Romano Floriani Mussolini dalam Labirin Identitas dan Sejarah

Romano Floriani Mussolini dalam Labirin Identitas dan Sejarah
Font size:

Kita mungkin pernah menyaksikan satu atau dua momen, ketika sepak bola terasa seperti pertandingan melawan sejarah. Bukan karena seorang pemain harus menghadapi lawan yang lebih kuat, atau karena ia sedang membela klub yang terancam degradasi. Terkadang, masalah justru muncul sebelum peluit pertama berbunyi. Nama yang tertulis di daftar susunan pemain sudah membawa cerita lebih panjang daripada karier pemiliknya.

Romano Floriani Mussolini tahu betul situasi itu. Pada Selasa, 27 Oktober 2026, bek kanan Lazio tersebut mencetak gol dalam kemenangan 6-2 di Stadio MAPEI, kandang Sassuolo. Gol itu sempat tertahan oleh bendera offside sebelum pemeriksaan VAR mengesahkannya. Bagi seorang pemain berusia 23 tahun, gol pertamanya di Serie A itu seharusnya menjadi momen sederhana yang pantas dirayakan. Namun, ketika nama belakangnya adalah Mussolini, bahkan gol biasa pun bisa berubah menjadi bahan perdebatan luar biasa.

Kebetulan, pertandingan itu berlangsung berdekatan dengan peringatan March on Rome, mobilisasi kaum fasis pada akhir Oktober 1922 yang membuka jalan bagi Benito Mussolini menuju kekuasaan. Kebetulan lain yang tak kalah menarik, cucu buyut sang diktator itu mencetak gol untuk Lazio, klub yang selama bertahun-tahun tak lepas dari kontroversi mengenai sebagian kecil kultur ultranya berhaluan kanan jauh. Tak ada bukti bahwa Romano merancang momen tersebut untuk menyampaikan pesan politik. Akan tetapi, sepak bola punya kebiasaan buruk, mengubah kebetulan menjadi simbol, lalu memperlakukan simbol seolah-olah ia selalu memiliki maksud.

Di sinilah kisah Romano menjadi lebih menarik daripada sekadar berita tentang keturunan seorang diktator yang bermain sepak bola.

Sebelum Bola Bergulir, Nama Itu Sudah Lebih Dulu Tiba

Nama lengkapnya adalah Romano Benito Floriani Mussolini. Ia putra Alessandra Mussolini, politikus Italia sekaligus cucu Benito Mussolini. Kakeknya, Romano Mussolini, adalah pianis dan komponis. Pohon keluarganya tidak hanya berisi politik dan sejarah kelam, tapi juga seni, popularitas, dan kehidupan publik yang kompleks. Namun, ketika namanya muncul di media olahraga, satu nama besar hampir selalu mengambil alih seluruh percakapan.

Coba bayangkan menjadi seorang pemain muda yang sedang berusaha mendapatkan kontrak profesional, meyakinkan pelatih, dan membuktikan diri di tengah persaingan. Teman seangkatanmu dinilai berdasarkan kecepatan, umpan silang, atau kemampuan menjaga lawan. Kamu juga harus menghadapi pertanyaan tentang seorang diktator yang meninggal puluhan tahun sebelum kamu lahir. Romano tidak memilih sejarah tersebut. Namun, ia juga tak bisa menghapus kenyataan bahwa sejarah itu bagian dari silsilah keluarganya.

Dikutip Corriere della Sera, ia menyatakan bahwa nama belakangnya lebih mengganggu orang lain daripada dirinya sendiri. Di kesempatan lain, ia mengaku pernah bersekolah di sekolah berbahasa Inggris untuk menghindari perhatian lebih besar yang mungkin diterima jika bersekolah di Italia. Ia bahkan mengakui bahwa ibunya lebih merasakan beratnya sorotan publik karena posisinya sebagai politikus.

Pernyataan itu membuka jendela kecil kehidupan Romano yang jarang terlihat. Kontroversi nama keluarga bukan sekadar perkara menghadapi komentar di media sosial. Ia berpotensi memengaruhi pengalaman seseorang ketika masih tumbuh, belajar, dan mencari tempat di tengah masyarakat. Nama keluarga, dalam kasus ini, bukan cuma identitas administratif. Ia seperti mikrofon yang terus menyala, bahkan ketika pemiliknya tidak berbicara.

Untungnya, sepak bola menyediakan sesuatu yang tidak dimiliki panggung politik: kesempatan untuk membuktikan diri melalui pekerjaan yang konkret.

Romano tumbuh dalam sistem pembinaan Lazio. Ia kemudian menjalani peminjaman bersama Pescara di Serie C, Juve Stabia di Serie B, dan Cremonese di Serie A. Perjalanan itu memperlihatkan bahwa ia tidak langsung mendapatkan tempat permanen di tim utama hanya karena bermain untuk klub besar atau membawa nama keluarga terkenal.

Bersama Juve Stabia pada 2024/25, ia mencatat 36 penampilan di Serie B, dengan satu gol dan dua assist. Di Cremonese musim berikutnya, ia tampil 28 kali di Serie A dengan satu assist. Setelah masa peminjamannya berakhir, ia kembali ke Lazio pada musim panas 2026.

Angka-angka tersebut mungkin tidak membuatnya langsung disandingkan dengan bek sayap elite Eropa. Namun, itu menjelaskan hal yang lebih penting. Romano telah melewati tahapan kompetisi yang menuntut konsistensi, bukan cuma popularitas.

Ia harus membuktikan diri di latihan, menunggu kesempatan bermain, menghadapi pemain yang lebih berpengalaman, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan taktis. Tidak ada jalan pintas ketika bek kanan kehilangan posisi karena telat menutup ruang. Tak ada hubungan darah yang bisa memperbaiki umpan silang yang salah sasaran.

Di titik inilah lapangan menjadi tempat yang relatif adil, meski tak sepenuhnya adil. Sebab, sepak bola tetap mengenal politik klub, preferensi pelatih, dan keberuntungan. Namun, bola tidak peduli siapa buyutmu ketika kamu terlambat mengawal pemain di tiang jauh.

Seni Datang pada Waktu yang Tepat

Posisi bek kanan sering tak mendapatkan penghargaan semestinya. Ia harus menyediakan lebar serangan, mendukung pemain sayap, memilih waktu untuk overlap, dan tetap memikirkan ruang yang ditinggalkannya ketika serangan gagal.

Terlalu agresif bisa menjadi pintu masuk serangan balik lawan. Sebaliknya, terlalu berhati-hati bisa membuat tim kehilangan opsi untuk membongkar pertahanan. Karena itu, kualitas bek kanan tidak cukup dinilai dari seberapa sering berlari ke depan, pun ruang apa yang berusaha diserang.

Gol Romano ke gawang Sassuolo menawarkan contoh kecil prinsip tersebut. Ia merangsek ke kotak penalti dan menyambut umpan Kenneth Taylor dengan penyelesaian di tiang jauh. Bukan aksi individu, melainkan pergerakan tanpa bola yang tepat waktu.

Inilah salah satu keterampilan yang sering luput dari sorotan: kemampuan membaca momen ketika harus meninggalkan ruang yang biasa ditempati. Bek kanan tidak perlu menjadi pusat permainan. Kadang, ia hanya perlu memahami kapan harus muncul dari belakang layar.

Tentu, satu gol tak cukup untuk menyimpulkan bahwa Romano telah menjadi bek sayap komplet. Kemampuan bertahan, pengambilan keputusan, ketepatan umpan, dan konsistensi menjaga ruang tetap harus dinilai dari rangkaian pertandingan. Namun, gol itu memberikan bukti konkret tentang kontribusi yang bisa ia tawarkan dalam fase menyerang.

Secara simbolis, mungkin itu cara yang pas untuk mulai membangun reputasi. Bukan meminta orang melupakan namanya, tapi memberikan alasan baru untuk membicarakan permainannya.

Ketika Tribun Mencuri Cerita

Kesulitan Romano terlihat jelas pada Desember 2024. Setelah ia mencetak gol kemenangan Juve Stabia atas Cesena, suporter melakukan salam fasis dan meneriakkan nama belakangnya ketika penyiar stadion menyebut nama Romano. FIGC membuka penyelidikan atas insiden tersebut.

Peristiwa itu memperlihatkan bagaimana seorang pemain bisa kehilangan kendali atas makna yang dilekatkan kepada aksinya. Ia mencetak gol, tapi penonton menggunakan momen itu untuk menampilkan simbol politik yang terkait dengan sejarah keluarganya. Gol yang semestinya menjadi milik pemain dan tim, berubah jadi panggung ekspresi pihak lain.

Penting untuk membedakan kedua hal tersebut. Tindakan suporter tidak otomatis membuktikan pandangan politik Romano. 

Pada saat bersamaan, kemunculan simbol fasis di tribun bukan perkara yang harus dianggap sepele hanya karena terjadi setelah sebuah gol. Ada dua tanggung jawab berbeda. Seorang pemain berhak tidak dianggap sebagai pendukung ideologi tertentu hanya karena garis keturunannya. Sebaliknya, publik tetap berhak mengkritik simbol dan perilaku yang mengagungkan fasisme. Keduanya tidak harus saling meniadakan.

Membela seseorang dari penilaian yang tidak adil bukan berarti menghapus sejarah. Mengingat sejarah juga tidak berarti kita boleh menuduh seseorang atas sesuatu yang tidak pernah terbukti dilakukannya.

Pada akhirnya, tantangan Romano mungkin bukan memenangkan perdebatan tentang nama keluarganya. Debat tersebut terlalu besar untuk diselesaikan melalui satu wawancara atau satu gol. Tantangannya adalah membangun karier yang memiliki cukup banyak isi sehingga namanya tidak selalu membutuhkan penjelasan tentang silsilahnya.

Bukan berarti ia harus menjadi pemain terbaik Serie A agar layak diperlakukan secara wajar. Ia hanya perlu mendapatkan jenis penilaian yang sama seperti pemain lain. Apakah ia membantu tim, apakah ia berkembang, apakah ia mampu menjalankan tugasnya, dan apakah performanya cukup baik untuk mempertahankan tempat di susunan pemain.

Publik juga memiliki pekerjaan yang tidak kalah penting. Kita perlu berhenti menganggap kehidupan seorang pesepak bola sebagai novel sejarah yang setiap babnya wajib berakhir dengan simbol politik. Romano adalah pemain yang memiliki hubungan keluarga dengan salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Italia. Fakta itu relevan. Namun, fakta tersebut tidak menghabiskan seluruh identitasnya.

Pada malam ketika Lazio menghantam Sassuolo, gol Romano sempat dibatalkan oleh bendera offside sebelum VAR mengubah keputusan. Ada jeda ketika ia belum bisa merayakannya dengan tenang. Dalam skala yang berbeda, kariernya telah melewati pola serupa, Sebuah aksi muncul, sebuah penilaian datang, kemudian fakta harus diperiksa sebelum kesimpulan diambil.

Mungkin itulah metafora terbaik untuk kisahnya. Jangan menghapus sejarah, tetapi jangan pula membiarkan sejarah mengambil alih seluruh pertandingan. Di punggungnya, nama keluarga itu tetap ada. Di atas lapangan, ia masih harus berlari, bertahan, membaca permainan, dan mencari ruang. Ia tidak bisa memilih sejarah yang mendahuluinya, tetapi ia masih memiliki kesempatan untuk menentukan apa yang akan menyusul setelah namanya disebut.

Sebab, sebelum bola bergulir, nama Romano memang sudah lebih dahulu tiba. Kini, tugasnya adalah membuat publik memiliki alasan lain untuk mengingatnya. Dan alasan itu, setidaknya untuk malam di Sassuolo, datang dari sebuah pergerakan tepat waktu di tiang jauh.

Manchester United Yang Dahulu Raja, Sekarang Merana
Artikel sebelumnya Manchester United Yang Dahulu Raja, Sekarang Merana
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait