Pesan Mendalam Azrul Ananda untuk Bonek dan Sepak Bola Indonesia

Pesan Mendalam Azrul Ananda untuk Bonek dan Sepak Bola Indonesia
Font size:

Sejak kembali berlaga di kasta tertinggi sepak bola Indonesia pada 2018, Persebaya Surabaya seolah terus berkutat pada lingkaran masalah yang sama yaitu gagal bersaing di jalur juara, bongkar-pasang pelatih di tengah musim, hingga sanksi denda bernilai fantastis. Sisi positifnya, tim berjuluk Green Force ini konsisten terhindar dari degradasi, sembari terus melahirkan inovasi dan talenta baru bagi sepak bola nasional.

Tulisan ini bukan sekadar membahas ruang keberhasilan Persebaya, melainkan menyoroti kegelisahan mendalam yang diungkapkan secara blak-blakan oleh sang CEO, Azrul Ananda. Pesan itu ia sampaikan dalam acara Launching Synergy Persebaya di Balai Kota Surabaya, Sabtu (29/8). Sebuah pesan mendalam di momen menuju 100 tahun Persebaya. 

DJI_0236-2-jpg

Sosok yang mengidolakan pembalap legendaris F1, Alex Zanardi, tersebut tampil berapi-api di atas podium. Ia selalu memancarkan energi besar setiap kali berbicara tentang Bajul Ijo, sebuah gambaran nyata bagaimana cinta, ambisi, dan profesionalisme menyatu. Meski pembawaannya tampak seperti membaca prompter, pesan yang dipancarkannya terasa tegas, lugas, dan menghujam.

Kemampuan Azrul membangun manajemen profesional serta menggaet sponsor berkelanjutan memang tak perlu diragukan. Strategi klub asal Kota Pahlawan ini patut menjadi percontohan.

“Bagi kami, mitra bukan sekadar logo yang menempel di jersi atau muncul dalam konten digital. Kami ingin mereka menjadi bagian utuh dari ekosistem Persebaya. Karena itu, kami selalu mendorong aktivasi yang bersentuhan langsung dengan Bonek dan masyarakat Surabaya melalui beragam kegiatan positif,” ungkap Azrul.

Sponsor dirangkul melalui aktivitas konkret. Kerja sama yang terjalin tak lagi sebatas transaksi nilai dan benefit, melainkan keterikatan dalam mengawal tumbuh kembang klub yang kini digadang-gadang menjadi pesaing kuat untuk menjadi yang teratas di Super League. 

“Keterlibatan banyak mitra yang setia berjalan bersama menunjukkan adanya kepercayaan yang wajib kami jaga. Tugas kami adalah memastikan rasa percaya tersebut tidak hanya menghasilkan exposure, tetapi juga memberi dampak nyata bagi sponsor, Bonek, dan warga Surabaya,” tegasnya.

Malam itu tak sekadar panggung pelayanan bagi sponsor. Azrul memanfaatkannya untuk menyuarakan keresahan yang tak hanya relevan bagi Bonek, tetapi juga bagi seluruh pencinta sepak bola nasional.

Dalam beberapa musim terakhir, Persebaya kerap menduduki papan atas daftar klub dengan sanksi denda terbesar di liga. Pada musim terakhir saja, manajemen harus merogoh kocek hingga Rp1,1 miliar. Bentuk pelanggarannya beragam, namun porsi terbesar berasal dari ulah oknum suporter.

Data Harian Disway per 14 Maret 2026 mencatat Persebaya sebagai tim yang paling dirugikan aksi suporternya dengan nilai kerugian mencapai Rp590 juta. Penyalaan flare menjadi penyumbang terbesar. Temuan Pandit Football Indonesia menunjukkan bahwa aksi yang dilarang federasi tersebut memaksa Persebaya membayar denda sebesar Rp390 juta.

Manajemen Persebaya merilis bahwa dalam sembilan tahun terakhir, akumulasi kerugian akibat berbagai insiden telah menembus angka Rp20 miliar. Nilai fantastis tersebut mencakup denda, kehilangan potensi pendapatan akibat sanksi laga tanpa penonton (partai usiran), hingga biaya perbaikan stadion serta Persebaya Store yang rusak.

Kondisi inilah yang memicu kegelisahan Azrul. Pria lulusan California State University itu kemudian membandingkan biaya denda tersebut dengan alokasi kegiatan yang jauh lebih bermanfaat, seperti operasional Panti Asuhan Bonek (Bonek Panti).

“Denda paling kecil untuk penyalaan flare itu sekitar Rp50 juta. Padahal, uang sebesar itu bisa dipergunakan untuk hal positif lain. Nilai tersebut setara dengan biaya operasional empat bulan panti asuhan yang dikelola komunitas Bonek,” ujar Azrul.

IMG-20190331-WA00041

Di satu sisi, ekspresi di atas tribun memang sulit dibatasi selama tidak bermuatan SARA. Namun di sisi lain, sepak bola modern memiliki regulasi ketat. Regulasi FIFA melarang keras penggunaan flare di stadion. Sebuah aturan yang hingga kini terus memicu perdebatan, apakah mengekang kreativitas atau justru demi keamanan?

Terlepas dari perdebatan itu, besaran denda jelas menggerogoti stabilitas finansial klub. Situasi makin rumit karena belum ada transparansi pengelolaan dana denda dari pihak regulator. Operator liga sejauh ini hanya menjelaskan mekanisme sanksi dari Komdis PSSI. Sementara itu, pernyataan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, pada 2025 lalu baru sebatas menyebutkan bahwa sebagian dana denda dialokasikan untuk kepentingan suporter melalui pembentukan Komite Ad Hoc Suporter.

Langkah yang diambil Azrul sangat krusial. Persebaya seolah berjuang sendiri menyadarkan pendukungnya dengan pendekatan analogi yang menyentuh hati, membandingkan nilai kerugian denda dengan manfaat nyata bagi panti asuhan. Namun pada saat bersamaan, transparansi tata kelola dana denda di tingkat federasi masih buram.

“Bonek adalah bagian tak terpisahkan dari Persebaya. Karena itu, yang ingin kami bangun bukan sekadar hubungan antara klub dan suporter, melainkan bagaimana kita bersama-sama memperbanyak kebaikan dan mengikis hal-hal yang merugikan Persebaya serta Surabaya,” harap Azrul.

Dalam salah satu episode podcast Main Balap, Azrul pernah mengutarakan alasan mengagumi Alex Zanardi karena sang pembalap mampu bangkit dari tragedi hebat. Alasan itu terasa sangat relevan. Azrul Ananda tampaknya menarik inspirasi dari idolanya untuk tetap tangguh, mencintai Persebaya, dan terus berkontribusi membenahi sepak bola Indonesia, meski dinamika di dalamnya tak jarang memicu kerutan di dahi.



SCOUT PICKS GAMEWEEK 2 PANDIT FPL X HOOLIGANS
Artikel sebelumnya SCOUT PICKS GAMEWEEK 2 PANDIT FPL X HOOLIGANS
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait