Rumput Stadion GBLA Bahkan Tak Layak untuk Ngangon Domba

Rumput Stadion GBLA Bahkan Tak Layak untuk Ngangon Domba
Font size:

Jika pernah berkunjung ke peternakan domba di daerah Garut atau kawasan pegunungan Jawa Barat, Anda akan melihat hamparan rumput hijau yang rimbun, tebal, dan terawat. Domba-domba di sana makan dengan tenang karena kualitas vegetasinya terjamin. Namun, jika domba-domba yang sama itu Anda bawa ke tengah lapangan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) saat ini, besar kemungkinan mereka akan melakukan aksi mogok makan. Pasalnya, rumput di sana jangankan untuk standardisasi sepak bola profesional, untuk sekadar jadi tempat ngangon domba pun rasanya terlalu menghina pencernaan sang ternak.

Melihat potret terbaru lapangan GBLA rasanya seperti melihat karpet catur dengan ciri khas kotak hitam dan putih yang berurutan. Tambal sulam di sana-sini, bidang tanah kering terkelupas yang mencolok, serta gradasi warna hijau keabu-abuan yang menyedihkan. Ini bahkan tidak layak disebut sebagai lapangan sepak bola; ini lebih ke mahakarya seni abstrak yang tercipta dari kombinasi kelalaian manajemen dan sikap "yang penting ada" dari PT Persib Bandung Bermartabat (PBB). Harusnya foto-foto lapangan GBLA saat ini masuk ke dalam ”Cultura PERSIB” di Grey Art Gallery di Jalan Braga. Ikonik!

Branding Elite, Fasilitas Sulit

Di dunia publikasi digital, mungkin manajemen Persib adalah juaranya. Acara launching tim dan pemain baru dikemas dengan konsep kelas Hollywood. Branding sebagai "Klub Elite Berstandar Asia" terus digembungkan dalam setiap rilis pers dan konten media sosial. Jersey dijual dengan harga premium dan citra korporasi dipoles seolah-olah Persib adalah Real Madrid-nya Asia Tenggara. Mimpi di siang bolong memang nikmat tiada duanya.

Namun, begitu kamera televisi menyorot pertandingan di atas lapangan GBLA, seluruh mimpi siang bolong itu terbangun dari tidurnya. Ada jurang pemisah yang sangat lucu sekaligus tragis antara apa yang dijual di media sosial dengan apa yang terjadi di lapangan. Manajemen begitu lihai memoles citra luar, tetapi gagap setengah mati saat harus mengurus hal yang paling fundamental dalam industri sepak bola: perawatan rumput lapangan.

Bagaimana bisa klub yang (katanya) punya nilai komersial terbesar di Indonesia, sanggup membayar gaji pemain bintang hingga miliaran rupiah, membiarkan tempat kerja utama para pemainnya tampak seperti lapangan sisa CFD Minggu pagi? Ini bukan lagi soal keterbatasan dana, melainkan skala prioritas yang salah kaprah dan disorientasi dari manajemen.

Di balik profesionalnya Persib di bawah korporasi, fondasi fisik dan manajerial Persib justru sedang disorot. Jagat media sosial belakangan ini diguncang oleh berbagai kritik tajam dari bobotoh yang mulai jengah. Mereka melayangkan tagihan nyata atas hak-hak mendasar sebuah tim sepak bola: lapangan yang layak dan fasilitas penunjang yang profesional. Frasa "Eta nu ngaran na tim besar dan profesional teh? Era atuh SIB!" menjadi tamparan keras yang membuktikan bahwa bobotoh tidak bisa lagi disuapi sebuah ilusi dan mimpi belaka.

Mendatangkan pemain asing dengan predikat top tier dan beberapa pilar tim nasional hasil naturalisasai, lalu menyuruh mereka berlari di atas rumput "catur" GBLA, adalah bentuk humor gelap tingkat tinggi. Bayangkan seorang pemain dengan nilai pasar belasan miliar rupiah harus mempertaruhkan engkel dan lututnya di atas tanah yang tidak rata dan rumput yang gampang terkelupas. Salah tumpuan sedikit, Anterior Cruciate Ligament (ACL) bisa putus, dan investasi miliaran rupiah manajemen melayang begitu saja. Mikir teu kadinya si manajemen?

Apakah manajemen PT PBB sedang menguji tingkat kebal cedera para pemainnya? Atau mereka menganggap pergerakan aliran bola bawah (passing & move) dalam taktik sepak bola modern bisa berjalan mulus di atas permukaan yang tidak rata? Mungkin manajemen sedang mencari inovasi baru dalam dunia sepak bola.

Alasan-alasan klasik seperti "masih dalam proses perawatan", "masalah transisi pengelolaan", atau "faktor cuaca (kemarau)" seharusnya sudah kedaluwarsa untuk dipakai. Suporter dan publik tidak mau tahu kerumitan birokrasi di belakang layar. Yang publik tahu, jika Anda berani mem-branding diri sebagai klub profesional dan bahkan level Asia, menyediakan lapangan yang memadai adalah syarat paling mendasar dan wajib untuk untuk dimiliki dan dipenuhi, tidak ada ruang negosiasi!

Sudahi Komedi Tambal Sulam Ini!

Kritik tajam dan satir ini dilemparkan bukan karena Bobotoh tidak cinta pada klubnya. Justru karena rasa cinta dan marwah nama besar Persib-lah, kelalaian manajemen dalam mengelola fasilitas utama seperti ini tidak boleh dimaklumi lagi. Malu rasanya ketika siaran langsung pertandingan disaksikan oleh penonton di kancah Asia, dan hal pertama yang disadari komentator luar negeri adalah betapa memprihatinkannya kondisi permukaan lapangan di Indonesia, terlebih Persib tentu menjadi representatif wajah Indonesia di kancah Asia, masa iya kualitas rumputnya kalah sama area lahan pakan domba di Garut?

Sang Pelatih Legenda, Bojan Hodak, bahkan sempat blak-blakan mengkritik kualitas rumput Stadion GBLA. Alih-alih belajar dari kritik tersebut, proyek revitalisasi lapangan pendamping dan pembongkaran rumput stadion utama justru terkesan dilakukan dengan sistem kejar tayang dan manajemen waktu yang buruk menjelang kompetisi dimulai. Manajemen PT PBB harus berhenti meninabobokan bobotoh dengan segala branding dan janji-janjinya. Lalu bobotoh juga perlu bangun dari tidur nyenyak dan nina bobo manajemen. Hentikan proyek perbaikan ala "kebakaran jenggot" yang hanya menambal rumput saat kritikan sudah telanjur viral di media sosial. Benahi tata kelola pitch maintenance dengan standar internasional yang sesungguhnya.

Mari kita lupakan sejenak semua kekurangan yang dihadapi klub lain, tidak perlu lagi mengomentari dan bahkan menghujat lalu membandingkannya dengan klub kita sendiri. Karena sesungguhanya yang membutuhkan kritik tajam adalah klub kita sendiri dan memang sudah seharusnya bobotoh berperan sebagai controller agar Persib sadar bahwa juara tiga kali berturut-turut bukan berarti tidak memikirkan hak-hak fundamental para pemain (fasilitas yang mumpuni) untuk menunjang performa.

Sebab jika kondisi rumput GBLA masih terus dibiarkan asal-asalan seperti sekarang, sebaiknya manajemen mengubah tagline klub. Jangan lagi jualan narasi "Klub Level Asia", karena jangankan bersaing di Asia, menyediakan rumput yang layak untuk area ngangon domba saja manajemen Persib masih belum lulus uji kompetensi.

Penulis: Edwin Primadi Ardibrata (Instagram/X: @edwinardibrata)

SCOUT PICKS GAMEWEEK 4 PANDIT FPL X HOOLIGANS
Artikel sebelumnya SCOUT PICKS GAMEWEEK 4 PANDIT FPL X HOOLIGANS
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait