Jangan Mimpi Timnas Indonesia Jadi Macan Asia

Jangan Mimpi Timnas Indonesia Jadi Macan Asia
Font size:

Akhir-akhir ini dunia persepakbolaan nasional kembali menjadi topik yang hangat untuk dibahas. Hal ini tidak lain karena peforma Tim Nasional (Timnas) Indonesia di bawah kepelatihan John Herdman yang dianggap belum sesuai harapan oleh beberapa penggemar skuad Garuda. 

Sebagian pencinta timnas menganggap John Herdman butuh waktu untuk meracik taktik yang pas untuk meningkatkan prestasi, dan sekarang masih terlalu dini untuk menilai Herdman gagal. Sementara, sebagian penggemar lainnya menganggap dengan skuad mewah berisi pemain-pemain diaspora yang bermain di kompetisi Eropa, seharusnya Herdman menampilkan permainan dan prestasi yang lebih baik dari para pendahulunya.

Para penggemar ini menganggap taktik yang dimainkan Herdman membosankan dan alami kemunduran. Padahal, skuad sekarang dianggap lebih lengkap dan mumpuni untuk menampilkan sepak bola yang lebih baik untuk para pecinta Timnas.

Perdebatan pro dan kontra tentang penampilan skuad Garuda saat ini sebenarnya bisa dipandang sebagai sesuatu yang positif, di mana kepedulian dan antusiasme pencinta sepak bola terhadap timnas sangat tinggi. Ini tentu baik untuk iklim industri sepak bola Indonesia, jika dibandingkan 10 sampai 15 tahun lalu. Pada era kegelapan itu, banyak pencinta sepak bola Indonesia tidak terlalu peduli dengan perkembangan Timnas Indonesia.

Rasanya, terakhir kali antusiasme tinggi pecinta sepak bola Indonesia terhadap timnas terjadi pada medio 2010 lalu. Ketika itu, skuad asuhan mendiang Alfred Riedl yang berisi pemain seperti Cristian ‘El Loco’ Gonzales dan Irfan Bachdim, bermain baik digelaran AFF Suzuki Cup 2010, meskipun berakhir antiklimaks dengan kalah di final melawan Malaysia.

Saat itu, antusiasme pencinta sepak bola Indonesia sangat tinggi hingga membuat tiket pertandingan sangat sulit didapatkan dan banyak orang yang menggelar nonton bareng setiap timnas bermain. Hampir sama dengan era beberapa tahun terakhir.

Pembeda dari 2010 dan sekarang adalah ekspektasi. Pada 2010 lalu, ekspektasi para pencinta timnas adalah menjadi juara Piala AFF, trofi yang sudah diidamkan cukup lama bagi penggemar sepak bola Indonesia. Sementara, untuk era saat ini ekspektasi penggemar adalah melihat timnas Indonesia bisa berbicara banyak di Asia bahkan hingga lolos Piala Dunia, selain juga masih mengimpikan untuk menjadi ‘raja’ di kawasan Asia Tengggara.

PSSI Hanya Jual ‘Mimpi’?

Ekspektasi publik terhadap Timnas Indonesia hari ini tidak terbentuk di ruang hampa. Hal itu telah dikonstruksi secara sistematis oleh federasi. Dalam kacamata Antonio Gramsci, apa yang dilakukan PSSI adalah praktik hegemoni yang klasik, yakni menguasai kesadaran publik bukan dengan paksaan, melainkan dengan konsensus.

PSSI berhasil menanamkan sebuah common sense baru di benak pecinta Garuda, bahwa lolos ke Piala Dunia adalah target jangka pendek yang bisa dicapai secara instan melalui perburuan pemain diaspora. Narasi ini terus diproduksi melalui konferensi pers, konten media sosial, dan pemberitaan media arus utama. Mimpi itu dijual secara masif, dan publik pun membelinya.

Di sinilah hegemoni bekerja. Ketika penggemar telah mengamini mimpi jangka pendek tersebut, kritik mereka pun menjadi jinak. Lingkaran kritik publik berhasil dikurung hanya pada ranah teknis, yakni menyalahkan formasi pelatih, mengkritik performa pemain, atau meributkan siapa yang harus dipanggil dan dicoret. Ini adalah kritik yang aman bagi kekuasaan.

Publik lupa bahwa kekalahan dan kemenangan timnas hanyalah gejala di permukaan. Akar masalahnya bersifat struktural dan berada di tangan federasi, di antaranya buruknya kompetisi usia dini, minimnya pelatih berlisensi, tidak adanya kurikulum sepak bola nasional yang konsisten, dan liga yang tidak sehat secara finansial serta tata kelola.

Gramsci menyebut ini sebagai kemenangan ideologi. Kelas yang berkuasa tidak perlu membungkam kritik, cukup mengarahkan kemana kritik itu harus ditujukan. Selama penggemar sibuk menyerang pelatih saat kalah dan larut dalam euforia semu saat menang, PSSI aman dari pertanggungjawaban jangka panjang.

Padahal, lolos ke Piala Dunia tidak sesederhana memanggil pulang pemain diaspora. Jalan pintas naturalisasi hanya akan menciptakan timnas yang bersifat artifisial. Itu adalah simulasi kemajuan. Jika pun berhasil, Indonesia hanya akan menjadi tim komet, yakni hanya sekali melintas di Piala Dunia, lalu kembali menjadi pecundang karena tidak memiliki fondasi untuk bertahan di level tertinggi Asia, apalagi dunia.

Jika benar-benar mencintai timnas, tugas kita bukan hanya menjadi suporter, tetapi menjadi oposisi intelektual bagi federasi. Kecintaan itu harus diwujudkan dengan membongkar hegemoni mimpi instan tersebut. Kita harus memaksa federasi untuk kembali pada target jangka panjang yang membosankan, tidak viral, dan tidak populer dengan membangun akar, bukan hanya memoles daun. Tanpa itu, selama kita terus merayakan sirkus yang disajikan federasi, kita sesungguhnya sedang melanggengkan hegemoni yang membuat sepakbola Indonesia tidak akan pernah benar-benar diperhitungkan.

Pembinaan Usia Muda Adalah Kunci

Dalam sepak bola, tidak ada proses yang instan, segala sesuatu harus dibangun melalui proses yang panjang dan bertingkat. Jika kita terus memuja jalan pintas naturalisasi, kita sedang menjebak sepak bola Indonesia ke dalam lingkaran ketergantungan.

Menurut Fernando Henrique Cardoso & Enzo Faletto dalam bukunya Dependency and Development in Latin America, dijelaskan bahwa sebuah entitas yang terus mengandalkan sumber daya dari luar untuk bertahan hidup, pada akhirnya akan kehilangan kemampuan untuk memproduksi sumber dayanya sendiri. Mereka akan menjadi lumpuh tanpa pasokan dari luar. Inilah yang sedang terjadi pada Timnas Indonesia.

Ketika PSSI menjadikan pemain diaspora sebagai solusi utama, bukan sebagai pelengkap, maka secara tidak sadar federasi sedang mematikan ekosistem lokal. Bukan tidak mungkin nantinya klub-klub Super League tidak lagi merasa perlu berinvestasi mahal untuk akademi, karena toh Timnas bisa diisi dari luar.

Pemain muda lokal kehilangan role model dan menit bermain, karena posisinya diambil oleh pemain impor yang instan jadi Warga Negara Indonesia (WNI). Pembinaan usia muda yang sudah sekarat, menjadi semakin tidak relevan. Kita sedang membangun timnas yang kuat secara fisik, tapi rapuh secara sosiologis. Ketergantungan ini menciptakan ilusi kemajuan. Kita terlihat maju di papan peringkat FIFA, tapi di dalam negeri, mesin produksi pemain kita justru berhenti berputar.

Ini seperti negara yang terus impor beras karena lebih murah dan cepat, sampai akhirnya sawah-sawah di dalam negerinya sendiri mengering dan petaninya alih profesi. Ketika negara pengimpor berhenti menjual, kita akan kelaparan.

Lalu bagaimana cara keluar dari jebakan ketergantungan ini? Jawabannya tidak ada di bandara kedatangan pemain baru, melainkan di lapangan-lapangan becek tempat anak-anak kita bermain. Jika apa yang dikatakan Fernando Henrique Cardoso & Enzo Faletto bicara soal bahaya impor, maka Teori Modal Sosial yang dikatakan oleh Robert Putnam menjelaskan mengapa pembinaan usia muda adalah satu-satunya jalan keluar.

Modal sosial adalah jaringan kepercayaan, norma, dan kompetisi yang membuat sebuah masyarakat bisa maju bersama. Dalam sepak bola, modal sosial itu adalah SSB di gang-gang sempit, turnamen antarkecamatan, pelatih kampung yang melatih tanpa digaji, dan kompetisi usia muda yang jujur. Pembinaan usia muda bukanlah sekadar mencetak pemain. Itu adalah cara kita menabung modal sosial.

Setiap lapangan desa yang dirawat, setiap kompetisi U-12 yang dijalankan dengan wasit yang adil, setiap pelatih lokal yang dikursuskan, adalah investasi sosial jangka panjang. Hal itu seharusnya menjadi pekerjaan PSSI lewat Asosiasi Provinsi (Asprov) yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Selama ini, jarang sekali kita mendengar peran Asprov dalam menjalankan pembinaan usia dini di berbagai daerah.

Jepang memahami ini. Program JFA 100 tahun mereka tidak dimulai dengan mencari pemain keturunan Jepang di Brasil. Mereka dimulai dengan mengirim ribuan pelatih ke sekolah-sekolah dasar dan mewajibkan semua klub untuk membina anak-anak di sekitarnya. Mereka menabung modal sosial selama 30 tahun, sebelum akhirnya memanen hasilnya berupa langganan Piala Dunia.

Indonesia melakukan sebaliknya. Kita ingin memanen tanpa pernah menabung. Kita ingin timnas yang hebat tanpa mau membangun desa-desa sepak bolanya terlebih dahulu. Jika ketergantungan ini tidak diputus sekarang, maka skenario terburuk yang ditulis di awal akan menjadi kenyataan. Kita akan lolos sekali ke Piala Dunia sebagai tim pinjaman, dirayakan satu negara, lalu kembali menjadi pecundang untuk 20 tahun berikutnya karena lumbung padi kita sendiri sudah terlanjur kosong.

Pandit Sharing oleh: Suherwinto

Tan Cheng Hoe, The Silent Killer dari Negeri Jiran
Artikel sebelumnya Tan Cheng Hoe, The Silent Killer dari Negeri Jiran
Dilema Taktis Skuad Garuda: Mengapa Formasi 4-3-3 Jadi Solusi Ideal
Artikel selanjutnya Dilema Taktis Skuad Garuda: Mengapa Formasi 4-3-3 Jadi Solusi Ideal
Artikel Terkait