Sejarah Fair Play yang Melahirkan Aturan Poin Fair Play
29 Jun 2018FIFA konsisten menggemakan azas fair play dalam sepakbola sejak 1970.
FIFA konsisten menggemakan azas fair play dalam sepakbola sejak 1970.
Dalam dua edisi Piala Dunia berbeda (1958 dan 1986) yang berakhir pada 29 Juni itu, Brasil dan Argentina sukses menggondol trofi Julles Rimet.
Jepang lolos ke babak 16 besar setelah menang atas Senegal dalam hitung-hitungan peraturan fair play. Permasalahannya, cara mereka bermain melawan Polandia justru dianggap mencederai semangat fair play itu sendiri.
Yang menjadi salah satu sebab masih primanya penampilan Essam El-Hadary di usia tua adalah karena ia tak pernah berhenti bermimpi dan berjuang meraihnya. El-Hadary adalah seorang pekerja keras. Ia selalu lapar dengan mimpi dan prestasi.
Hanya ada dua penjaga gawang dengan sepuluh nirbobol di putaran final Piala Dunia. Di antara keduanya, hanya Barthez yang pernah juara.
Ronaldo berhasil menjawab banyak kritik tentang produktifitas golnya yang menurun, dengan satu gol monumental yang dicetaknya pada pertandingan melawan Ghana di Piala Dunia 2006.
Sterling yang sebelumnya ditempa oleh kerasnya kehidupan di London, berhasil membuktikkan dirinya sebagai pemenang dengan mewujudkan mimpinya di tanah Inggris.
Gol Steaua dianulir, protes, lalu WO, lalu Piala Rumania dikasih ke Dinamo, lalu esoknya pemerintah intervensi bilang harusnya gol, lalu trofi jadi untuk Steaua, lalu dua tahun kemudian Steaua malu, memberi trofi ke Dinamo, tapi Dinamo menolak.
Sepakbola telah membuat Hernan Dario Gomez mencicipi bagaimana rasanya terpuruk di titik paling rendah dan berbahagia di puncak tertinggi. Bagi Gomez, sepakbola tak ubahnya kehidupan itu sendiri yang telah mengakar kuat dalam dirinya.
Piala Dunia 1950 menjadi Piala Dunia pertama paska Perang Dunia II. Brasil keluar sebagai penyelamat kejuaraan sepakbola terbesar ini dengan menawarkan diri menjadi tuan rumah.