Sepak Bola dan Koperasi: Membaca Ulang Bung Hatta dari Atas Lapangan Hijau

Sepak Bola dan Koperasi: Membaca Ulang Bung Hatta dari Atas Lapangan Hijau
Font size:

Membicarakan relasi antara bapak bangsa dan sepak bola, ingatan kolektif kita hampir selalu  pada satu nama yang menggema: Soekarno. Kita senantiasa mengenang Bung Karno yang dengan suaranya yang membelah udara, menjadikan olahraga sebagai instrumen diplomasi paripurna. Kita mengingatnya saat ia menitahkan berdirinya Stadion Utama Gelora Bung Karno yang monumental itu, atau saat ia menabuh genderang GANEFO (Games of the New Emerging Forces) sebagai manifesto perlawanan terhadap arogansi imperialisme Komite Olimpiade Internasional. Di mata Soekarno, sepak bola adalah romansa epik tentang kebanggaan, heroisme, dan pertunjukan kolosal yang membius massa.

Namun, di sudut sejarah yang lebih sunyi dan kontemplatif, bagaimana dengan Mohammad Hatta?

Bung Hatta jelas bukanlah figur yang akan melompat kegirangan di tribun penonton. Ia adalah antitesis dari segala bentuk keriuhan yang artifisial. Ia adalah manusia buku, pemikir yang dingin, ekonom yang bertumpu pada kalkulasi rasional, dan seorang pendidik yang teramat percaya pada ketekunan proses. Jika Soekarno diibaratkan sebagai seorang penyerang tengah (striker) flamboyan untuk mencetak gol-gol akrobatik agar seisi stadion bergemuruh, maka Hatta adalah seorang regista (gelandang versatile yang bisa berposisi sebagai pemain bertahan). Ia berdiri tenang di kedalaman lapangan, mengamati pergerakan kawan maupun lawan, mengukur probabilitas spasial, dan melepaskan umpan terobosan yang mengiris pertahanan lawan tanpa ia sendiri perlu banyak berlari.

Setiap kali kita membicarakan Mohammad Hatta, imajinasi di kepala yang langsung terlintas adalah seorang pria berkacamata bulat, mengenakan peci yang pas, selalu memakai baju rapi, dan dikelilingi oleh tumpukan buku. Kita mengenalnya sebagai Proklamator Kemerdekaan, Bapak Koperasi, dan seorang pemikir intelektual yang sederhana dan bersahaja. Namun, sebagai penggemar sejarah dan sepak bola, menarik untuk mengungkap sisi lain dari Di balik citranya yang serius dan seorang kutu buku, Bung Hatta muda adalah pemuda yang tidak ragu untuk mengotori kakinya di lapangan sepak bola yang berlumpur. Memang, Mohammad Hatta adalah seorang pesepak bola.

Sang Onpasseerbaar yang Sulit Ditembus

Hatta pada usia remaja menempuh pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang, Sumatera Barat. Menurut buku “Bung Hatta (Untuk Negeriku)” menyebutkan Hatta bergabung dengan perkumpulan sepak bola Swallow. Hatta muda sering berlatih dan bermain sepak bola di Plein van Rome (sekarang Lapangan Imam Bonjol, Padang). Teman-teman Hatta menjulukinya sebagai Onpasseerbaar / pemain yang sulit dilewati. 

Selain menjadi gelandang, Hatta muda didapuk oleh teman-teman sekolahnya dalam perkumpulan Swallow sebagai bendahara. Kemampuan manajerial mengelola keuangan perkumpulan mulai dari bola harus dibeli dari iuran anggota dan mengumpulkan kontribusi untuk setiap bulannya. 

Kegemaran Hatta muda dalam sepak bola berlanjut saat menjadi anggota Jong Sumatranen Bond (JSB). Bersama tim sepak bola JSB, Hatta tak lagi bermain sebagai gelandang tengah, melainkan didapuk sebagai penyerang tengah. Hobinya bermain sepak bola pun tidak padam ketika diasingkan sebagai tahanan politik pemerintah Hindia Belanda. Bung Hatta ketika dibuang di Boven Digul, Papua. 

Historia: Bung Hatta Ternyata Jago Main Sepakbola, Dijuluki Onpas Serbaar -  Prokabar

 

Mohammad Hatta (tengah) di Boven Digul, Papua. Foto: Repro dalam buku ”Sutan Sjahrir, Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan”

Menurut Memoar Seorang Eks-Digulis: Totalitas Sebuah Perjuangan Mohammad Bondan, Hatta memainkan pertandingan sepak bola dengan tahanan politik lainnya. Dengan Formasi 2-3-5, posisi kiper oleh Marwoto, Bung Hatta, dan Burhanuddin sebagai pemain bertahan (bek), Datuk Singo, Maskun, dan Sabilal Rasad berjejer dari kiri kekanan sebagai gelandang, Lima posisi penyerang ditempati oleh Suka, Mohammad Bondan, Sutan Sjahrir, Lubis dan Muhidin. 

Seorang center-half pada era piramida klasik (2-3-5) adalah otak dari sebuah tim. Ia dituntut untuk memiliki stamina ekstra, ketenangan tingkat tinggi, dan kemampuan spasial untuk melihat posisi kawan dan lawan. Bukankah ini deskripsi yang persis sama dengan perannya kelak saat menjadi wakil presiden pertama untuk Republik Indonesia? Begitu juga ketika diasingkan kembali ke Banda Neira. Dalam buku “Bersama Hatta, Sjahrir, dr. Tjipto & Iwa Koesoema Soemantri di Banda Neira”, Des Alwi menuturkan kemampuan Bung Hatta sebagai pemain bertahan yang tangguh. 

Koperasi sebagai Manajerial Klub Sepak Bola Indonesia

Berlanjut di masa kemerdekaan, Menurut buku “Pribadi Manusia Hatta”, antusiasme Bung Hatta terhadap sepak bola tampak ketika pertandingan persahabatan timnas PSSI dengan klub Aryan Gymkhana di Lapangan Ikada (sekarang Kompleks Monas, Jakarta). Timnas kalah dengan skor 0-1, Bung Hatta mengomentari secara komprehensif layaknya sedang membicarakan persoalan ekonomi-politik. 

Bagi Hatta, sepak bola bukan sekadar olahraga rekreasi untuk membuang keringat. Hatta tidak sekadar menendang bola dan menjaga kedalaman timnya, Hatta mempraktikkan apa yang menjadi prinsip dalam perjuangan politiknya. Ia bermain untuk melatih fisik, membangun sportivitas, dan mempersiapkan diri menanggung beban sejarah sebuah bangsa. Apa yang akan dikatakan oleh Bung Hatta melihat kompetisi sepak bola Indonesia hari ini? Mungkin ia hanya bisa menggelengkan kepala. 

Jika Hatta diminta merumuskan peraturan pengelolaaan liga kita, ia pasti akan mendorong klub-klub untuk berbadan hukum koperasi atau berbentuk kepemilikan kolektif berbasis komunitas pendukung (member-owned). Ini sama sekali bukan ide utopis. Konsep kolektif ini adalah ruh utama dari aturan sakral 50+1 di Bundesliga Jerman, yang melarang investor menelan mayoritas saham klub. Ada pula sistem keanggotaan penuh (socio) yang dipertahankan mati-matian oleh FC Barcelona dan Real Madrid, hingga tim-tim sayap kiri kultural layaknya FC St. Pauli.

Klub-klub sepak bola Indonesia saat ini banyak dimiliki oleh segelintir orang baik dari kalangan pengusaha maupun politisi. Manajerial sepak bola Indonesia banyak melupakan substansi (pembinaan usia dini, Infrastruktur, dan kesejahteraan pelaku sepak bola) dan banyak mengejar popularitas dan keuntungan komersial semata. 

Melalui semangat gotong royong koperasi, klub dimiliki, diawasi, dan dihidupi secara kolektif oleh ribuan suporternya sendiri. Neraca keuangan klub wajib diaudit dan dipublikasikan secara transparan. Manajemen terhindar dari cengkeraman pemilik tunggal yang bisa membubarkan tim atau menjual lisensi klub. Pengeluaran, utamanya alokasi untuk gaji pemain (salary cap), akan dikalkulasikan secara rasional sesuai pendapatan real (dari tiket, hak siar, dan merchandise), mencegah klub memaksakan diri membeli pemain bintang yang berujung pada kasus penunggakan hak pekerja lapangan hijau.

Sebuah Playbook dari Bung Hatta

Bung Hatta memang telah lama berpulang, dan ia sama sekali tidak pernah menyusun jurnal tentang gegenpressing, transisi positif-negatif, ataupun peran inverted full-back. Kita harus memaksa diri kembali ke titik nol: meramu akademi yang mendoktrinkan literasi taktik berbasis ruang dan data, merawat prinsip kolektivitas klub layaknya koperasi, serta menjadikan kedisiplinan yang tak tertawar sebagai harga mati. 

Di tengah hiruk-pikuk industri bola yang kian bising, pragmatis, dan individualistis, membaca ulang Bung Hatta secara mendalam ibarat menemukan sebuah playbook rahasia untuk membedah penyakit kronis sepak bola kita. Pada peluit panjang terakhir, kemerdekaan bermain dan kemenangan yang hakiki hanya akan berpihak pada mereka yang sanggup membungkam ego pribadinya, berpikir dingin dengan logika taktis, dan berjuang bersama-sama di atas rumput hijau.

-------------------------------

Penulis: Alem Putra Arma

Memperoleh gelar S.Sej (Sarjana Sejarah) dari Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya UGM dan M.Sc (Master of Science) dari Magister Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana UGM. Mengemari kajian sepak bola dan sejarah serta dinamika seputar dunia sepak bola Indonesia dan Dunia.

FIFA Uncovered: Menonton Ulang Drama Lama di Tengah Skandal Baru FIFA
Artikel sebelumnya FIFA Uncovered: Menonton Ulang Drama Lama di Tengah Skandal Baru FIFA
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait