Kategori: Cerita

Gulir ke bawah untuk selengkapnya

Swatch di Antara Rolex, Plastik di Antara Emas

“Aku punya satu kelemahan besar. Ketika aku melatih sebuah tim, aku menjadi pendukung nomor 1 tim itu. Ini tidak terjadi [di Juventus]. Aku tidak pernah mencintai Juventus dan mungkin tidak akan pernah.”

Menyambut Renaisans Serie A

Jika calciopoli adalah masa kegelapan Serie A yang terus membuat para penggemarnya bernostalgia, maka kepindahan Cristiano Ronaldo dan perubahan logo adalah awal dari sebuah renaisans.

Oxlade-Chamberlain, Scrum-half Liverpool

Tak seperti pesepakbola profesional kebanyakan, Alex Oxlade-Chamberlain punya otot trapezius yang cukup besar, seperti milik atlet gulat atau rugbi.

Jangan Buat Keita Balde Sakit Hati

Di Inter, Balde bisa meningkatkan kemampuannya bahkan mencapai potensi terbaiknya selama, tentu saja, Inter tidak menyakiti hati Balde suatu hari nanti.

Kerja Keras Bagai Ander Herrera

Ander Herrera membuktikan bahwa pemain hanya butuh bekerja keras dan penuh totalitas untuk bisa dicintai oleh para suporter.

Sosok di Balik Kesuksesan Barcelona dan Man City

Ada banyak aktor di balik kesuksesan kesebelasan. Direktur sepakbola adalah salah satunya. Dari semua direktur sepakbola di dunia, Txiki Begiristain adalah salah satu yang terbaik.

Romantisme Kejayaan Arema di Pentas Sepakbola Indonesia

Sejak didirikan pada 11 Agustus 1986, Arema sudah menjadi medan magnet yang menyita perhatian publik Kota Apel yang gila bola itu.

Masa Sulit Luke Shaw Telah Lewat

Golnya ke gawang Leicester bisa menjadi penanda bahwa Shaw telah melewati masa sulitnya dan bersiap merintis kembali kariernya yang masih panjang.

Jalan Panjang dan Libur Pendek Benjamin Pavard

“Target pertamaku adalah membuat ayah dan ibuku bangga,” ujar Pavard. Aku meninggalkan mereka di usia 10 untuk tinggal di asrama sekolah sepakbola Lille. Itu sulit tidak hanya untukku, tapi juga untuk orang tuaku, karena aku anak mereka satu-satunya.”

Karakter, Pemimpin, Teladan

"Itu adalah tampilan paling tegas dari sikap tak mementingkan diri sendiri yang pernah kulihat di lapangan sepakbola," kata Ferguson mencerminkan karakter Roy Keane pada semifinal Liga Champions 1999.