Dalam sepak bola, terkadang ada hal-hal kecil yang sulit dijelaskan dengan kata dan logika. Bukan soal statistik, bukan juga hitung-hitungan di atas kertas, tetapi tentang cerita yang terus berulang dan kemudian dipercaya oleh banyak orang. Salah satunya adalah hubungan antara Persebaya Surabaya dengan klub-klub kasta kedua yang punya ambisi promosi ke Super League.
Dalam beberapa tahun terakhir, ada sebuah kebetulan menarik. Sejumlah klub yang sempat beruji coba melawan Persebaya sebelum kompetisi dimulai kemudian berhasil naik kasta. Tentu saja, faktanya adalah pertandingan persahabatan melawan Persebaya tidak pernah menjadi patokan pasti untuk tim yang mau promosi. Tetapi dalam sepak bola, khususnya Liga Indonesia, cerita seperti ini sering kali membuat pertandingan terasa punya makna lebih.
Kini giliran PSIS Semarang yang masuk dalam mitos cerita tersebut. Laskar Mahesa Jenar sempat menjalani uji tanding menghadapi Persebaya di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Minggu (19/7). Pertandingan yang menjadi bagian dari persiapan kedua tim tersebut berakhir imbang 2-2. Bagi PSIS, hasil ini tentu bukan sekadar skor akhir. Ada banyak hal yang bisa dilihat dari pertandingan tersebut. Selain mengukur kesiapan tim sebelum Championship dimulai, laga ini juga kembali mengingatkan pada sejarah beberapa klub yang sebelumnya pernah datang ke Surabaya sebelum akhirnya merasakan promosi.
Sebenarnya tidak ada hubungan langsung antara uji coba melawan Persebaya dengan keberhasilan promosi. Sepak bola tidak bekerja seperti itu. Namun menariknya, beberapa klub memang memiliki cerita yang hampir mirip. Salah satu yang paling diingat adalah PSIS sendiri pada 2017. Saat itu Persebaya baru kembali ke kompetisi resmi sepak bola Indonesia setelah bertahun-tahun dibekukan tidak boleh mengikuti kompetisi Liga Indonesia.
Laga kembalinya Persebaya langsung melawan PSIS, menjadi pertandingan emosional bertajuk Home Coming Game. Pertandingan tersebut berakhir imbang 1-1. Tidak ada yang menyangka jika beberapa bulan setelahnya kedua tim sama-sama berhasil kembali ke Liga 1. Persebaya tampil luar biasa dan menjadi juara Liga 2 setelah mengalahkan PSMS Medan di pertandingan final. Sementara PSIS harus melewati jalan yang lebih panjang.
Tim yang saat itu dilatih Subangkit tersebut harus menghadapi Martapura FC di babak playoff. Pertandingan berlangsung dramatis dan berakhir 6-4 untuk kemenangan PSIS setelah melewati babak tambahan waktu. Dua klub besar dengan sejarah panjang akhirnya kembali bersama-sama ke kasta tertinggi. Momen tersebut kemudian membuat banyak orang mulai melihat laga melawan Persebaya sebelum musim dimulai sebagai sebuah cerita menarik.
Cerita Klub-Klub yang Naik Kasta Setelah Bertemu Persebaya
PSS Sleman menjadi salah satu klub yang kemudian merasakan tuah setelah melakukan ujicoba dengan Persebaya. Pada Desember 2017, PSS menghadapi Persebaya dalam pertandingan Celebration Game. Saat itu Persebaya menang 2-1. Namun musim berikutnya, PSS justru menjadi salah satu tim terbaik di Liga 2. Mereka keluar sebagai juara setelah mengalahkan Semen Padang 2-0 di final dan memastikan promosi ke Liga 1.
Persis Solo juga punya cerita yang hampir sama. Dalam laga bertajuk Forever More pada Januari 2020, Persis kalah cukup telak 0-4 dari Persebaya. Tetapi setelah kompetisi kembali berjalan usai pandemi, Persis mampu bangkit. Pada musim 2021, Laskar Sambernyawa menjadi juara Liga 2 setelah mengalahkan RANS Nusantara 2-1 di final dan mendapatkan tiket promosi.
Cerita lain datang dari PSIM Yogyakarta. Pada Juli 2022, PSIM menghadapi Persebaya dalam laga Going Strong Game di Stadion Gelora Bung Tomo. Persebaya menang tipis 1-0. Saat itu PSIM sebenarnya memiliki peluang besar untuk promosi. Di bawah Erwan Hendarwanto, mereka tampil cukup menjanjikan dengan pemain-pemain berpengalaman seperti Cristian Gonzales. Namun kompetisi Liga 2 dihentikan setelah tragedi Kanjuruhan.
PSIM akhirnya harus menunggu beberapa tahun sebelum benar-benar kembali ke Liga 1. Mereka baru promosi pada musim 2024/25 setelah menjadi juara Liga 2 usai mengalahkan Bhayangkara FC. Cerita-cerita tersebut membuat laga melawan Persebaya seperti memiliki kisah tersendiri bagi klub-klub Liga 2.
Begitu juga PSS Sleman pada musim 2025/2026. Dalam laga peluncuran tim di Stadion Gelora Bung Tomo pada 19 Juli 2025, Super Elang Jawa mendapatkan undangan untuk beruji coba dengan Persebaya. Di pertandingan itu, PSS kalah 0-1 dari Persebaya. Akhir musim lalu, perjuangan PSS dengan dukungan suporter fanatiknya membawa mereka promosi ke Super League..
Meski begitu, tidak semua klub yang melakukan pertandingan uji coba dengan Persebaya sebelum liga dimulai kemudian langsung berhasil promosi. Persik Kediri pernah menghadapi Persebaya dalam laga Anniversary Game 2017 yang ke 90 tahun, Pertandingan berakhir imbang 1-1. Namun musim itu justru menjadi masa sulit bagi Persik. Mereka harus turun ke Liga 3 sebelum akhirnya bangkit sampai akhirnya berhasil promosi ke Liga 1 pada 2019. Artinya, laga melawan Persebaya bukanlah tiket otomatis menuju Liga 1. Ada faktor lain yang jauh lebih penting yaitu bagaimana sebuah klub membangun tim.
PSIS Datang dengan Persiapan yang Berbeda
Jika melihat kondisi PSIS saat ini, peluang promosi mereka tidak hanya bergantung pada sudah melalukan uji coba dengan Persebaya. Ada perubahan besar yang dilakukan manajemen Laskar Mahesa Jenar untuk menghadapi Championship musim 2026/27. Musim sebelumnya menjadi periode yang sangat berat bagi PSIS. Setelah terdegradasi, mereka bahkan sempat berada dalam situasi mengkhawatirkan karena hampir saja turun lagi ke Liga 3.
Namun persiapan untuk musim ini, PSIS terlihat lebih serius. Manajemen menunjuk Widodo Cahyono Putro sebagai pelatih kepala. Nama Widodo cukup menarik karena dia memiliki rekam jejak sebagai pelatih yang tahu cara membawa tim kasta kedua naik kelas. Ia pernah membawa Persita Tangerang promosi pada 2019. Kemudian mengantarkan Persijap Jepara kembali ke kasta teratas pada musim 2024/25. Terakhir, ia membawa Garudayaksa menjadi juara Championship pada 2025/26. Tiga promosi bersama tiga klub berbeda bukan catatan biasa. PSIS sepertinya tidak ingin lagi sekadar menjadi tim yang bertahan di Championship, Mereka ingin membangun tim yang memang punya target promosi kembali ke Super League.
Tidak hanya pelatih, PSIS juga memperkuat jajaran staf dengan mendatangkan Hamka Hamzah sebagai asisten pelatih. Pengalaman Hamka sebagai pemain bertahan dengan jam terbang tinggi diharapkan bisa membantu memperkuat lini belakang Laskar Mahesa Jenar. Di lapangan, beberapa pemain dengan pengalaman di Liga Indonesia juga didatangkan.
Jonathan Bustos menjadi salah satu nama yang paling menarik perhatian. Gelandang asal Argentina tersebut sudah mengenal sepak bola Indonesia setelah sebelumnya bermain untuk Borneo FC, PSS Sleman, dan Persela Lamongan. Di lini depan, PSIS mendatangkan dua mantan penyerang PSIM, Rafinha dan Deri Corfe. Sementara dari pemain lokal, hadir nama-nama seperti Agus Nova, Syahrian Abimanyu, Komang Tri, hingga M. Hamdie. Kembalinya Hari Nur Yulianto juga memiliki nilai tersendiri. Pemain asal Kendal tersebut bukan hanya menambah pengalaman, tetapi juga punya kedekatan emosional dengan klub.
Pemain naturalisasi asal Brasil, Fabiano Belltrame menjadi nama terbaru yang direkrut Laskar Mahesa Jenar. Meski sudah berusia 43 tahun, bek yang pernah memperkuat sejumlah tim elite di Liga Indonesia itu diharapkan mampu membuat lini belakang PSIS lebih menjadi lebih solid. Dengan komposisi pemain yang didatangkan jajaran manajemen seperti ini, target promosi ke Liga 1 untuk PSIS bukan hanya bualan pernyataan di konferensi pers.
Kembalinya Energi dari Tribun
Satu hal yang juga tidak boleh dilupakan adalah hubungan PSIS dengan suporternya. Dalam beberapa musim terakhir, hubungan antara manajemen dan kelompok suporter sempat mengalami berbagai masalah. Boikot dari Panser Biru dan Snex membuat atmosfer pertandingan kandang PSIS tidak seperti biasanya. Padahal, kekuatan PSIS selama bertahun-tahun tidak hanya berasal dari pemain di lapangan, tetapi juga dukungan besar dari tribun. Ketika hubungan mulai membaik dan boikot dicabut pada putaran kedua Championship musim lalu, atmosfer Jatidiri perlahan kembali.
Bagi klub sebesar PSIS, dukungan suporter bisa menjadi energi tambahan dalam perjalanan panjang satu musim. Terlebih, Championship bukan kompetisi yang mudah. Banyak pertandingan berjalan ketat dan faktor mental sering menjadi pembeda. Bukan Karena Persebaya, Tetapi Karena PSIS Sendiri Apakah hasil imbang melawan Persebaya menjadi tanda PSIS akan promosi? Mungkin iya jika dilihat dari cerita dan kebetulan yang pernah terjadi. Tetapi sepak bola tidak ditentukan oleh mitos.
PSIS tidak akan kembali ke kasta teratas hanya karena pernah bermain imbang dengan Persebaya. Mereka akan promosi jika mampu menjaga konsistensi, mengelola tekanan, dan menunjukkan kualitas selama satu musim penuh. Namun satu hal yang jelas, PSIS musim ini datang dengan pendekatan yang berbeda. Mereka memiliki pelatih dengan rekam jejak sukses membawa tim yang ditanganinya promosi, skuad yang lebih berpengalaman, manajemen dengan ambisi besar, serta dukungan suporter yang mulai kembali.
Jadi kalau nanti PSIS benar-benar kembali ke Super League, mungkin bukan karena “tuah Persebaya”. Melainkan karena untuk pertama kalinya setelah beberapa musim terakhir, PSIS terlihat benar-benar membangun sesuatu yang memang layak membawa mereka kembali ke kasta tertinggi.
Penulis: Andre Rizal Hanafi (X: @MudahBaper32)
