“Vinci o muori” yang berarti “menang atau mati” merupakan pesan singkat pemimpin fasisme Italia, Benito Mussolini, kepada tim nasional sepak bola mereka sesaat sebelum final Piala Dunia 1938 menghadapi Hungaria. Bagi Mussolini, kemenangan adalah harga mati. Di bawah rezim fasisnya, Il Duce –julukan Mussolini– menjadikan sepak bola sebagai institusi hegemonik untuk mengonsolidasi kekuatan nasional sekaligus mempromosikan fasisme ke seluruh dunia.
Di dalam negeri keberhasilan Italia menjuarai Piala Dunia secara beruntun (1934 dan 1938) digaungkan untuk memupuk kebanggaan nasional. Sementara di dunia internasional, reputasi Italia semakin kokoh karena timnas menjadi simbol persatuan di bawah bendera fasisme.
Apa yang dilakukan Mussolini menjadi purwarupa bagaimana Piala Dunia dimanfaatkan untuk tujuan politis. Lebih dari delapan puluh tahun kemudian, Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada berupaya mereplikasi metode tersebut. Ketiga tuan rumah punya agenda yang berusaha diwujudkan melalui Piala Dunia.
Imperialisme Politik dan Komersialisasi Olahraga ala Amerika
Tiga bulan sebelum Piala Dunia 1938 digelar, Jerman di bawah komando Adolf Hitler menganeksasi sekaligus membuat timnas Austria mundur dari turnamen tersebut. Dalam operasi itu, Jerman dibantu oleh Benito Mussolini.
Sebagaimana ungkapan sejarah selalu berulang, peristiwa serupa terjadi menjelang Piala Dunia 2026 ketika Israel dibantu Amerika Serikat meluncurkan serangan terhadap Iran, salah satu peserta turnamen. Serangan yang menewaskan pemimpin besarnya, Ayatollah Ali Khamenei, sempat membuat timnas Iran ingin mundur dari turnamen meskipun akhirnya memutuskan tetap berlaga.
Ironisnya, pada Desember 2025, FIFA justru baru saja menganugerahkan penghargaan FIFA Peace Price kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Di hadapan Amerika Serikat (dan Israel), FIFA kehilangan seluruh kuasa. Imperialisme politik Amerika Serikat melenggang bebas tanpa sanksi.
Piala Dunia yang seharusnya inklusif bagi masyarakat internasional juga dicoreng oleh kebijakan diskriminatif pemerintahan Trump. Misalnya, bintang timnas Irak, Aymen Hussein, harus diinterogasi selama tujuh jam oleh petugas imigrasi di Chicago sebelum diizinkan pergi. Timnas Iran bahkan terpaksa bermarkas di Meksiko meski ketiga pertandingan fase grup mereka diadakan di Amerika Serikat.
Amerika Serikat menggunakan Piala Dunia untuk menegaskan hegemoninya. Selain soal kebijakan internasional, penyelenggaraan Piala Dunia dibuat ala Amerika. Adanya hydration break di pertengahan babak yang disebut untuk menjaga stamina pemain agar tetap terhidrasi nyatanya merupakan dalih agar ada slot untuk iklan komersial. Meskipun aturan ini berpotensi merusak momentum pertandingan, namun FIFA tidak merasa terganggu. Lagi-lagi FIFA tunduk di bawah ketiak Amerika.
Menutupi Jejak Kartel dan Protes Guru di Meksiko
Isu keamanan menjadi kekhawatiran ketika Meksiko menjadi tuan rumah Piala Dunia. Dalam Global Peace Index 2026, sebuah indikator global yang mengukur tingkat kedamaian dan keamanan suatu negara, Meksiko menempati peringkat ke-139 dari 163 negara.
Kartel narkoba yang beroperasi di Meksiko menjadi penyebabnya. Kartel bergerak layaknya pasukan paramiliter yang siap berperang melawan negara. Sebelumnya, pemerintah Meksiko melaksanakan operasi militer yang menewaskan Nemesio Oseguera Cervantes atau El Mencho, pimpinan Jalisco New Generation Cartel (CJNG). Tewasnya El Mencho direspon dengan aksi balasan melalui teror bersenjata di berbagai wilayah.
Dikutip dari Detik.com, (14/6/2026), selama dua puluh tahun terakhir hampir 100 wali kota dibunuh oleh kartel. Terbaru, Wali kota San Miguel Amatitlan, Joel Bravo, tewas ditembak dalam sebuah serangan bersenjata ketika Piala Dunia memasuki pertandingan pembukanya.
Bersamaan dengan kekerasan kartel yang menghantui, Meksiko juga dipusingkan dengan demonstrasi guru yang menuntut kenaikan upah. Gerakan yang dipimpin oleh serikat Coordinating Committee of Education Workers (CNTE) memprotes kebijakan pemerintah memprioritaskan anggaran Piala Dunia dibanding menyelesaikan konflik ketenagakerjaan. Ribuan massa sempat memblokir jalan menuju Stadion Azteca beberapa hari sebelum pertandingan pembuka diadakan di sana.
Pemerintah Meksiko mungkin menilai Piala Dunia mampu menutupi isu domestik yang bergulir. Namun, yang terjadi justru dunia melihat kegagalan pemerintah Meksiko dalam menghadirkan rasa aman bagi negara peserta dan menyeimbangkan kebijakan dalam negeri untuk sektor yang tidak berkaitan langsung dengan penyelenggaraan event akbar ini.
Kanada: Ilusi Kesejahteraan di Balik Pesta Bola
Perekonomian Kanada tengah mengalami resesi teknis yang dipicu oleh kontraksi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) sebesar 0,1% pada kuartal pertama 2026. Dilansir dari Global News Wire, (17/5/2026), Kanada juga mengalami krisis ketenagakerjaan dengan kehilangan lebih dari 112.000 pekerjaan sepanjang 2026.
Empat tahun lalu, Kanada juga sempat menghadapi inflasi sebesar 7% yang menyebabkan krisis biaya hidup mulai dari nilai properti yang semakin mahal dan tingginya harga kebutuhan pokok. Meski diterpa krisis ekonomi, Pemerintah Kanada tetap jor-joran dengan mengucurkan lebih dari USD 1 miliar yang digunakan untuk perbaikan stadion dan pembangunan infrastruktur pendukung Piala Dunia 2026.
Piala Dunia dijadikan Kanada sebagai galah untuk melentingkan ekonominya. Perhelatan ini diproyeksikan dapat menyumbang sekitar USD 2 miliar terhadap PDB Kanada dan mendorong terbukanya ribuan lapangan kerja.
Namun, jika kita berkaca pada Qatar, tuan rumah Piala Dunia 2022, yang menginvestasikan lebih dari USD 200 miliar hanya mampu mendapatkan pemasukan bruto senilai USD 1,6 - USD 2,4 miliar. Angka ini hanya senilai kurang dari 1% PDB Qatar pada tahun 2022.
Sepak bola selalu lebih menarik jika kita membahas aspek non-teknis seperti dampak sosial, ekonomi dan politik yang dihasilkannya. Meminjam analisis Mahfud Ikhwan dalam “Setelah Argentina Juara”, ia menyebut ada dua cara pandang dalam mengidealkan sepak bola yang keduanya saling bertolak belakang.
Cara pertama adalah memisahkan sepak bola dari bisnis dan politik, yang mana hanya dianut oleh orang yang terlampau naif. Kedua ialah sepak bola terlalu penting untuk dijauhkan dari upaya membuat dunia jadi lebih baik (yaitu bisnis dan politik).
Melihat besarnya kepentingan domestik dan internasional yang ingin dicapai oleh ketiga negara penyelenggara Piala Dunia 2026, turnamen kali ini tampak bergeser dari hakikatnya sebagai pesta sepak bola, dan lebih terlihat sebagai panggung bagi legitimasi politik, kepentingan ekonomi, dan pencitraan kekuasaan yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.
Pandit Sharing Challenge oleh Georgius Benny (@georgiusbenny)
