Persib Bandung, Identitas Kolektif Urang Sunda di Sepak Bola Indonesia

Persib Bandung, Identitas Kolektif Urang Sunda di Sepak Bola Indonesia
Font size:

Persib baru saja menasbihkan diri menjadi jawara di kasta tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia. Gelar ini sangat spesial karena menjadi penggenap hatrick juara Maung Bandung. Namun, ada catatan menarik mengenai tim besutan Bojan Hodak yang rasanya melampaui semua raihan gelarnya, yaitu kesuksesan menjadi identitas kolektif bagi urang Sunda. Kesuksesan ini semakin berharga mengingat kian banyaknya klub yang mentas di kasta tertinggi tapi sama sekali tak punya basis pendukung di akar rumput.

Eksostensi Persib adalah salah satu contoh fenomena sosial yang menarik. Klub ini hadir sebagai entitas yang punya peran melebihi sebuah tim olahraga. Persib hadir sebagai ruang produksi identitas kolektif urang Sunda. Pangeran Biru mampu melampaui batas administratif yang dicantumkan di namanya, Bandung. Bukan sekadar tim asal Bandung, melainkan representasi urang Sunda secara umum di kancah sepak bola nasional.

Fenomena ini tidak hadir dengan sendirinya. Bandung, yang secara terang-terangan dicantumkan di nama klub, menempati posisi yang sangat penting dalam imajinasi budaya Sunda modern. Bandung bukan hanya menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, dan pendidikan, juga menjelma menjadi ruang produksi budaya Sunda kontemporer. Dari Bandung lahir banyak media berbahasa Sunda, seniman Sunda modern, hingga gerakan intelektual urang-urang Sunda. Dalam konteks itu, Persib memperoleh posisi strategis sebagai simbol budaya populer Sunda yang paling mudah diakses lintas kelas sosial.

Warna biru Persib perlahan berubah menjadi simbol identitas kolektif. Penggunaan bahasa Sunda dalam nyanyian dan baliho dukungan, pemilihan diksi ‘maung’ daripada ‘macan’ sebagai julukan,  hingga penyebutan istilah ‘bobotoh’ (berarti pendukung dalam bahasa Sunda) untuk menyebut pendukung  membangun kedekatan emosional yang sangat khas.

Penggunaan istilah lokal ini penting karena menunjukkan bagaimana identitas Sunda sengaja dipertahankan dalam kultur para pendukung Persib. Bahkan ketika sepak bola Indonesia semakin modern dan komersial, elemen-elemen lokal tersebut tetap dipertahankan sebagai penanda identitas klub.

Dalam perspektif sosiologi budaya, simbol-simbol semacam ini berfungsi menumbuhkan apa yang disebut Pierre Bourdieu sebagai ‘modal simbolis.’ Istilah ini mengacu pada kekuatan sosial yang lahir dari pengakuan kolektif terhadap simbol tertentu (Pierre Bourdieu, Language and Symbolic Power, [Cambridge: Harvard University Press, 1991], hlm. 170–171). Persib memiliki modal simbolis yang sangat besar di kalangan masyarakat Sunda. Mendukung Persib tidak hanya berarti menjalani kegemaran, tetapi juga mengarahkan diri pada afiliasi kultural.

Karena itu, Persib mampu melampaui batas administratif kota Bandung. Meski hampir setiap kabupaten dan kota berpenduduk mayoritas Sunda memiliki klub sepak bola sendiri, klub-klub tersebut tidak pernah benar-benar menggantikan posisi Persib sebagai simbol utama masyarakat Sunda. Kabupaten Bandung memiliki Persikab, Kabupaten Bogor memiliki Persikabo, Garut memiliki Persigar, Tasikmalaya memiliki Persikotas, Ciamis memiliki PSGC, dan lain-lain. Namun, klub-klub tersebut tetap berada di bawah bayang-bayang Persib dalam imajinasi kolektif masyarakat Sunda.

Persib bandung juara

Fenomena ini mengingatkan pada konsep ‘komunitas terbayang’ atau ‘imagined communities’ milik Benedict Anderson. Konsep ini mengacu pada identitas kolektif yang muncul akibat adanya simbol dan pengalaman bersama meskipun anggotanya tidak saling mengenal secara personal (Benedict Anderson, Imagined Communities, [London: Verso, 2006], hlm. 6–7).

Persib memungkinkan masyarakat Sunda dari berbagai daerah merasa menjadi bagian dari satu komunitas besar yang sama. Seorang bobotoh di Cilacap dapat merasa memiliki keterikatan emosional dengan bobotoh di Majalengka, Sukabumi, hingga Kuningan melalui simbol Persib.

Hal semacam ini relatif sulit ditemukan pada masyarakat Jawa. Tidak ada satu klub yang benar-benar menjadi simbol kolektif seluruh orang Jawa. Loyalitas sepak bola masyarakat Jawa justru cenderung terfragmentasi secara administratif dan historis kendati mereka punya kebudayaan yang sama.

Faktor luasnya wilayah yang punya penduduk mayoritas Jawa bisa menjawab pertanyaan ini. Masing-masing regional punya ciri khas kultural. Dalam satu regional justru timbul rivalitas di antara pendukung kesebelasan-kesebelasan di dalamnya. Bahkan rivalitas ini memperkuat identitas lokal.

Derby antara Persis Solo, PSIM Yogyakarta, dan PSS Sleman. Ketiganya adalah klub-klub dari wilayah bekas Kesultanan Mataram yang berkembang dengan identitas lokal yang identik, budaya monarki Jawa-Islam. Namun, fragmentasi yang muncul bisa dipahami karena secara historis wilayah Kesultanan Mataram dilanda konflik dan terpecah menjadi dua, tiga, dan kemudian empat kerajaan yang lebih kecil. Dalam perjalanannya, empat wilayah ini  beberapa kali terlibat perselisihan satu sama lain.  

Di wilayah bekas Karesidenan Banyumas muncul pula Derby Ngapak yang mempertemukan Persibas Banyumas, PSCS Cilacap, Persibangga Purbalingga, Persibara Banjarnegara, atau klub-klub lain yang ber-home base di wilayah dengan mayoritas orang-orang Jawa dengan budaya Banyumasan. Berbeda dengan Derby Mataram, fragmentasi yang muncul bukan disebabkan oleh alasan historis, melainkan absennya dominasi.

Jika urang Sunda punya identitas kolektif di sepak bola Indonesia berupa Persib Bandung, karena markasnya dan prestasi yang mentereng, wong Ngapak tak memiliki klub dengan kriteria kedua, prestasi yang mentereng. Persibas Banyumas memang bermarkas di wilayah pusat pendidikan dan kebudayaan wong Ngapak, Banyumas atau lebih khususnya Purwokerto. Namun, prestasinya memprihatinkan. Klub yang berdiri pada 1950 menghabiskan hampir seluruh umurnya untuk berkutat di kompetisi kasta ketiga dan keempat nasional.

Pestasi ‘paling mendingan’ di region ini adalah PSCS Cilacap. Klub yang bermarkas di Stadion Wijayakusuma pernah menjuarai Indonesian Soccer Championship B 2016. Laskar Nusakambangan cukup kompetetif di kompetisi kasta kedua dan ketiga nasional. Namun, prestasi PSCS tidak bisa disebut mentereng. Bahkan, mereka akhirnya absen di kompetisi nasional pada musim 2025-2026 karena konflik internal.

Klub-klub dengan basis pendukung masyarakat Jawa yang lebih prestasi tentu banyak, seperti PSIS Semarang, Persis Solo, Persijap Jepara, Persik Kediri, atau pun Persebaya Surabaya. Namun seperti yang telah diuraikan sebelumnya, masyarakat Jawa terlalu luas penyebaran dan beragam budayanya untuk disatukan.

Situasi itu berbeda dengan masyarakat Sunda yang relatif berhasil memusatkan identitas sepak bola kolektifnya kepada Persib. Salah satu faktor pentingnya adalah keberhasilan Persib membangun narasi bahwa mereka bukan hanya milik Bandung, tetapi milik seluruh urang Sunda. Narasi ini diperkuat oleh media lokal, komunitas bobotoh, hingga kultur populer Jawa Barat yang terus mereproduksi Persib sebagai simbol kebanggaan etnis.

Persib pawai

Kelompok-kelompok suporter seperti Viking Persib Club dan Bomber juga memainkan peran penting dalam pembentukan identitas ini. Viking Persib Club misalnya, berkembang bukan hanya sebagai komunitas suporter stadion, tetapi juga jaringan sosial masyarakat Sunda urban dan pinggiran. Atribut biru Persib menjadi penanda identitas sosial yang mudah dikenali di ruang publik. Pada banyak kasus,  seseorang bahkan dapat dikenali sebagai bagian dari komunitas kultural Sunda modern melalui atribut Persib yang dikenakannya.

Dalam konteks global, fenomena Persib memiliki kemiripan dengan beberapa klub yang membawa identitas etnis tertentu misalnya Athletic Club atau lebih dikenal dengan Athletic Bilbao. Klub yang didirikan para pelaut Inggris dan pelajar lokal di Bilbao,  berkembang menjadi representasi bangsa Basque di dunia sepak bola, bahkan mengusung semangat kemerdekaan.

Lebih jauh lagi, Athletic Club punya kebijakan perekrutan pemain yang ultraetnosentris. Pemain yang direkrut haruslah lahir di wilayah otonom Basque atau menimba ilmu di akademi sepak bola yang tersebar di wilayah otonom tersebut (Franklin Foer, How Soccer Explains the World, [New York: Harper Perennial, 2005], hlm. 37–55).

Menarik membayangkan apabila Persib berani mengembangkan identitas etnosentrisnya lebih jauh seperti Athletic Club. Bayangkan jika seluruh pemain Persib diwajibkan berasal dari Tatar Sunda atau merupakan hasil pembinaan akademi lokal Sunda. Persib akan menjadi representasi kesundaan yang jauh lebih radikal, bukan hanya pada level simbolik, tetapi juga struktur pemain dan filosofi klub.

Namun, romantisme semacam itu tentu tidak mudah diwujudkan. Sepak bola modern menuntut kompetitif tinggi yang sulit dipenuhi hanya dengan mengandalkan talenta lokal. Pembinaan akar rumput sepak bola Indonesia juga masih menghadapi banyak persoalan, di antaranya adalah ketimpangan dalam kelengkapan infrastruktur dan ketidakseriusan federasi dalam membina talenta muda. Bahkan dewasa ini, PSSI sangat bergantung pada pemanggilan pemain keturunan dalam rangka meningkatkan prestasi timnas.

Tanpa kebijakan ultraetnosentris ala Athletic Club pun Persib telah sukses menjadi representasi urang Sunda di dunia sepak bola Tanah Air. Di tengah masyarakat yang semakin cair akibat urbanisasi dan globalisasi, Persib memberi ruang bagi masyarakat Sunda untuk tetap merasa memiliki identitas kolektif yang sama. Bobotoh bukan hanya penonton sepak bola, melainkan juga menjadi bagian dari komunitas budaya yang membayangkan dirinya bersatu melalui warna biru dan nama besar Maung Bandung.

Penulis: Rifqi Iman Salafi

Jalan Sunyi Anak-anak Marginal Indonesia di Jagat Sepak Bola Dunia
Artikel sebelumnya Jalan Sunyi Anak-anak Marginal Indonesia di Jagat Sepak Bola Dunia
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait