Font size:
Apa kesamaan Geoffrey Kondogbia, Raphael Varane, Serge Aurier, Benoit Assou Ekotto, dan Rene-Adelaide? Pemain-pemain tersebut saat ini memang tidak bermain di kesebelasan yang sama, namun ternyata semua pemain ini berasal dari satu akademi yang sama, yaitu RC Lens Youth Academy.
RC Lens memang bukan kesebelasanelit di Ligue 1 saat ini. Meski sempat juara Ligue 1 1997/1998, dan berada di papan atas Ligue 1 pada awal 2000an, mereka harus terdegradasi di tahun 2008. Sejak itu mereka hanya mampu bolak-balik promosi dan degradasi dari Ligue 1. Musim lalu pun mereka hanya sempat merasakan satu musim di Ligue 1, setelah berhasil promosi di musim 2013/2014, mereka harus kembali terdegradasi di musim 2014/2015. Namun siapa sangka bahwa RC Lens adalah salah satu kesebelasan Perancis yang memiliki akademi pemain muda yang sangat baik. Mereka telah berhasil menghasilkan pemain-pemain berbakat yang beberapa diantaranya telah disebutkan diatas. Akademi milik RC Lens ini juga merupakan salah satu akademi sepakbola paling produktif di Perancis. Bahkan beberapa sumber mensejajarkan akademi Lens dengan akademi-akademi terkenal di Eropa lainnya seperti Ajax dan La Masia (Barcelona).
Cerita lain soal akademi-akademi Sepakbola: Manchester City Feyenord TiongkokKondisi Terbalik di RC Lens Sayangnya, produktivitas di akademi tidak berbanding lurus dengan prestasi di tim senior. La Gaillette yang terus menghasilkan pemain-pemain berkualitas tidak membuat RC Lens menjadi klub yang mapan. RC Lens justru semakin terpuruk dengan permasalahan finansial yang membelit. Masalah finansial ini menyebabkan Lens gagal mempertahankan pemain-pemain berbakatnya. Mereka harus menjual satu per satu pemain berbakat mereka ke kesebelasan lain sehingga tidak ada yang mampu berprestasi di kesebelasan senior Lens. Bahkan musim lalu, Antoine Kombouare, manajer Lens, harus mengisi starting line-up Lens dengan pemain-pemain yang belum berusia lebih dari 20 tahun. Lebih buruk lagi, pada pertengahan musim, pemasukan Lens tidak mencukupi untuk bisa membayar gaji para pemain dan staf hingga akhir musim. Mereka pun akhirnya harus menjual salah satu pemain andalan mereka, Dimitri Cavare, untuk bisa menutup kekurangan biaya yang mereka butuhkan tersebut. Pada bulan Januari lalu pun, League’s National Directorate of Management Control (DNCG) pun menganulir promosi Lens di tahun 2014 ke Ligue 1. Hal ini terjadi akibat Lens tercatat memiliki masalah keuangan yang tidak bisa mereka selesaikan. Keputusan ini berujung pada mereka dipastikan terdegradasi pada akhir musim meski mereka tidak berada dalam zona degradasi sekalipun (pada akhirnya Lens tetap berada di peringkat paling buncit Ligue 1). Dengan kembalinya mereka ke Ligue 2, tentu akan membuat Lens semakin sulit mempertahankan pemain-pemain berbakat yang mereka miliki. Namun beruntungnya, mereka masih memiliki pendukung setia yang masih terus mendukung mereka. Pendukung setia Lens ini bahkan masih tetap rela hadir ke stadion musim lalu stadion pindah hingga 100km lebih dari kota. Pasalnya, stadion Stade Bollaert-Delelis yang biasa mereka gunakan sedang direnovasi untuk keperluan Piala Eropa 2016 mendatang. Meski begitu, La Gaillette masih berdiri kokoh dan terus produktif menghasilkan pemain-pemain muda berbakat Perancis. Keterpurukan RC Lens tidak akan membuat orang lupa, bahwa dari La Gaillette lah Geoffrey Kondogbia, salah satu gelandang paling mahal Perancis saat ini, dilahirkan.