist, dan strategi pelatih. Padahal sebelum pertandingan dimulai, ada pekerjaan panjang di balik layar berupa recovery, monitoring beban latihan, nutrisi, GPS tracking, wellness questionnaire, hingga VALD testing. Piala Presiden menjadi "laboratorium" bagi Persebaya untuk menguji seluruh sistem tersebut. Tulisan ini bukan hanya sekadar cerita dari diskusi singkat bersama dr. Pratama Wicaksana, Sp.KO selaku Chief Medical Officer Persebaya, tetapi tentang bagaimana sebuah klub di era sepak bola modern bekerja.

Ekspresi para pemain Persebaya seperti tak menyiratkan keletihan usai menjuarai turnamen pramusim Piala Presiden 2026 dengan mengalahkan Persib di partai final yang berlangsung di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Kamis malam (6/8). Euforia kemenangan seolah menyamarkan rasa lelah akibat jadwal kompetisi yang begitu padat. Mikael Tata, Gledson Paixão, dan Diogo Ramalho masih leluasa berjoget ria. Rachmat Irianto tetap berdiri kokoh meski sesegukan menahan tangis haru. Sang kapten, Francisco Rivera, bahkan sempat berlari kecil menembus sorak-sorai rekan-rekannya. Malam itu, semua terlihat baik-baik saja. 

Namun, itu hanya pemandangan dari balik layar kaca. Di balik senyuman tersebut, otot, sendi, hingga aliran darah mereka mungkin menyimpan keletihan yang nyata. Untuk memastikan kondisi fisik skuad tetap prima menghadapi kompetisi sesungguhnya bulan depan, ada tim medis yang bekerja dan memantau dari jauh, mencatat data, serta mengkalkulasi tingkat kebugaran pemain secara ilmiah.

Langkah inilah yang menjadi nilai plus Persebaya. Jauh sebelum musim bergulir, manajemen telah menyiapkan fondasi fisik para pemain di balik layar. Akhir Juni lalu, Persebaya resmi bermitra dengan Rumah Sakit Mayapada untuk membangun ekosistem sports medicine terintegrasi pertama di Indonesia. 

Melalui program Sports Injury Treatment & Performance Center (SITPEC), Persebaya didukung oleh 20 dokter spesialis dari beragam disiplin, mulai dari kedokteran olahraga, ortopedi, rehabilitasi medik, kardiologi, radiologi, penyakit dalam, gizi klinik, hingga psikologi. Kolaborasi multidisiplin ini langsung menghadapi ujian perdananya di tengah ketatnya jadwal Piala Presiden 2026.

Pramusim Bukan Sekadar Mencari Kemenangan

Di mata suporter, turnamen pramusim mungkin menjanjikan prestige instan. Namun di dalam ruang ganti dan laboratorium medis Persebaya, Piala Presiden dipandang dari sudut perspektif yang lebih luas dan terukur. Turnamen ini menjadi ajang adaptasi fisik sekaligus fondasi awal sebelum mengarungi panjangnya kompetisi Super League.

Persiapan menuju musim yang sesungguhnya membutuhkan kehati-hatian agar kondisi pemain tidak ambruk di tengah jalan. Fokus utama departemen medis bukanlah mengejar kemenangan semata di setiap laga pramusim, melainkan memastikan bahwa seluruh proses pemulihan dan adaptasi tubuh pemain berjalan harmonis.

dr. Pratama Wicaksana, Sp.KO selaku Chief Medical Officer Persebaya Surabaya menjelaskan bahwa turnamen pramusim adalah fase persiapan menuju kompetisi sesungguhnya. Dengan demikian, dirinya menyebut bahwa fokusnya bukan hanya memastikan pemain siap bertanding, tetapi juga menjaga agar proses adaptasi fisik mereka berjalan dengan baik selama turnamen pramusim.

Ada persepsi lama di kalangan pencinta sepak bola bahwa tugas seorang atlet selesai ketika peluit panjang dibunyikan dan mereka melangkah keluar lapangan. Di Persebaya, pandangan konvensional itu telah dikikis habis. Proses pemulihan atau recovery diposisikan setara dengan sesi taktik maupun latihan fisik. Sesi es (ice bath), pemenuhan asupan nutrisi, pola tidur yang terjaga, kecukupan hidrasi, hingga peregangan otot bukan lagi sekadar rutinitas opsional, melainkan bagian integral dari program latihan itu sendiri.

Menyiasati jadwal pertandingan yang amat padat membutuhkan kesadaran kolektif bahwa memulihkan tubuh adalah kewajiban profesional.

"Tim pelatih menginstruksikan kepada seluruh pemain bahwa proses pemulihan merupakan bagian dari program latihan. Jadi, setiap pemain memiliki kewajiban sekaligus kesadaran untuk menjalankan program recovery yang telah disusun," terang dr. Pratama.

Dari balik layar dirinya bersama tim berupaya mengoptimalkan proses pemulihan sesuai dengan keahlian masing-masing divisi. Tujuannya agar kondisi fisik pemain tetap terjaga meski harus menjalani pertandingan dengan jeda waktu yang relatif singkat. Semua individu dari masing-masing tim bekerja dengan sinergi untuk memastikan kebugaran pemain Bajul Ijo bisa kembali dalam kondisi prima.

Sepak bola modern telah lama meninggalkan era di mana keputusan penting hanya diambil berdasarkan insting atau asumsi semata. Tubuh seorang pemain profesional kini dibaca, diterjemahkan, dan dipahami lewat barisan angka dan grafik yang objektif.

Memang, dr. Pratama tidak bisa menceritakan kondisi pemain secara detail di Piala Presiden 2026 mengingat informasi tersebut bersifat konfidensial. Namun pria yang mengambil Spesialis Kedokteran Olahraga di Universitas Indonesia tersebut menceritakan bagaimana prinsip dan cara bekerja yang dilakukan oleh Persebaya.

"Kami memiliki berbagai modalitas untuk mengukur beban yang diterima setiap pemain, sekaligus memantau respons mereka terhadap berbagai metode recovery yang kami berikan. Dari data tersebut kami dapat menentukan program yang paling sesuai untuk masing-masing individu. Data ini yang kami dapatkan sejak para pemain bergabung lewat kolaborasi di dalam ekosistem sports science kami," jelasnya.

Lebih detail, dirinya menjelaskan cara kerjanya seperti sinergi data dalam upaya pemulihan pemain meliputi monitoring load meliputi analisis GPS, kuesioner wellness & RPE dari pemain, cek VALD berkala, dan laporan kondisi pemain dari medis. Tak hanya itu, dari bilik dapur juga ada kerja-kerja berupa strategi pemulihan dengan intervensi nutrisi dari tim dapur dan operasional, suplementasi, dan modalitas pemulihan lainnya.

"Semua divisi mencoba mengerjakan tugasnya dengan optimal demi kesehatan dan keselamatan pemain," ucapnya.

SITPEC Bukan Klinik Cedera

Kerap kali ada anggapan keliru di kalangan publik bahwa tim medis atau fasilitas kesehatan klub baru mulai bekerja saat seorang pemain terkapar di lapangan karena cedera. Filosofi sepak bola modern justru bergeser secara radikal: dari mengobati (kuratif) menjadi mencegah (preventif).

Gebrakan Persebaya melalui program Sports Injury Treatment & Performance Center (SITPEC) yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Mayapada Surabaya memosisikan tim medis sebagai bagian dari pencegahan dan peningkatan performa sejak hari pertama.

Melalui Pre-Competition Medical Assessment (PCMA), risiko cedera dan potensi penyakit diidentifikasi lebih awal sebelum kompetisi bergulir. Ditambah dengan pengukuran kekuatan menggunakan teknologi VALD bersama Persebaya Academy dan tim DBL Indonesia, pencegahan cedera dilakukan secara presisi.

Bagi dr. Pratama, pramusim bukan hanya menjadi masa persiapan bagi para pemain, melainkan juga panggung uji coba bagi seluruh jajaran staf dan tim ofisial. Setiap divisi di Persebaya dituntut menjalankan perannya sesuai dengan bidang keahlian masing-masing sembari terus mengevaluasi dan menyempurnakan sistem kerja yang akan diterapkan sepanjang musim kompetisi.

Pramusim ini menjadi fondasi penting untuk mengarungi kompetisi Super League yang memiliki durasi jauh lebih panjang dan tingkat tuntutan yang lebih tinggi. Mengenai kesiapan serta tantangan ke depan bersama SITPEC Mayapada Surabaya, dr. Pratama menjelaskan bahwa ajang pramusim memberikan gambaran yang jauh lebih jelas mengenai peta tantangan yang ada. Dari proses uji coba tersebut, Departemen Medis dan tim SITPEC berhasil memetik banyak evaluasi, mulai dari pemetaan risiko hingga pembenahan sistem kerja lintas divisi.

Ia juga menekankan pentingnya konsistensi dan komitmen penuh untuk menjaga seluruh standar serta prosedur pemulihan yang telah dibangun. Menghadapi kompetisi panjang dengan dinamika yang tinggi, seluruh jajaran tim medis dan ofisial telah mengalokasikan fokus serta energi secara maksimal untuk mengawal kebugaran tim sepanjang musim. 

Selain tantangan jadwal dan beban tanding, faktor lingkungan seperti cuaca panas serta kelembapan tinggi terutama dalam menghadapi potensi fenomena El Niño juga menjadi perhatian khusus dalam mitigasi risiko pertandingan. Sebelum laga dimulai, pemeriksaan parameter Wet Bulb Globe Temperature (WBGT), suhu, dan kelembapan lingkungan menjadi instrumen penting yang berdampak langsung pada strategi hidrasi dan pemulihan pemain. Sebuah praktik ilmiah yang tidak hanya krusial bagi atlet profesional, tetapi juga menjadi edukasi penting bagi masyarakat umum yang beraktivitas di bawah cuaca ekstrem.

Keberhasilan Kerja Kolektif

Pada akhirnya, keberhasilan Persebaya merengkuh gelar juara di ajang pramusim Piala Presiden 2026 bukanlah hasil kerja individual atau keajaiban sekelip mata. Trofi tersebut merupakan representasi dari sebuah ekosistem kerja yang sehat, terintegrasi, dan profesional.

Di balik senyum kebahagiaan para pemain saat mengangkat piala, dr. Pratama menjelaskan bahwa ada keringat staf operasional, ketelitian tim dapur yang menyusun nutrisi, kecermatan analis statistik dan performa, keahlian tim medis dan SITPEC, serta kejelian jajaran staf pelatih. Semua elemen ini bergerak dalam satu irama yang sama, membuktikan bahwa klub sepak bola modern yang sukses dibangun di atas fondasi sinergi dan sains.

"Semua demi pemain. Semua demi Persebaya. Karena Persebaya untuk Semua," pungkasnya.

 

Ironi Tiga Dekade yang Belum Juga Membuka Mata PSSI
Artikel sebelumnya Ironi Tiga Dekade yang Belum Juga Membuka Mata PSSI
Catatan Héctor Souto dan Arah Masa Depan Futsal Indonesia
Artikel selanjutnya Catatan Héctor Souto dan Arah Masa Depan Futsal Indonesia
Artikel Terkait