Bukan Lagi “HAMPIR”, Akhirnya Indonesia Mengakhiri Penantian Panjang!

Bukan Lagi “HAMPIR”, Akhirnya Indonesia Mengakhiri Penantian Panjang!
Font size:

Peluit panjang berbunyi, menandakan berakhirnya pertandingan antara Indonesia dan Thailand. Setelah penantian yang begitu panjang, akhirnya tidak ada lagi kata “hampir” yang harus diucapkan oleh penggemar sepak bola Indonesia. Tidak ada lagi final yang berakhir dengan kekecewaan. Dan tidak ada lagi trofi yang lepas dari genggaman setelah begitu erat diperjuangkan.

 

Hari itu, Garuda akhirnya berhasil menyelesaikan turnamen sebagai juara! Namun, gelar ini tidak hanya bermakna sebagai sebuah trofi FIFA ASEAN Cup. Gelar ini memiliki makna yang jauh lebih dalam dari itu.

 

Sepanjang mengikuti perjalanan timnas Indonesia, salah satu penantian panjang itu dimulai sejak 2010. Kala itu, Indonesia sudah berada di partai final AFF. Namun sayangnya, Indonesia gagal meraih gelar juara setelah kalah dari Malaysia di final.

 

Enam tahun berselang, kesempatan meraih gelar itu kembali datang. Pada Piala AFF 2016, Indonesia kembali berhasil mencapai partai puncak. Namun sekali lagi, takdir belum berpihak. Di laga final, Indonesia kembali mengalami kekalahan. Kali ini, Thailand menjadi lawan yang mengubur harapan Indonesia setelah menang dengan agregat 3-2 dalam dua leg.

 

Tak hanya sampai di situ. Pada Piala AFF 2020, lagi dan lagi kesempatan itu datang. Seakan memberikan sinyal bahwa inilah waktu yang tepat bagi Indonesia untuk berpesta. Akan tetapi, semesta seperti memberikan pengingat bahwa gelar juara memang belum ditakdirkan untuk negeri ini. Indonesia kembali mengalami kekalahan dari Thailand di pertandingan final.

 

Begitu banyak rasa kecewa yang telah ditelan paksa oleh penggemar sepak bola Indonesia. Harapan dan rasa sabar seakan telah menggunung. Entah sudah berapa kali rasa kecewa dan kegagalan harus direlakan oleh penggemar sepak bola Indonesia. Seperti yang belum lama terjadi, ada dua harapan yang sepertinya begitu dekat dengan kita, namun ternyata patah lagi, gagal lagi, dan kembali mengelus dada untuk kesekian kalinya.

 

Yang pertama adalah kualifikasi Olimpiade 2024. Indonesia sudah berada di ujung perjalanan dan sangat berpeluang untuk lolos ke Olimpiade 2024. Namun, kembali, hasil yang didapat tidak sesuai dengan harapan.

 

Dan yang paling dekat, serta mungkin masih membekas di ingatan penggemar sepak bola Indonesia, adalah Kualifikasi Piala Dunia 2026. Harapannya begitu besar. Peluangnya terasa dekat dan mungkin untuk dicapai. Tapi sekali lagi, harapan itu masih tetap menjadi harapan. Indonesia gagal mendapatkan tiket ke Piala Dunia. Penggemar sepak bola Indonesia kembali dipaksa untuk bersabar dan berdamai dengan kegagalan yang sejak lama sudah hidup berdampingan dengan mereka.

 

Namun, bukan hanya masyarakat Indonesia yang harus kembali menelan kekecewaan. Para pemain yang kini berada di dalam skuad timnas juga merasakan pahitnya kegagalan tersebut. Sebagian besar dari mereka adalah pemain yang sama yang beberapa waktu lalu berjuang untuk membawa Indonesia ke Piala Dunia 2026. Mereka tahu bagaimana rasanya berada begitu dekat dengan sebuah mimpi, lalu harus melihatnya kembali kandas.

 

Malam ini, mereka kembali berada di lapangan. Kali ini, dengan kesempatan untuk memberikan akhir yang berbeda dari cerita sebelumnya. Namun pada momen ini, setelah pertandingan final malam tadi, semuanya berubah.

 

Kegagalan demi kegagalan dan julukan “raja runner-up ASEAN” itu telah resmi gugur. Di edisi perdana FIFA ASEAN Cup, Indonesia berhasil menjadi negara pertama yang mengukir sejarah sekaligus mengakhiri penantian panjang yang entah sejak kapan dinantikan. Indonesia berhasil keluar sebagai juara pada perhelatan pertama FIFA ASEAN CUP ini.

 

Gelar ini terasa sangat spesial karena diraih setelah melewati kegagalan dan kekecewaan yang begitu menumpuk. Terkadang, kita memang hanya perlu bersabar, berdoa, sekaligus terus berjuang hingga pada akhirnya apa yang selama ini diimpikan berhasil dicapai.

 

Kemenangan ini tidak hanya menjadi hasil dari turnamen FIFA ASEAN CUP semata, tetapi juga menjadi jawaban dari semua doa dan usaha seluruh skuad timnas serta masyarakat Indonesia. Dan sekarang, mari kita rayakan gelar juara ini dengan penuh suka cita.

 

Penggemar dan masyarakat Indonesia sangat layak untuk berada di posisi ini. Kepada orang-orang yang telah mengalami rasa kecewa begitu besar, kalian berhak dan layak untuk menikmati momen ini!

 

Terima kasih, Gaffer John Herdman dan staf kepelatihan timnas Indonesia. Terima kasih, Kevin Diks dan seluruh pemain yang telah berjuang. Terima kasih juga untuk para pendukung, baik yang datang langsung ke stadion maupun yang memberikan semangatnya lewat layar kaca. Penantian panjang dari kita semua akhirnya berbuah hasil yang begitu manis.

 

Dan tulisan ini akan diakhiri dengan sebuah kutipan yang akhirnya menjadi kenyataan:

Terlambat untuk melihat dinosaurus, terlalu cepat untuk melihat mobil terbang, tapi kita berada di waktu yang tepat untuk melihat timnas Indonesia menjadi juara!

 


 

Pandit Sharing oleh: Ari Alvitra.

 

Seseorang mahasiswa magister Studi Pembangunan di Institut Teknologi Bandung dan memiliki ketertarikan pada sepak bola, komunitas, serta berbagai isu sosial yang berkembang di sekitar sepak bola.

Twitter/X: @Alvitraaaaa

Instagram: ari_alvitra

 

Setelah Berkali-kali Terjatuh, Terus Bangun, Akhirnya Kita Juara!
Artikel sebelumnya Setelah Berkali-kali Terjatuh, Terus Bangun, Akhirnya Kita Juara!
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait