Dua musim pertama Liga Champions dengan format baru telah melahirkan sebuah pola yang cukup menarik. Klub yang finis di posisi pertama klasemen fase liga (league phase) ternyata belum pernah menjadi juara di akhir musim. Apakah ini akan menjadi cikal-bakal kutukan untuk tim-tim yang berambisi mengakhiri league phase sebagai penguasa puncak?
Pada musim 2024/25, Liverpool menjadi pemuncak league phase, tetapi langkah mereka harus terhenti di babak 16 besar setelah disingkirkan Paris Saint-Germain (PSG). Semusim kemudian, Arsenal melakukan hal yang lebih jauh. Mereka finis di posisi pertama, bahkan memenangkan seluruh delapan pertandingan league phase. Namun, perjalanan mereka kembali berakhir tanpa trofi setelah kalah dari PSG di final melalui adu penalti.
Dua musim, dua pemuncak league phase, dan keduanya gagal mengangkat Si Kuping Besar. Apakah ini hanya kebetulan atau lagi-lagi justru mulai muncul sebuah jinx di era baru Liga Champions?
Musim 2026/27 menjadi edisi ketiga Liga Champions dengan format baru. UEFA mengubah kompetisi dari sistem grup menjadi league phase yang diikuti oleh 36 klub. Masing-masing klub memainkan delapan pertandingan menghadapi lawan yang berbeda, sebelum akhirnya 24 klub terbaik melanjutkan perjalanan menuju fase gugur.
Perubahan ini membuat Champions League terasa sedikit berbeda. Tidak ada lagi pembagian grup yang selama bertahun-tahun menjadi ciri khas kompetisi ini. Sebagai gantinya, setiap pertandingan dalam league phase menjadi bagian dari sebuah klasemen besar yang mempertemukan seluruh peserta.
Format baru ini juga memberikan kesempatan kepada beberapa klub yang mungkin tidak selalu kita jumpai di malam-malam Liga Champions. Musim ini misalnya, Manchester United akan kembali tampil setelah dua musim absen. Mereka juga akan menghadapi Sabah dari Azerbaijan yang untuk pertama kalinya merasakan atmosfer league phase Liga Champions.
Bagi sebuah klub, bermain di Liga Champions tentu bukan perkara kecil. Kompetisi ini bukan sekadar panggung untuk menghadapi klub-klub terbaik Eropa, tapi juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa mereka layak berada di level tertinggi sepak bola antarklub. Itulah yang membuat format baru ini menarik. Selain menghadirkan lebih banyak pertandingan, league phase juga menciptakan cerita-cerita baru yang sebelumnya sulit kita temui.
Namun, dari dua musim pertama, justru muncul satu cerita yang cukup unik: Dua Musim, Dua Pemuncak, Dua Kegagalan. Liverpool menjadi klub pertama yang finis di posisi teratas league phase pada musim 2024/25. Mereka tampil sangat meyakinkan dengan memenangkan tujuh dari delapan pertandingan dan hanya sekali menelan kekalahan.
Namun, posisi pertama tersebut ternyata tidak banyak membantu ketika memasuki fase gugur.
Liverpool harus menghadapi PSG di babak 16 besar. Setelah bermain imbang 1-1 secara agregat, Liverpool akhirnya tersingkir melalui adu penalti di Anfield. PSG sendiri kemudian terus melaju hingga final dan mengalahkan Inter Milan dengan skor telak 5-0. Gelar tersebut menjadi trofi Liga Champions pertama sepanjang sejarah klub asal Paris itu.
Musim berikutnya, Arsenal mengambil alih posisi Liverpool sebagai pemuncak league phase. Bahkan, mereka tampil lebih sempurna dengan memenangkan seluruh delapan pertandingan. Kalau melihat hasil tersebut, Arsenal seharusnya menjadi salah satu kandidat terkuat untuk mengangkat trofi. Namun, cerita kembali berulang. Arsenal berhasil mencapai final dan kembali bertemu PSG. Pertandingan berlangsung ketat hingga harus ditentukan melalui adu penalti. PSG akhirnya menang 4-3 dan mempertahankan gelarnya untuk musim kedua secara beruntun.
Arsenal pun kembali harus menerima kenyataan yang sama: finis sebagai pemuncak league phase, tampil menjanjikan, tetapi kembali gagal menjadi juara. Sementara itu, PSG justru melakukan hal yang sebaliknya. Mereka tidak perlu finis di posisi pertama league phase untuk menjadi raja Eropa. Bahkan pada musim 2025/26, PSG sempat harus melalui knock-out phase play-off sebelum akhirnya melaju hingga final. Dari sinilah cerita tentang "kutukan" itu mulai terasa menarik.
Kutukan atau Sekadar Kebetulan?

Sejak format baru diperkenalkan, posisi pertama league phase seolah-olah belum menjadi pertanda baik bagi klub yang ingin menjadi raja Eropa. Liverpool dan Arsenal sudah memberikan dua contoh. Keduanya sama-sama menjadi pemuncak league phase, tetapi gagal mengakhiri musim dengan trofi. Apakah itu berarti memang ada kutukan? Tentu saja, belum tentu.
Dua musim adalah jumlah sampel yang terlalu kecil untuk membuktikan adanya sebuah pola yang benar-benar kuat. Dalam sepak bola, terlalu mudah bagi kita untuk melihat dua kejadian yang berurutan lalu menganggapnya sebagai sebuah tren. Bisa jadi semua ini memang hanya kebetulan.
Namun, justru di situlah menariknya Liga Champions. Format baru membuat posisi di league phase memiliki konsekuensi yang berbeda dibandingkan format lama. Menjadi pemuncak klasemen memang memberikan keuntungan dalam perjalanan menuju fase gugur, tetapi tidak otomatis membuat sebuah klub lebih dekat dengan trofi. Fase gugur tetap menjadi dunia yang berbeda. Satu pertandingan buruk, satu kesalahan, satu adu penalti, atau bahkan satu momen kecil bisa mengubah seluruh perjalanan sebuah klub.
Liverpool merasakannya ketika menghadapi PSG. Arsenal juga mengalaminya ketika harus menghadapi PSG di final. Jadi, mungkin bukan posisi pertama yang menjadi kutukan. Bisa jadi justru ekspektasi yang datang bersamanya. Ketika sebuah klub berhasil mendominasi league phase, ekspektasi untuk menjadi juara otomatis ikut membesar. Setiap hasil buruk di fase gugur kemudian terasa seperti sebuah kegagalan besar. Dan sejauh ini, dua klub yang finis di posisi pertama belum mampu melewati tekanan tersebut.
Menariknya, cerita tentang "kutukan" ini kembali menemukan protagonis yang sama pada musim 2026/27. Arsenal datang sebagai favorit utama untuk memenangkan Liga Champions musim ini menurut prediksi superkomputer Opta. Dalam 10.000 simulasi yang dilakukan Opta, Arsenal memiliki peluang 20,9 persen untuk mengangkat trofi. Di belakang Arsenal terdapat Bayern München dengan peluang 19,4 persen, Manchester City 12,3 persen, Barcelona 8,2 persen, dan PSG 7,1 persen. Real Madrid, klub dengan koleksi gelar Liga Champions terbanyak, justru hanya memiliki peluang sekitar 4,4 persen menurut simulasi tersebut. Angka-angka itu tentu tidak menentukan apa pun. Prediksi tetap hanya prediksi.
Namun, ada satu hal yang membuat posisi Arsenal menjadi menarik. Mereka bukan hanya favorit utama musim ini. Mereka juga merupakan klub yang baru saja mengalami sendiri bagaimana rasanya menjadi pemuncak league phase tapi gagal mengangkat trofi. Jika Arsenal kembali finis di posisi pertama, pertanyaan yang sama akan kembali muncul.
Apakah sejarah akan terulang? Atau justru Arsenal menjadi klub pertama yang mematahkan jinx tersebut? Tentu saja masih terlalu dini untuk menjawabnya. Liga Champions 2026/27 baru saja dimulai. Perjalanan menuju final di Madrid masih panjang dan akan ada banyak hal yang bisa terjadi di sepanjang jalan.
PSG pun datang dengan ambisi yang tidak kalah besar. Setelah memenangkan dua edisi pertama Liga Champions di era league phase, klub asal Prancis tersebut kini memiliki kesempatan untuk mencetak sejarah dengan menjadi klub pertama yang meraih tiga gelar secara beruntun sejak Real Madrid melakukannya pada 2016 hingga 2018. Jika berhasil, dominasi PSG akan semakin memperkuat cerita bahwa Liga Champions di era barunya memiliki pola yang berbeda dari sebelumnya. Namun, kalau Arsenal atau klub lain berhasil merebut trofi, cerita tentang "kutukan" tersebut mungkin akan berakhir secepat ia dimulai.
Pada akhirnya, semua prediksi, statistik, persentase, hingga berbagai macam ramalan yang muncul sebelum kompetisi dimulai tetap hanya akan menjadi angka di atas kertas. Sepak bola selalu memiliki cara sendiri untuk mengejutkan. Dua musim sebelumnya memang memberikan sebuah pola yang menarik. Pemuncak league phase belum mampu menjadi juara, sementara PSG yang tidak selalu tampil meyakinkan di awal justru berhasil berdiri sebagai raja Eropa.
Kini, panggung tertinggi kompetisi antarklub Eropa kembali dibuka. Sebanyak 36 klub akan memulai perjalanan mereka dengan satu tujuan yang sama: mengangkat Si Kuping Besar di akhir musim. Siapa yang akan bertahan, siapa yang akan tumbang, siapa yang akan menjadi kejutan, dan siapa yang akhirnya berdiri sebagai raja Eropa? Dan yang paling menarik, apakah "kutukan" pemuncak league phase akan kembali berlanjut? Menarik untuk kita lihat akhir dari turnamen ini.
Welcome back, UCL nights. Let the madness begin!
Penulis: Ari Alvitra (Twitter/X: @Alvitraaaaa)
