Italia Harus Mengubah Pola Pikir Jika Ingin Bangkit

Italia Harus Mengubah Pola Pikir Jika Ingin Bangkit
Font size:

Juara pada 2006 adalah prestasi terakhir Italia di pentas Piala Dunia pada abad ke-21. Saat itu, Italia adalah raja sepak bola sesungguhnya dengan pemain–pemain kelas wahid. Hal ini didukung dengan kompetisi Serie-A yang berada di puncak kejayaannya sejak 1980 hingga awal 2000-an dan memiliki julukan Lega Dei Campioni. Namun, setelah juara pada 2006, prestasi Italia menurun drastis di kancah Piala Dunia.   

Pada 2010 di Afrika Selatan dan 2014 di Brasil, mereka kalah di fase grup. Setelah itu, sejak 2018 hingga 2026 Italia tidak pernah kembali ke putaran final Piala Dunia dan selalu kalah di babak kualifikasi. Bagi tim dengan koleksi juara dunia empat kali, ini merupakan pencapaian yang sangat memalukan.

Di level klub, tim-tim Italia mulai berbenah di benua Eropa dengan prestasi sebagai juara kompetisi Eropa. Contoh terdekatnya adalah Atalanta yang berhasil meraih piala UEFA Europa League pada 2023/24 dan AS Roma yang berhasil menjuarai UEFA Conference League musim 2021/22. Namun, tim Italia sudah lama tidak meraih trofi Si Kuping Besar atau Liga Champions setelah Inter Milan menjuarainya pada 2009/10. Skandal Calciopoli atau pengaturan skor menjadi salah satu alasan kuat kemunduran ekosistem sepak bola Italia yang hingga saat ini masih terus dibenahi, meskipun Serie-A belum berjaya seperti dulu lagi.

Salah satu kritik tajam kepada sepak bola di Italia ditujukan kepada para pemain, yang sangat berat untuk keluar dan bermain di negeri orang. Anggapan umumnya karena para pemain Italia enggan keluar dari zona nyaman. Padahal, banyak negara yang meningkat prestasinya karena bermain di liga luar negeri. Salah satunya Belgia, yang para pemainnya banyak sukses bermain di liga luar negeri serta menyebar ke berbagai belahan Eropa. 

Memang, masih ada segelintir pemain asal Negeri Piza bermain di luar negeri. Mereka tersebar di Inggris, Portugal, Jerman, Italia dan Prancis. Mereka menyebar ke berbagai klub untuk mengadu nasib jauh dari keluarga demi kesempatan mendapatkan karier sepak bola yang lebih baik.

Perjuangan para pemain asal Italia di Inggris dapat terlihat dari bagaimana Ricardo Calafiori, Federico Chiesa, Giovanni Leoni, Gianlugi Donnarumma, Michael Kayode, dan Nicolo Savona di perantauan. Savona dan Leoni belum mendapatkan menit bermain yang optimal karena cedera. Tetapi, Ricardo Calafiori berhasil menembus skuad utama Arsenal bahkan menjadi pilar utama tim yang menjuarai Premier League. Musim ini, ada tambahan Marco Palestra yang baru bergabung ke Chelsea.

Cerita berbeda datang dari Prancis, di mana Luca Koelosho yang sebelumnya kurang mendapatkan menit bermain bersama Burnley, menjadi salah satu pilar utama dari Paris FC. Tim yang digadang–gadang menjadi saingan Paris Saint Germain tersebut menggunakan jasa Koelosho untuk setengah musim dengan status pinjaman, bermain 18 laga dan menctak 3 gol dan 1 assist. 

Hal inilah yang membuat pemain dengan empat kewarganegaraan tersebut mendapatkan caps pertama mereka di tim nasional serta menjadi generasi baru dari skuad Azzurri. Keganasan Koerloho selama setengah musim membuat Paris FC tergiur untuk merekrut pemain Italia lain. Menurut Allafrican Soccer, Paris FC tertarik untuk membali penyerang lubang asal Italia berdarah Pantai Gading, Mohamed Ali Zoma.

Dari sini, bisa kita simpulkan bahwa para pemain Italia harus berani mengubah nasib negara mereka dengan menyebar ke liga dari berbagai negara di dunia. Hal ini penting karena mereka perlu mempelajari budaya, bahasa, dan sepak bola di negara lain demi mengasah mental saat jauh dari keluarga. Selain itu, para pemain Italia yang bermain di luar negeri akan menjadi corong informasi bagi tim nasional karena dia juga merasakan sistem sepak bola di sebuah negara yang tentu saja menjadi karakter dari tim nasional negara tersebut.

Dari dua alasan di atas, maka keluarnya pemain asal Italia ke luar negeri seperti yang dilakukan oleh Calafiori, Palestra dan Koelosho salah satu cara yang efektif untuk meningkatkan kualitas tim nasional. Ketika strategi dan informasi dari berbagai negara dikumpulkan serta digabungkan dengan identitas dan kekuatan timnas, akan menjadi kekuatan besar yang akan membuat sepak bola Italia naik level dan kembali berbicara banyak di panggung dunia.  

Penulis: Visnu Assyafiq Suwarto (Instagram: @visnuassyafqisuwarto)

Kisah Portsmouth Diselamatkan Suporter dari Kematian
Artikel sebelumnya Kisah Portsmouth Diselamatkan Suporter dari Kematian
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait