Menikmati Surabaya Sebagai Rumah Sepak Bola Indonesia
17 Dec 2025Mencintai Surabaya tidak harus melulu dari kacamata sepak bola. Namun, Surabaya selalu mencintai dunia sepak bola seutuhnya tanpa memandang suku, agama, dan ras.
Mencintai Surabaya tidak harus melulu dari kacamata sepak bola. Namun, Surabaya selalu mencintai dunia sepak bola seutuhnya tanpa memandang suku, agama, dan ras.
Secara postur dan perawakan, Ulliam Barros memang terlihat tidak cukup menakutkan buat bek lawan. Dia bukan tipe striker yang sangar, berotot, atau terlihat mematikan di kotak penalti.
Ia wafat tumbang dengan wajah mencium rumput lapangan, sesaat setelah mencetak gol indah dari luar kotak penalti dan merayakannya dengan mengenakan nomor punggung kesayangannya: sembilan. Hari itu menjadi pertandingan, gol, dan selebrasi terakhirnya dalam
Super League sudah hadir dengan identitas visual yang mengusung semangat profesionalisme dan modernisasi. Namun, persoalan klasik masih muncul: tunggakan gaji pemain serta larangan suporter tandang yang belum dihapus.
Takdir seorang pemain pascablunder tidak ditentukan oleh fatalnya kesalahan, melainkan oleh faktor lain yang lebih irasional. Faktor irasional itulah yang terangkum dalam kalimat: "Ketika jersei klub lebih berat dari lambang Garuda".
Mungkin, kita semua sepakat bahwa Ousmane Dembele sangat layak mendapatkan Ballon d'Or. Perjuangannya tak cuma diukur dari keberhasilan ia di PSG, tapi jauh sebelum itu.
Pada akhirnya, sepak bola adalah permainan rakyat kecil yang telah diambil alih oleh kepentingan politik dan kapitalisme. Politik memanfaatkan sepak bola untuk membangun citra nasionalisme dan stabilitas.
Dalam pertandingan resmi yang sudah dijalani, di Super League dan playoff AFC Champions League (ACL) Two, pola permainan Maung Bandung masih jauh dari kata solid. Yang muncul justru frustrasi. Frustrasi bagi pemain, pelatih, dan tentu saja bobotoh.
Mungkin langkah pertama tidak harus membeli klub seluruhnya. Tapi membeli kembali hak untuk bersuara. Dan siapa tahu, suatu hari nanti, Panser Biru tak hanya mengisi tribun, tapi juga mengisi ruang rapat direksi, membawa semangat tribun ke meja keputusan.
“Ages quod agis” yang berarti “lakukan apa yang sedang kamu lakukan”. Pepatah Latin ini mengandung pesan untuk berfokus dan mencurahkan perhatian penuh pada tugas yang sedang dijalankan, tanpa terganggu oleh hal-hal lain. Prinsip itu yang dijalankan oleh
Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan tulisanmu ke:
sharingpandit@gmail.com
1. Lengkapi dengan biodata singkat (nama lengkap, alamat, dan pekerjaan) dan akun Twitter di bawah tulisan.
2. Minimal 650 kata, ditulis pada file Ms Word.
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll).
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak untuk dipublikasikan).
5. Jika tidak ada balasan atau belum dimuat dalam 3 hari, berarti mohon maaf naskah anda belum dapat kami publikasi.