Maklumat Seabad Lalu dan Laga Persipura Sore ini

Maklumat Seabad Lalu dan Laga Persipura Sore ini
Font size:

Persipura Jayapura adalah potret dari jejak harapan setiap anak-anak di Papua. Lebih dari sekadar institusi olahraga, klub ini perlahan telah bermutasi menjadi ruang eksistensial bagi masyarakat Papua. Faktanya semua orang di Papua, bahkan di luar mendukung mereka untuk kembali ke habitatnya. Berawal dari lapangan hijau, impian-impian kecil tentang kesetaraan lahir dan berkembang.  

Ini bertransformasi mimpi menjadi artikulasi pembuktian paling nyata untuk mendobrak stigma, diskriminasi struktural yang menyebakan ketimpangan sosial tidak berakhir. Melalui tendangan bola dari “Mutiara Hitam” inilah warisan kultural menempatkan sepak bola sebagai medium kekuatan terhadap pengakuan Papua di Indonesia. Talenta dari ufuk timur, tempat matahari terbit ini senantiasa akan terus menjadi representasi meraih kesetaraan dan dapat menunjukan berartinya mereka di panggung nasional.

Di bawah kaki Gunung Merbabu pada subuh yang sunyi ini, saya menulis sembari menanti debar partai hidup-mati Persipura melawan Adhyaksa FC Banten sore nanti. Berada jauh dari tanah kelahiran, sama sekali tidak memudarkan ikatan batin saya dengan perjuangan yang sedang dipertaruhkan oleh tim kebanggaan. Dukungan penuh yang saya tuangkan dari kejauhan ini sekiranya beresonansi jauh melampaui batas-batas wilayah dan euforia seorang suporter sepak bola. 

Tulisan ini adalah harapan. Tentu sebuah optimisme yang sejatinya adalah cara saya menautkan kembali ingatan kolektif tentang betapa berharganya tim ini untuk semua orang yang mencintainya. Ini secara paripurna menjadi sebuah dukungan kepada “Kitong pu kebanggan” agar merebut kembali kejayaannya. Kam sangat tra layak harus selalu main di play off!!!

Merenungkan dengan Iman: Betapa Pentingnya Sepak Bola Bagi Papua 

Oooo haleluya inilah puji pujian kami

Anak-anak negeri papua. negeri yang indah dan permai 

Aku berdiri di tanah ini. Aku bernyanyi dari negeri ini

Aku bersaksi dari tempat ini. Bermazmurkan nama yesus

Selagi hayat dikandung badan

Di dunia ini selamanya. 

Persipura

Circa November 2025, saya mendapatkan kesempatan mengikuti ibadah sebelum pertandingan bersama tim Persipura Jayapura. Saat melakukan puji-pujian, saya kembali mendengarkan lagu ini. Saya biasanya atau mungkin kebanyakan orang lainnya menemukannya ketika mengikuti Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR). Meskipun demikian, lagu ini sekarang menjadi sangat ikonik dengan Persipura, yang menggaungkan spirit kekristenan dan kebudayaan yang kuat. 

Kita bisa saksikan gambaran visualnya dalam cuplikan video di Youtube atau Instagram Persipura. Sekilas, tradisi kekristenan sekiranya kuat mengakar dalam tim ini. Apalagi saat bertanding, tidak sedikit dari pemain ataupun keluarganya memosting di sosial media dengan mengatakan, “Tuhan memberkati pelayanan hari ini”. Pertanyaannya, bagaimana bisa sepak bola yang mengakar kuat di Papua berhubungan dengan kekristenan?

Kalaulah kita memeriksa dengan seksama, fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari misi pekabaran Injil (Zending). Saya akan banyak mengajak kita untuk sedikit menelisik sejarah. Izaak Samuel Kijne, selain menempatkan sepak bola bukan hanya sebagai olahraga, tetapi juga sebagai alat untuk mengajarkan disiplin, kerja sama, dan etika kepada murid-muridnya di sekolah peradaban masa itu. 

Dari sekolah di Miei, tradisi bermain bola ini dibawa pulang oleh para murid ke kampung halaman mereka di seluruh Papua. Tidak heran hampir setiap kampung akhirnya memiliki lapangan dan klub sepak bola sendiri. Selain itu, jika kita mengunjungi sebagian sekolah Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) di Tanah Papua, kita akan menemukan lapangan sepak bola yang berdampingan dengan sekolah.

Momentum krusial itu bermula 25 Oktober 1925, ketika Izaak Samuel Kijne melabuhkan visinya di Miei, Teluk Wondama. Kijne bukan sekadar untuk menanamkan dogma religius; ia membawa trinitas misi yang berpusat pada Injil, pendidikan, dan peradaban. Pendirian asrama "Sekolah Peradaban" yang dirancang oleh Bastian Lano menjadi laboratorium sosial pertama yang secara perlahan mendekonstruksi identitas yang komunal-kedaerahan. 

Di dalam tembok asrama tersebut, keberagaman suku dan bahasa dilebur menjadi satu entitas baru melalui rutinitas pendidikan pragmatis, pembagian dinas kerja. Tak lupa juga sepak bola sebagai olahraga yang dilatih terus menerus. Kekristenan pada masa itu bertransformasi menjadi fondasi otonomi dan harapan sosiologis. Hal ini termanifestasi paling kuat dalam keyakinannya melalui doa sulungnya dalam memulai seluruh karya dan kerjanya. Kijne meyakini bahwa: anak-anak Papua rajin bekerja dan bisa bekerja untuk tanah dan bangsanya.

Harapan otonomi yang disemai oleh sekolah peradaban tersebut pada gilirannya dinegosiasikan ulang oleh orang Papua menjadi identitas organik, yakni sepak bola. Zending mula-mula mengintroduksi aktivitas seperti orkes seruling bambu dan sepak bola sebagai instrumen jasmani dan kesenian. Namun, sejarah membuktikan bahwa praktik-praktik saat ini menjadi warisan kekuatan kultural. 

Meskipun dalam keadaan yang sulit masa itu, Pendeta Mesakh Koibur, Barnabas Youwe dan beberapa orang lainnya mendirikan klub ini. Mereka berharap Persipura sebagai wadah agar pemuda Papua terhindar dari rasa minder, frustrasi, dan perasaan tidak memiliki masa depan di tengah situasi politik yang mencekam saat itu. Selain itu, kelak tim ini mampu menyiapkan tenaga-tenaga profesional asal Papua yang harga diri dan martabatnya diakui di tingkat nasional maupun internasional.

Klub ini mewarisi semangat zaman yang terus dirawat dari generasi ke generasi. Julukan "Mutiara Hitam" adalah slogan yang lahir dari kerasnya ketimpangan, namun karena talentanya mampu memaksa pusat kekuasaan untuk memberikan rekognisi. Buktinya, Presiden Soeharto pernah menujuk tim ini di tahun 1970an melawan tim sepak bola Hitachi dari Jepang. Selain pernah mewakili Indonesia juga di dalam berbagai ajang lainnya di luar negeri. Dalam masa keemasannya, saya harus mengatakan bahwa kalian masih yang terbaik dengan bermain dan berprestasi dalam berbagai tunamen di Indonesia dan di Asia. Meskipun begitu, sulit sekali mempertahankan kejayaan, namun bukan berarti tidak mungkin.

Perjuangan Sore ini: Bukan Sekadar Kemenangan, Namun Lebih Dari Itu

IMG-20251128-WA0029-597540792

Seperti yang saya katakan sebelumnya, Persipura bukan sekadar klub sepak bola; ia adalah simbol kebanggaan dan identitas masyarakat Papua. Sejak berdiri, Persipura telah menjadi bukti bahwa anak-anak Papua mampu bersaing dan berprestasi di tingkat tertinggi sepak bola Indonesia. Lebih dari itu, keberadaan Persipura mengikis stigma negatif terhadap Papua dan membangun narasi tentang Papua sebagai tanah penuh talenta dan semangat juang. 

Namun, situasi yang dihadapi sore nanti adalah pembuktian histori, dan sejarah akan mencatatnya. Pertama, ingat kembali cerita saat Kam (kalian) memberitahu keluarga dengan bangga karena bisa menggunakan kostum merah-hitam. Kedua, sore ini adalah catatan sejarah baru jika bisa mendapatkan tiket ke Super League. Ini bukan hanya untuk menaikan level kompetisi, tetapi juga untuk menjaga mimpi dan kebanggaan setiap orang yang telah mereka rawat selama puluhan tahun.

Hari ini, warisan peradaban dan mentalitas petarung tersebut dihadapkan pada ujian paling genting dalam lanskap sepak bola modern. Laga play-off promosi yang mempertemukan Persipura dengan Adhyaksa FC di Stadion Lukas Enembe pada 8 Mei 2026 bukan sekadar pertarungan memperebutkan tiket promosi. Ini adalah perjuangan untuk mengamankan ruang representasi. 

Dalam kuali pergaulan nasional, absennya nama Mutiara Hitam dari kasta tertinggi Liga 1 sama artinya dengan amputasi kultural; hilangnya suara dan wajah Papua di panggung paling elite Nusantara. Perjuangan Persipura hari ini adalah gaung lanjutan dari maklumat Kijne seabad silam. Merebut kembali kasta tertinggi adalah bukti bahwa Papua menolak terpinggirkan dan akan terus memimpin narasi kebesaran tentang  prestasi Papua di Indonesia.

Bagaimanapun juga, tim ini akan ditopang oleh 32.000 masyarakat yang datang dengan cinta dan keyakinan. Oleh karenanya, buatlah seperti apa yang Hengky Heipon pernah katakan saat Persipura bermain tahun 1980an di Jakarta: “Nanti malam kitong akan bertanding. Ini final! Buatlah anak-anak Papua yang mungkin hari ini dia ada di pedalaman Kalimantan atau Sumatera sana, dimanapun! Buatlah agar besok pagi semua orang melihat dia. Kalau kitong menang, betapa bangganya dia. Dia akan berdiri dengan dada terbuka. Jangan buat semua orang mengejek dia!”

Hari ini ada kemenangan. Satu hati, satu tujuan; Persipura, Haleluya, Amin

 


 

Penulis: Fred Keith Hutubessy

Sulit Melihat Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi Lagi di Masa Depan
Artikel sebelumnya Sulit Melihat Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi Lagi di Masa Depan
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait